Handi Kurniawan, Pentingnya Kualifikasi Internasional Hadapi AEC 2015

Handi Kurniawan, nama ini sudah tak asing lagi sebagai pakar Sumber Daya Manusia di berbagai forum. Pendiri East West Talent ini memang memiliki spesifikasi di bidang talent management, career management, leadership development, dan cross cultural management.

Ia memiliki banyak pengalaman tinggal dan bekerja di berbagai benua dan budaya yang memungkinkannya bertemu dan bekerja sama dengan profesional lintas negara. Dari situlah, akhirnya Handi tergerak hatinya untuk membagikan segala pengalaman yang pernah didapatnya lewat buku Go Global : Guide to a Succesful International Career.

Seperti apa latar belakang pria berwajah oriental ini hingga sukses menelurkan karyanya itu? Berikut cuplikan reportase Gustyanita Pratiwi dari SWA Online:

IMG_5481

Apa yang melatarbelakangi pemikiran Anda untuk go global?

Saya tinggal di Tegal, daerah Pemalang. Waktu itu saya memilih SMA di Satya Wacana Salatiga. Motivasi saya untuk masuk ke SMA tersebut adalah ada pertukaran pelajar ke Australia. Waktu saya kecil, belum ada saudara, teman, atau orang tua yang pergi ke luar negeri. Jadi ke luar negeri itu masih jadi satu kemewahan yang luar biasa. Dan saya lihat bahwa di sekolah tersebut ada pertukaran pelajar ke Australia.

Walaupun seleksinya ketat, tapi itu yang membuat saya termotivasi. Dari pelajar yang tadinya biasa-biasa saja, go with the flow, jadi punya motivasi yang kuat bahwa saya bisa. Singkat kata, akhirnya saya bisa mendapat pertukaran pelajar ke Australia tersebut.

Kemudian saya masuk ke Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Dengan berjalannya waktu, saya perlu terus belajar dan meningkatkan jenjang pendidikan. Jadi sambil bekerja, saya bisa ambil MBA di University of Western, Australia.

Setelah itu dapat beasiswa lagi di Hawai, AS. Kenapa saya perlu kasih tahu hal ini? Karena saya merasa pendidikan ini sangat penting. Dan saya lihat orang Indonesia itu banyak sekali yang berpotensi tapi tidak ada akses. Makanya mereka tidak bisa melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.

Periode yang membuat insight internasional saya begitu kena dan meluas adalah pengalaman kerja selama lebih dari 12 tahun di perusahaan-perusahaan multinasional, seperti General Electric, Citibank, Standard Chartered Bank, dan Sinar Mas.

Dalam kurun 12-13 tahun terakhir, saya dapat kesempatan untuk tinggal dan bekerja di negara-negara lain, khususnya di Singapura, Malaysia, Taiwan, Hawai, Beijing, Hong Kong, total kurang lebih sekitar 5 tahun. Inilah yang sangat membuka wawasan saya. Dan dinamika dari bekerja di dunia internasional ternyata sangat berbeda dengan bekerja di Indonesia.

Saya sendiri lulusan lokal kemudian masuk ke perusahaan seperti General Electric, dari management trainee program. Di situ kelasnya ada sekitar 5-6 dan pesertanyabanyak yang berasal dari negara lain. Di kelas pertama, orang Indonesia malu-malu pada waktu ada diskusi. Sementara teman-teman dari negara lain begitu agresif, mengemukakan pendapat, dll. Saya pikir, aduh kapan saya dapat gilirannya. Kemudian karier ini terus dirintis, tambah naik-tambah naik. Di perusahaan tersebut nasionalisme orang-orang yang bekerja di perusahaan ini sedemikian divers.

Kemudian dengan majunya perkembangan ekonomi, sosial, politik, dan kondisi Indonesia yang lebih diperhitungkan di dunia internasional, saya pikir saya perlu membagi pengetahuan dan skill saya supaya semakin banyak lagi orang-orang Indonesia yang lebih siap dalam menghadapi era ASEAN Economic Community (AEC) dan globalisasi.

Seperti apa data pendukungnya?

Kita adalah negara nomor 16 terbesar di dunia dari segi GDP menurut World Bank. Kita punya jumlah penduduk nomor 4 terbesar di dunia. Artinya apa? Negara kita jadi target market yang empuk sekali untuk dimasuki produk-produk dari luar negeri.

Tenyata hanya 22% dari populasi tersebut yang disebut skill workers. Di masa depan, harapannya Indonesia pada tahun 2030 itu menjadi negara nomor 7 terbesar di dunia. 135 juta orang akan menjadi middle class ke atas (daya belinya akan tinggi sekali) dan kita memerlukan 113 juta tenaga kerja yang terdidik dan terlatih. Masalahnya adalah sumber daya manusianya.

Apa kesempatan dan tantangannya?

Di tahun 2015, jumlah penduduk di ASEAN 400 juta orang. 42% itu ada di Indonesia. Ternyata dari segi pendidikan, di Indonesia itu 70% penduduknya masih bersekolah di tongkat SMA ke bawah. Figur yang sangat mencengangkan. Dari segi pendidikan, ini ada riset yang menyatakan bahwa Indonesia itu ranking pendidikannya nomor 40, sedangkan Singapura nomor 3, Thailand 35 diikuti Brazil dan Meksiko.

Pendidikan di Indonesia memang sangat-sangat perlu ditingkatkan. Sebanyak 84% industri manufaktur merasa bahwa untuk memenuhi kebutuhan manajemen, masih sangat susah. Lalu 69% untuk jenis-jenis pekerjaan yang di luar itupun masih sangat susah. Ini juga sering disebutkan oleh forum-forum bahwa produktivitas SDM Indonesia perlu ditingkatkan. Ketimpangan atau equality juga perlu lebih dimeratakan. Selain itu juga infrasruktur Indonesia, dan yang paling penting adalah human capital.

Bagaimana cara kita untuk bersaing di era globalisasi nanti?

Menurut opini saya, kalau mau bersaing di era globalisasi ini di luar skill, yang pertama adalah orang-orang Indonesia perlu global mindset. Bukan hanya berpikir domestik, tapi juga berperan aktif di pergaulan internasional. Lahan bermain kita sudah lahan global.

Jangan hanya jadi pemain lokal. Kenapa? Kalau kita hanya fokus ke dalam negeri, kita akan berada dalam comfort zone saja. Memang enak sih. Tapi ketika nanti di AEC, proffesional workers sudah lebih bisa masuk dengan begitu gampangnya, kita bisa kehilangan competitive advantage. Yang kedua adalah membangun technical skill, punya sertifikasi-sertifikasi yang diakui secara internasional, dan yang paling penting ada istilah cross culture manajement. Ini adalah bagaimana kita bisa berinteraksi dengan lebih efektif dengan orang-orang di negara lain. Dan yang terakhir adalah international communication management.

Dari situlah akhirnya Anda tercetus buku Go Global?

Pada saat saya menulis buku Go Global, maka saya samakan dulu persepsi mengenai go global seperti apa. Karena buku ini sudah terbit 26 Mei 2014. Dan bagi orang-orang yang sudah membaca, kebanyakan yang beli adalah mereka yang mau berkarir di luar negeri. Memang istilah global adalah pertukaran barang, jasa, perdagangan, ide, budaya, lintas negara. Tapi di sini saya mau tekankan lagi bahwa ini lebih relevan kepada orang-orang Indonesia yang meskipun tinggal di dalam negeri, tapi dia harus punya kualifikasi internasional supaya tidak kalah dan terus kompetitif.

Dan yang terakhir adalah sanggup bekerja sama dengan orang lintas budaya dan negara. Buku ini bukan hanya berisi tip dan trik belaka, tapi juga tip prakstis dan contoh mendapatkan peluang, exposure dan sukses dalam berkarir internasional.(EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)