Jalan Panjang Tokopedia Menjadi Unicorn Indonesia

Di momen itulah, William sadar bahwa membangun bisnis itu tidak mudah. Membangun bisnis itu adalah tentang membangun kepercayaan dan kepercayaan itu adalah tentang kredibilitas, dan rekam jejak masa lalu. Dalam perjalanan membangun Tokopedia, William dan Leontinus belajar tentang filosofi dan semangat bambu runcing. Bambu runcing baginya melambangkan 3 hal, yaitu keberanian, kegigihan, dan harapan.

“Di titik inilah kami belajar tentang keberanian. Keberanian untuk percaya kepada diri kami sendiri ketika tidak ada yang percaya kepada mimpi kami. Keberanian untuk percaya masa lalu sudah tidak bisa diubah, namun masa depan ada di tangan kita sendiri. Di titik inilah kami menemukan tujuan hidup kami, bahwa kami tidak boleh menyerah,” katanya.

Keduanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulai Tokopedia. Keinginannya  adalah menjadikan Tokopedia untuk dapat membantu siapa saja orang Indonesia, yang ingin memulai dan membangun bisnis. Tokopedia tentang sebuah platform untuk memulai, sebuah platform yang memberikan peluang dan kesempatan kepada setiap orang Indonesia.

Kegigihannya membuahkan hasil. Pada 6 Februari 2009, atasan tempat William bekerja memutuskan memberikan investasi pertama untuk mewujudkan Tokopedia. Dana dari investor melalui PT Indonusa Dwitama sebesar Rp2,4 miliar. Nilai investasi tersebut jika dikonversikan ke saham. Komposisinya  80% milik PT Indonusa Dwitama, 10% William, dan 10% Leontinus. Dan, pada 17 Agustus 2009 Tokopedia.com resmi diluncurkan ke publik di bawah naungan PT Tokopedia dengan William sebagai CEO-nya.

Sejalan dengan itu, keduanya kembali ke kampus untuk meyakinkan talenta-talenta Indonesia untu bergabung dengan Tokopedia. Ia menyadari bahwa aset terbesarnya sebagai perusahaan teknologi adalah sumber daya manusia. “Dua hari kami kembali ke kampus, berusaha meyakinkan para mahasiswa untuk bergabung. Sementara di depan kami, booth sebuah bank terbesar di Indonesia dipadati ribuan kandidat,” cerita William. Ia belajar bahwa ini tidak mudah, Indonesia bukanlah Silicon Valley.

Mereka meminta universitas untuk memberikan kesempatan sebagai pembicara di kelas-kelas untuk berbagi pengalamannya membangun perusahaan internet di Indonesia. “Hal ini sebenarnya sulit untuk saya, karena latar belakang saya yang introvert, namun kami belajar tentang kegigihan, untuk keluar dari zona nyaman. Kami belajar dari Henry Ford yang pernah mengatakan kalau kamu pikir kamu bisa, atau kamu pikir kamu tidak bisa, dua-duanya kamu benar,” tuturnya.

Hal ini kemudian berbuah positif. Secara perlahan, William dan Leontinus mulai mampu meyakinkan talenta-talenta untuk bergabung dengan Tokopedia. “Saat ini Tokopedia telah mempekerjakan lebih dari 1.800 orang, termasuk para lulusan terbaik universitas-universitas dunia. Tahun 2016 lalu, hanya dua orang Indonesia yang berhasil mengambil MBA di Harvard, dan keduanya memilih Tokopedia sebagai tujuan summer internship mereka. Tahun ini, mereka kembali dan memilih berkontribusi untuk bangsanya dengan berkarya di Tokopedia,” ungkap William bangga.

Pages: 1 2 3

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)