Hanief Ardiasyah, Bos GlaxoSmithKlien di 10 Negara | SWA.co.id

Hanief Ardiasyah, Bos GlaxoSmithKlien di 10 Negara

Sudah satu semester ini, Hanief Ardiasyah, CFO GlaxoSmithKlien (GSK) Indonesia, dipercaya menjabat Direktur Keuangan Regional GSK wilayah Asia Pasifik. Itu berarti dia membawahkan anak usaha GSK di 10 negara, termasuk Australia, Selandia Baru, Korea Selatan dan Taiwan. “Sangat challenging. Kini saya memegang tanggung jawab 10 kali lipat besarnya, sementara bisnis GSK Indonesia dibanding negara AsiaPasifik lain termasuk paling kecil,” ujar pria kelahiran London, 1976 ini.

Tak salah bila dia menyebut challenging. Kini Hanief memimpin 14 anak buah di level regional, di antaranya sembilan Country CFO, yang semuanya berbeda kebangsaan. “Bahkan, di antara mereka ada yang lebih senior daripada saya,” ungkap pria yang sebelumnya berkarier di Unilever ini.

Sebagai orang Asia pertama di posisinya, Hanief tidak merasa canggung. Dia dipromosikan karena dianggap berhasil menerapkan strategi keuangan di Indonesia saat GSK melakukan investasi besar-besaran. Dia sanggup membangun tim keuangan yang solid.

GSK kini sedang tumbuh dan banyak merekrut talenta terbaik Asia. “GSK sangat serius mengelola talent,” ujarnya. Dikatakan Hanief, dia bukan satu-satunya ekspatriat CFO di GSK. CFO GSK Kor-Sel adalah orang China, CFO di Australia dari Afrika Selatan, lalu CFO Filipina orang Pakistan. Mereka semua di bawah pimpinan Hanief.

Hanies Ardiasyah

Hanief Ardiasyah, CFO GlaxoSmithKline Asia Pasifik

Kuncinya, bisa fleksibel memimpin. Misalnya, anak buah saya, CFO dari Polandia yang ditempatkan di Thailand, secara watak keras dibanding yang dari Malaysia. Saya harus fleksibel, kapan harus lebih firm, dibanding orang Asia yang harus lebih persuasif,” katanya. Kemampuan itu menurutnya didapat dari pengalaman. Ketika berkarier di Unilever, Hanief juga dipindah-pindah sehingga kaya pengalaman. Selama 14 tahun di Unilever, dia hanya empat tahun di Indonesia, 4,5 tahun di Singapura, dan 5,5 tahun di Inggris.

Pengalaman paling berkesan di posisinya sekarang, dia bisa menyelesaikan proyek dalam waktu pendek dengan cara remote sehingga tidak selalu harus ke London. Proyek yang diestimasikan selesai enam bulan, bisa diselesaikannya dalam tiga bulan. “Mungkin dari seluruh anak buah saya, baru dua orang yang ketemu face to face,” tutur Hanief menjelaskan pola kerjanya.

Hanief selalu mencoba mengembangkan dirinya. Untuk bisa mencapai posisi sekarang, menurutnya, yang penting terus mengasah kompetensi, baik melalui class room maupun secara online. “Di GSK menggunakan sistem seperti di Unilever dengan konsep 70:20:10, yaitu 70% on the job, 20% melalui coaching, dan 10% melalui classrom style,” katanya menjelaskan.

Hanief juga mengungkap pekerjaannya sekarang butuh banyak waktu karena harus interaksi dengan London, dengan 10 negara di bawahnya, juga dengan mitra bisnis di Singapura sebagai kantor regional. Kuncinya, tetap di work life balance. Akhir pekan selalu dia peruntukkan bagi keluarga. “Pekerjaan saya butuh fitnes level tubuh yang tinggi, saya harus menjaga dengan olah raga,” tutur lulusan SMAN 82 Jakarta yang menyelesaikan kuliah di Malaysia ini.

Salah satu teladan Hanief adalah ayahnya sendiri, M. Fadhol Arovah, yang pernah bekerja di Islamic Development Bank. “Saya sangat mengagumi ayah saya. Ayah saya dari Pesantren Gontor, kemudian S-1 ke Madinah, nekat ke Inggris. Tinggal di sana 14 tahun, kemudian 14 tahun di Arab Saudi,” tuturnya.(*)


Editor : Herning Banirestu
Journalist : Bernadeta Pintarti

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Fee Based Income Tumbuh, Laba Bersih Danamon Rp2,5 Triliun

Danamon berhasil membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp 2,5 triliun untuk sembilan bulan pertama tahun 2016. Terjadi pertumbuhan sebesar...

Close