Herpin Dwijayanti

Di usianya yang baru 24 tahun, Herpin Dwijayanti mampu menunjukkan bahwa berwirausaha tak perlu modal besar. “Tekad kuat dan keyakinan serta memulai dari hal-hal sederhana dan diminati, akan berbuah besar di kemudian hari,” katanya. Ia membuktikan, dengan modal Rp 300 ribu pada 2007, bersama dua temannya sesama mahasiswa STT Telkom, ia membangun Hikari Language Center (HLC). Herpin membidik pasar mahasiswa dengan dua konsentrasi studi: bahasa Jepang dan Inggris. Pengajarnya, antara lain, mahasiswa dari Universitas Padjadjaran dan Institut Teknologi Bandung.

Modal yang terbatas membuatnya belum bisa memiliki tempat permanen. Solusinya, dia menawarkan kepada siswanya memilih tempat yang disukai. Dengan waktu dan tempat yang fleksibel, kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan. Sistem nomaden (berpindah-pindah) itu akhirnya menjadi keunikan dan keunggulan HLC. “Awalnya saya dan teman-teman sebagai tentor datang ke rumah murid, tidak ada kantor khusus,” kata Herpin, yang masuk 40 besar finalis Wirausaha Muda Mandiri Nasional 2009 kategori industri dan jasa, serta peraih beasiswa Monbukagakusho tahun 2010.

Saat ini HLC mempunyai satu kantor pusat dan empat kantor cabang di wilayah Bandung. Peserta kursus mencapai sekitar 500 orang. Herpin berencana melebarkan usaha kursusnya di kawasan Jabodetabek dengan pola waralaba. Selain bahasa Jepang dan Inggris, HLC juga menawarkan program bahasa Prancis, Jerman, Arab, Korea, Belanda dan Mandarin. “Mulai tahun lalu, segmen pasar kami tidak hanya mahasiswa, tapi juga anak-anak dan remaja,” istri Mohammad Deni Akbar ini menjelaskan.

Berwirausaha akan menuntaskan setengah dari persoalan sosial,” kata kelahiran 8 April 1986 yang sejak SMA ingin menjadi pengusaha ini. Oktober ini, Herpin bertolak ke Jepang untuk mengambil program MBA. “Saya sengaja memilih MBA supaya bisa diaplikasikan dalam mengembangkan usaha.”

Rias Andriati

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)