Irfan Setiaputra, Pindah Biduk Setelah “Mantab”

Sejumlah wartawan dikejutkan dengan datangnya sebuah pesan pendek (SMS) dari Irfan Setiaputra, CEO PT INTI, salah satu BUMN, di akhir Juli 2012. Isinya singkat saja, Irfan telah mengundurkan diri. Kabar yang datang tanpa ada hujan dan angin lebih dulu itu sontak memicu rasa penasaran banyak kalangan.

Sarjana Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung itu sendiri sesungguhnya rising star di kancah korporasi Indonesia. Saat berkarier di IBM Indonesia, Irfan sukses meraih penghargaan IBM Star of the Stars Award dan IBM Professional Achievement Award. Catatan prestasinya kian kinclong ketika ia menjabat Direktur Pengelola Cisco Systems Indonesia (2002-2007) dan sukses melipatgandakan penghasilan Cisco dari US$ 25 juta menjadi US$ 125 juta. Bahkan ia juga pernah terpilih sebagai Best CEO versi Majalah SWA.

Kepada SWA, lelaki kelahiran Jakarta 24 Oktober 1964 ini mengungkapkan perihal pengunduran dirinya, sepak terjangnya menghapuskan berbagai fasilitas untuk direksi PT INTI, kebiasaannya makan uang tabungan, serta rencananya setelah resmi bergabung sebagai CEO PT Titan Mining Indonesia pada 1 Agustus silam.

irfan setiaputra Irfan Setiaputra, CEO PT Titan Mining Indonesia

Mengapa Anda pindah kerja?

Ketika pendapatan yang Anda terima kecil atau tidak cukup, berarti hal ini menggerus tabungan hingga pada suatu titik tertentu tabungan Anda menipis. Pada saat itu, Anda harus memutuskan. Itulah yang membuat saya keluar. Itulah yang juga saya bicarakan dengan Pak Dahlan (Dahlan Iskan, Menneg BUMN – Red.). Namun, wartawan menganggap bahwa saya merasa kekurangan dengan gaji kecil yang diberikan sehingga saya cari perusahaan yang dapat memberikan gaji besar. Bukan itu sebenarnya. Tidak sesederhana itu.

Adakah kepentingan lain saat dulu memilih bergabung di PT INTI?

Waktu itu saya hanya mengatakan ke Pak Sofyan Djalil, “Pak, saya merasa terhormat dipanggil oleh menteri dan diminta membantu. Menurut saya, ini merupakan suatu kehormatan yang tidak bisa dinilai dengan uang.” Pak Sofyan juga mengatakan pada saya waktu itu bahwa gajinya kecil. Saya katakan padanya, “Saya tidak punya masalah dengan gaji kecil. Namun, kalau uang di tabungan saya menipis, izinkan saya mengundurkan diri dan mencarinya di luar.”

Berarti setidaknya ada legacy yang sudah Anda tinggalkan?

Tidak juga. Tapi saya pikir saya sudah menyelesaikan pekerjaan saya, walaupun banyak orang yang mengatakan pekerjaan saya belum selesai. Tapi saya pikir sudah selesai, karena kita tidak pernah tahu kapan selesainya pekerjaan ini. Makanya ada presiden seumur hidup atau 30 tahun karena mereka merasa tidak pernah selesai. Saya sudah menyelesaikan mandat yang diberikan pada saya. Saya juga sudah mempersiapkan suksesi dan meng-clear out model bisnisnya. Jadi sebenarnya tinggal dipoles sana-sini dan dieksekusi, serta dikaji terus-menerus.

Apa menariknya tempat kerja yang sekarang?

Pertama, komitmen dengan pemilik perusahaan. Persis sama ketika saya bergabung dengan INTI, saya mendapatkan komitmen dari pemilik, dalam hal ini direpresentasikan oleh Menteri BUMN saat itu yaitu Sofyan Djalil hingga Menteri BUMN saat ini yaitu Dahlan Iskan. Di tingkat posisi seperti saya, komitmen dari pemilik perusahaan merupakan hal penting. Kedua, ada mimpi dari pemilik agar perusahaan ini mengarah ke satu titik tertentu, misalnya initial public offering. Ketiga, ada trust terhadap saya dari pemilik. Tentu saja, pada ujungnya kami diskusi tentang paket.

Ketika di BUMN saya mengajak teman-teman direksi untuk melihat dan memperlakukan BUMN secara profesional agar tidak terjadi fitnah terhadap kami. Saya selalu tekankan itu. Jadi di INTI ada banyak sekali fasilitas yang pada waktu kami masuk, kami lakukan pemotongan karena menurut kami fasilitas itu tidak pantas didapatkan yang membuat sumber fitnah.

Contoh konkretnya?

Pertama, dulu di INTI terdapat corporate credit card untuk direksi. Hal ini biasa. Namun, waktu dibayar atau ditagih, hanya dilihat bottom line atau totalnya tanpa dilihat detailnya. Jadi, kami tidak melakukan klaim detail. Tagihan itu langsung masuk kantor dan dibayar oleh kantor dalam bentuk total. Kedua, dalam hal Surat Perjalanan Dinas (SPJ), kantor INTI di Bandung, sedangkan banyak aktivitas dilakukan di Jakarta. Jadi, kami buat nol SPJ Jakarta-Bandung. Alasannya, karena ini menjadi sumber fitnah. Kebetulan, keluarga saya di Jakarta. Jadi, apakah saya ke Jakarta untuk keperluan keluarga atau keperluan kantor. Saya kan manusia biasa, jadi tiap Jumat malam saya pulang ke Jakarta. Masa saya dibayari SPJ? Sementara masalahnya, uang SPJ pergi ke Jakarta 5-6 kali, sudah lebih tinggi dari gaji pegawai di INTI.

Ketiga, kami juga membuat SK yang belakangan diberlakukan untuk direksi ketika saya sign out dari INTI, yaitu adanya hak tapi tidak ada larangan. Hanya terdapat fasilitas, tapi tidak ada larangan. Contoh larangannya yaitu untuk pengeluaran, tidak boleh dibiayai oleh anak perusahaan.

Bagaimana prosesnya bisa bergabung di Titan Mining Indonesia?

Saya tidak melalui head-hunter. Memang banyak head-hunter mengontak saya. Tapi tidak sesuai tawarannya. Kalau dengan perusahaan ini, kebetulan memang sudah teman lama dengan pemiliknya. Salah satu pemiliknya yaitu Handoko Tanuaji. Kami bertemu dan kemudian beliau menawarkan pekerjaan ke saya. Bagi saya saat itu it’s time to make a move.

Mau konfirmasi, kalau bisa disimpulkan, kepindahan Anda ke Titan hanya berdasarkan paket yang ditawarkan?

Kalau hanya dilihat parsial, saya bisa dianggap serakah. Mengapa ini jadi penting? Karena saya melihat banyak teman BUMN yang mengalami kondisi ini, tapi tidak bisa menyampaikan keluhannya. Di kalangan eksekutif swasta yang masuk BUMN, sudah umum dikenal istilah mantab (makan tabungan). Masalahnya, hal ini tidak fair. Teman-teman ini mau melakukan suatu perubahan dan pengorbanan, tapi hanya jadi joke saja. Kalau kasus saya, saya adalah orang yang blak-blakan. Pak Dahlan sendiri menghargai ke-gentle-an saya untuk bicara apa adanya.

Ketika saya diskusi dengan teman-teman di Kementerian BUMN, banyak yang merasa memang eksekutif di BUMN harus dibayar lebih mahal. Mereka juga tahu bahwa banyak orang yang mengapresiasi diri sendiri. Dulu, saya dengar dari teman, pada saat kawan saya masuk ke BUMN dan menilai dengan mengatakan bahwa gaji yang diberikan kecil sekali, dari pihak Kementerian BUMN ada yang mengatakan, “Gini deh, lu embat sedikit-sedikit, kecil-kecil, gue tutup mata deh.” Ini kan bahaya. BUMN besar, jika sikap eksekutif, orang-orang, dan sistem di dalamnya tidak berubah, maka akan bahaya.

Denoan Rinaldi/Eddy Dwinanto Iskandar

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)