Harry Kartono, Petualang di Dunia IT

Sejak terjun di dunia IT 13 tahun lalu, Harry Kartono sudah malang melintang bekerja untuk beberapa perusahaan IT terkemuka. Metrodata, Epson, Logitech, Microsoft Indonesia dan Samsung adalah perusahaan-perusahaan yang pernah ia singgahi. Kini, ia didapuk menjadi Country Manager Rapoo Indonesia. Rapoo merupakan perusahaan yang mendedikasikan diri memberikan produk peripheral nirkabel yang sempurna dan mutakhir untuk para penggunanya di seluruh dunia.

Mendapat tawaran baru menjadi tantangan tersendiri baginya. Pun dengan tawaran dan tantangan yang datang untuk mengembangkan Rapoo di Indonesia. Baginya, suatu tantangan sendiri untuk melakukan sesuatu yang bukan sekedar berjualan produk. Ia berharap apa yang dikerjakannya juga membawa nilai-nilai dan bisa berkontribusi terhadap tanah air.

Dengan semangat, pria ini membagi petualangan kariernya kepada SWA. Berikut petikan wawancara dengan reporter SWA selepas acara Media Launch; Rapoo “The Ultimate Wireless”.

Bisa diceritakan perjalanan karier Anda seperti apa?

Saya mulai terjun di dunia IT sebenarnya tahun 2000. Di Metrodata saya  kerja 7 tahun. Jadi saya mulai di business representative untuk semua produk Metrodata, di Jakarta. Saya terakhir dipromosikan sebelum pindah ke perusahaan berikutnya di level General Manager di Epson Bussiness. Setelah itu saya resign, ditawari untuk kerja di Logitech, Singapura, selama hampir tiga tahun saya di Logitech sebagai Country Manager Logitech pertama di Indonesia.

Jadi saya establish bisnis termasuk marketingnya di Indonesia. Setelah itu, saya ditawari untuk pindah ke Microsoft Indonesia sebagai Retail Sales and Marketing untuk Software Retail dan juga produk karya. Waktu itu saya juga menyiapkan produk yang belum launching, seperti Xbox untuk resmi di Indonesia. Tetapi pada saat berjalan, ada tawaran lebih menarik setelah tiga tahun juga, di Samsung Indonesia sebagai Head of Product Marketing. Itu tahun 2012 sampai Februari akhir di 2013, karena ada yang lebih menarik lagi. Saya pindah ke Rapoo.

Apa yang membuat Anda tertarik?

Karena Rapoo ini ditawarkan ke saya ini, bisa mendengar produk apa yang cocok dengan konsumen Indonesia. Kalau misalnya selama karier saya, lebih banyak produk di-establish, diproduksi lebih dulu baru kemudian ditawarkan ke Indonesia. Itu yang membuat beda di Rapoo karena manufacturing, ada R & D. Saya bisa memberikan feedback sebelum produk tersebut di-launch di Indonesia dan mungkin ke depan produk yang cocok di Indonesia akan didengar oleh R & D dan ia juga akan melihat tren di Indonesia seperti apa. Itu sangat challenging buat saya untuk pindah ke Rapoo. Dan mereka punya strategi long-term, mulai akhir tahun ini akan buat tim di Indonesia supaya menjangkau seluruh kota di Indonesia karena saat ini baru kota-kota besar di Indonesia oleh distributor dan baru dimulai pada waktu saya ini.

Apa tugas dari seorang Country Manager?

Kalau mau diomongin, A-Z. Semuanya. Semuanya diurus dari pengembangan bisnis, SDM, semua harus diurus, termasuk juga relationship dengan media. Intinya mengurus semuanya di Indonesia. Kalau di luar Indonesia saya tidak peduli, iya dong, kan saya perwakilan di Indonesia. Tentunya saya bertanggung jawab kalau produk di Indonesia cross ke Malaysia atau negara lain, kita harus bertanggung jawab juga. Mungkin harus kita koreksi. Tetapi selama ini, saya tidak ada masalah karena regulasi di Indonesia ketat sekali.

Sejauh ini, pengalaman apa yang menurut Anda menarik?

Tentunya pengalaman menarik adalah di saat kita bisa berkontribusi untuk tanah air sendiri. Bukan seratus persen produk dari luar negeri tetapi bagaimana menciptakan market di Indonesia lebih cepat dan membantu infrastruktur dari UKM dan bidang-bidang ekonomi kerakyatan dan secara nasional mendukung infrastruktur secara luas. Misalnya, manufaktur, perbankan, pendidikan. Itu yang sangat penting bagi generasi berikutnya. Kalau kita ciptakan tren tetapi tidak sesuai kebutuhan di Indonesia kan buang-buang waktu, resources dan sebagainya. Itu menurut saya penting.

Kendalanya apa saja?

Banyak. Contohnya, kita harus saling mempelajari regulasi di Indonesia. Setiap pemerintah, regulasi harus di-update. Untuk regulasi wireless produk, dari Dirjen Postel. Itu kita sangat mengikuti peraturan dari pemerintah supaya kita memberikan produk sesuai standar sertifikasi supaya tidak bertabrakan dengan frekuensi gadget lain atau produk yang memberikan sinyal wireless. Itu challange-nya, kita mempersiapkan enam bulan. Sebelum produk ini dilaunching, kita sudah mempersiapkan selama enam bulan. Pastikan penjual dan pemakai tidak ada masalah. Challenge-nya tentunya waktu. Kita harus mempelajari produknya, ketika launching di China, kita harus pelajari ini produknya cocok tidak dengan regulasi di Indonesia. Ketika tidak cocok, kita tidak akan bawa ke Indonesia. Dan juga yang paling penting, produk ini akan menciptakan tren baru, supaya Indonesia lebih maju.

Apa rahasia sukses Anda?

Saya rasa kunci itu adalah trust. Jadi kalau kita punya trust ke internal atau eksternal tim, itu sangat jadi modal dasar saya untuk melakukan semua strategi maupun eksekusi di lapangan. Jadi kalau kita mempunyai trust terhadap principal kami dan juga manufaktur, itu semua akan berjalan dengan baik. Setelah trust, komitmen. Kalau kita punya komitmen, setelah selesai di sini, bukan berarti selesai juga kerja sama yang dilakukan. Komitmen adalah handover yang baik. Ketika saya sudah tidak di sana, saya tetap akan bantu. Bagi saya, mana pun brand-nya, channelnya akan tetap sama. Pun dengan rekan-rekan media juga akan sama. Mereka akan mempunyai komitmen, kita ini bekerja, harus saling bantu, fasilitasi satu sama lain sehingga menghasilkan yang terbaik bagi individu tersebut. Itu yang menurut saya menjadi pilar saya untuk sukses bersama.

Apa target yang ingin dicapai untuk karier Anda?

Setiap carrier path saya selalu mencantumkan sebagai entrepreneur professional. Jadi semua yang kita kerjakan, bukan hanya kerja, tetapi juga seakan-akan itu bisnis saya supaya siapapun yang terlibat merasakan keuntungannya. Itu juga yang selalu saya tanamkan ke tim saya. Saya akan mereplicate tim saya, supaya mereka lebih sukses dari saya. Partner juga lebih sukses. Manufaktur kita juga menjadi lebih sukses. Itu sifat entrepreneur, bukan lihat dari satu sisi tetapi end to end process. Bagaimana kita bisa menghasilkan sesuatu yang lebih sinergi.

Itu tadi seperti yang telah saya sebutkan, trust, komitmen dan entrepreneur yang membuat bisa sinergi. Saya dan Mr. Oliver (APAC General Manager Rapoo) adalah teman lama di perusahaan sebelumnya, dengan Pak Budi (Presdir PT Surya Chandra-distributor produk Rapoo) juga. Jadi, yang kami lakukan, sinergi bring value, lakukan sesuatu untuk negara masing-masing, bukan hanya jualan. Itulah sifat entrepreneur yang saya pelajari. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)