Hanief Ardiasyah, Kesuksesan Diaspora Indonesia untuk GSK

Pria kelahiran London ini merupakan salah satu diaspora Indonesia yang sukses. Kiprahnya sebagai regional CFO Asia Pacific untuk perusahaan farmasi multinasional, GlaxoSmithKline (GSK), mampu memberikan kinerja keuangan terbaiknya. Sebagai orang Asia pertama di posisinya, Hanief Ardiasyah memegang tanggung jawabnya dalam menerapkan strategi keuangan di 12 negara di wilayah Asia Pasifik.

Salah satu talenta terbaik Asia ini menerapkan gaya kepemimpinan yang fleksibel dalam menjalankan tanggung jawabnya. Beberapa prestasi dalam membangun dan mencapai target GSK berhasil ia wujudkan untuk pengembangan perusahaan. SWA Online berkesempatan melakukan wawancara dengan dirinya membahas karier dan harapan lebih jauh lagi atas peran diaspora Indonesia.

Hanief Ardiasyah (bawah, dua dari kiri) & tim Finance Director dari 12 negara.

Saat ini posisi apa yang Anda pegang dan bertanggung jawab atas apa saja?

Saat ini saya menjabat sebagai Regional CFO Asia Pacific GlaxoSmithKline (GSK). GSK adalah perusahaan Pharmaceuticals Multinasional terbesar di Inggris Raya dan juga menjadi salah satu terbesar di dunia.

Perubahan per 1 Januari 2017 adalah perluasan wilayah Asia Pacific untuk GSK, termasuk China dan Hong Kong. Sehingga jumlah negara di bawah tanggung jawab saya dari segi finance ada 12 yaitu Australia, New Zealand, Philippines, Thailand, Vietnam, Singapore, Malaysia, Indonesia, Korea Selatan, Taiwan, China dan Hong Kong.

Bagaimana Anda melihat tanggung jawab yang diberikan saat ini?

Ini menjadi tanggung jawab yang cukup rumit karena mendukung perusahaan dalam mewujudkan tujuan bisnisnya serta mencapai target keuangan dan memimpin organisasi finance GSK di Asia Pacific yang berjumlah 180 orang.

Apa tantangan yang anda hadapi di posisi sekarang ini?

Secara garis besar tantangannya adalah mencapai target finansial perusahaan melalui kinerja finansial di masing-masing 12 negara di Asia Pacific. Setiap negara memiliki tantangan yang sangat berbeda, negara berkembang seperti Indonesia sangat beda dengan tantangan yang dihadapi Australia. Namun untuk mencapai target Asia Pacific, kekurangan di satu produk atau negara perlu ditutup dari negara lain dan sebagainya.

Peran saya di sini adalah mendukung pencapaian target pertumbuhan di mana persaingan yang semakin ketat. Selain itu, secara bersamaan memastikan bahwa GSK bisa menekan biaya di tingkat yang kompetitif. Demi mencapai target ini, saya dan tim perlu lebih lincah dalam mengalokasikan sumber daya untuk hasil yang lebih optimal.

Prestasi apa saja yang sudah Anda raih dalam dua tahun terakhir?

Saya baru berada di posisi ini 1,5 tahun (sejak 1 Januari 2016). Pencapaian yang telah saya raih antara lain berhasil mendukung bisnis dalam melampaui target financial Asia Pacific di tahun 2016 melalui pertumbuhan sales maupun dari segi keuntungan (operating profit) perushaaan. Saya juga berhasil melakukan restrukturisasi organisasi Finance dengan melakukan perampingan sebesar 10% dan membentuk sebuah tim planning di Kuala Lumpur untuk membantu proses planning & forecasting 12 negara secara standar dan efisien.

Menaikkan Engagement Score Organisasi Finance Asia Pacific dari 58% di tahun 2015 menjadi 76% di tahun 2016. Skor ini lebih tinggi dari skor Global Finance GSK yaitu 73%. Saya dan tim juga menciptakan iklim kerja yang menarik dan multikultural dengan mendukung perpindahan lebih dari 20 pegawai antar instansi dan antar negara. Lainnya adalah berhasil mengintegrasikan China dan Hong Kong ke dalam Asia Pasifik.

Anda salah satu Diaspora Indonesia, menurut Anda feedback apa yang harus dilakukan pemerintah Indonesia agar kolaborasi diaspora dengan pemerintah Indonesia dalam dunia usaha dapat berjalan bagus?

Kedutaan besar Indonesia di masing-masing negara memiliki peran besar, tidak hanya dalam menarik investasi asing ke Indonesia tetapi juga dalam mempromosikan perdagangan Indonesia ke luar negeri.

Diaspora Indonesia saat ini tidak hanya karyawan perusahaan multinasional yang berkedudukan di luar negeri saja, tetapi juga entrepreneur yang melihat peluang bisnis. Mungkin masalah mereka adalah terbatasnya networking atau modal investasi untuk mendukung gagasan mereka. Peran kedutaan ini yang dapat bertindak sebagai penghubung untuk mempertemukan informasi, instansi (pemberintah maupun swasta) dan investor secara lebih giat. Hal ini butuh pengelolaan secara memadai dari orang-orang dengan pola pikir bisnis yang dapat berinterkasi dengan berbagai lapisan bisnis. Dari mulai bisnis kecil atau hingga perusahaan multinasional.

Apalagi yang sebaiknya dilakukan para diaspora sendiri agar bisa berkontribusi terhadap pembangunan di Indonesia?

Diaspora yang bekerja sebagai professional agar terus berprestasi untuk mengharumkan nama bangsa. Namun tak lupa untuk membantu berinteraksi dengan masyarakat Indonesia dan KBRI setempat. Seperti yang diungkapkan mantan president Amerika Serikat, John F Kennedy, “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.”

 

Reportase: Herning Banirestu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)