Handayani, Dokter Gigi Penyuka Dunia Pemasaran

Setiap orang tentu sudah punya jalannya masing-masing sesuai yang digariskan Tuhan YME. Takdir baik ataupun buruk memang tak bisa dihindari. Kita hanya bisa sabar dan pasrah dengan ketentuan Yang Maha Pencipta. Namun, inilah pentingnya berbaik sangka kepada Tuhan.

Direktur Niaga PT Garuda Indonesia Tbk, Handayani mengatakan, orang tua sejak kecil telah menanamkan prinsip kerja keras dengan sungguh-sungguh dengan harapan hasil yang akan diraih akan maksimal. Jiwa kompetisi juga tertanam kuat dalam hatinya karena orang tua mendorongnya aktif di banyak cabang olah raga.

“Kami ikut berbagai pertandingan. Orang tua saya juga suka olah raga. Saya hampir bisa semua olah raga. Waktu saya SD kelas 6 dan SMP kelas 1, saya juara kompetisi tenis nasional Indonesia,” katanya.

Wanita yang akrab dipanggil Hanny ini juga menyadari betapa pentingnya arti jejaring dalam perjalanan kariernya. Ia memang sudah aktif di berbagai organisasi sekolah sejak SMP, seperti OSIS dan Senat saat kuliah. Hingga saat ini, jaringan pertemanan itu masih terawat dengan baik.

Tak heran, ia hanya sekali melamar pekerjaan, yakni selepas lulus dari Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjajaran, Bandung. Selanjutnya, ia mendapat posisi baru dari jejaring yang dimilikinya. Selama di perbankan, ia juga aktif di organisasi professional seperti Asosiasi Kartu Kredit Indonesia.

Handayani

Berlatar belakang dokter gigi, ia akhirnya memilih dunia pemasaran yang lebih menarik hatinya. Aktivitas tersebut memang membuatnya bisa bertemu dengan banyak orang. Tahun 1988, saat pemerintah mengumumkan Paket Oktober 88 (Pakto 88) menjadi awal mula dirinya terjun di industri perbankan.

“Saat itu, dimana perbankan tumbuh subur, maka disanalah saya memilih mengembangkan karier. Passion saya lebih memilih berhubungan dengan orang dalam keadaan sehat daripada sakit,” ujarnya.

Hanny juga percaya perjalanan karier akan lebih mulus dengan dukungan mentor yang bagus. Ia beruntung memiliki mentor berkelas seperti Rudy N. Hamdani saat bergelut di industri perbankan. Ketika itu, sang mentor cukup terkenal di bidang consumer banking. Kemampuannya di bidang consumer pun semakin terasah.

Ia tak lantas menepuk dada saat kariernya melaju mulus. Tawaran jabatan baru di bisnis yang berbeda pun tak lantas diterima. Ia selalu mengukur diri, dari segi kompetensi, skill teknis dan nonteknis, harus cocok dengan peluang yang akan diterima.

Itulah kenapa, dia selalu berusaha meningkatkan kemampuan pemasaran lewat membaca, kursus di dalam maupun luar negeri, pelatihan, dan update informasi terkini. Dunia marketing yang sangat dinamis, sejalan dengan kondisi lingkungan dan produk yang beragam, menuntutnya terus memperbarui kompetensi.

“Saya banyak juga mencari kursus yang benar-benar saya butuhkan, seperti ilmu tentang asuransi, financial planning. Meski menurut perusahaan tidak perlu, tapi secara pribadi saya membutuhkannya, saya akan ikut dengan biaya sendiri,” katanya. (Reportase: Herning Banirestu)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)