Johan Mantik, Tidak Hanya Sekadar Bekerja

Johan Mantik merupakan salah satu ujung tombak brand Blue Band saat ini. Pria kelahiran Jakarta, 25 Februari 1985 ini didaulat sebagai Brand Manager produk mentega buatan Unilever tersebut pada November 2013 kemarin. Untuk mengawali portofolionya sebagai pemasar, pria betinggi badan 180 cm ini pun gencar melakukan serangkaian kampanye brand awareness. Lantas seperti apa kiprah pehobi basket ini dalam memantapkan posisi Blue Band di benak publik ? Kepada Gustyanita Pratiwi dari SWA Online, Johan Mantik menuturkan :

Bisa diceritakan perjalanan karier Anda secara singkat hingga bisa bergabung di Unilever seperti sekarang?

Tadinya saya itu jurusan desain grafis Trisakti. Sebelum bergabung di Unilever, saya juga pernah bekerja di perusahaan lainnya mulai dari telekomunikasi hingga FMSG yang menangani produk susu. Baru setelah itu saya masuk Unilever. Jadi sekarang ini saya sudah tahun ke-5 di bawah brand Blue Band. Saya juga sempat meneruskan S2 di Prasetya Mulya Jurusan Manajemen Bisnis untuk menopang karir saya sekarang.

Johan Mantik, photo by Gustyanita Pratiwi Johan Mantik, photo by Gustyanita Pratiwi

Kenapa Anda tertarik masuk ke FMCG?

Karena saya melihat dari semua industri, FMCG yang paling dinamis. Jadi saya sudah pernah merasakan di telekomunikasi, juga susu. Dari situ saya berkesimpulan bahwa FMCG adalah industri yang paling cepat pergerakannya dan saya kebetulan suka dunia seperti itu.

Dari awal memang Anda sudah ditaruh untuk pegang merek Blue Band, atau diputar ke merek lain dulu?

Dulu di pembersih toilet (Unilever juga). Baru 2013 kemarin saya diputar ke Blue Band.

Seperti apa gambaran tugas-tugas Anda?

Sebenarnya sih kurang lebih sama seperti job desk tim-tim brand pada umumnya, yaitu kami membuat kampanye dan mempromosikan produk-produk yang kami tangani.

Berapa tim yang Anda bawahi?

Saat ini tim foods sendiri ada 8 orang. Sementara yang handle Blue Band secara spesifik ada 3 orang termasuk saya.

Apa tantangannya?

Sepanjang karier saya itu banyak bersinggungan dengan market ibu-ibu. Dari yang telekomunikasi, dimana dulu saya mengurus pascabayarnya sehingga menyasar ke ibu-ibu dan bapak-bapak juga. Kemudian saya pindah ke susu anak, meskipun penggunanya adalah anak kecil, tapi yang menjadi decision maker-nya adalah ibu-ibunya. Kemudian di pembersih toilet, tadinya saya pikir saya akan jauh dari ibu-ibu, tapi targetnya ternyata memang mereka lagi. Waktu itu kami juga ada interaksi dengan anak-anak juga. Di Blue Band sendiri, produk ini sangat berkaitan erat dengan gizi anak. Blue Band berkomitmen untuk mendukung tumbuh kembang anak melalui beragam kampanye misalnya seperti  Pekan Sarapan Nasional (PESAN) yang diadakan setiap 14-20 Februari sejak tahun 2013, dimana pada hari ini (13 Februari 2014), Blue Band mengajak 5.000 siswa sekolah dasar untuk sarapan serentak yang sekaligus menandakan dimulainya Gerakan 21 Hari Sarapan Bernutrisi. Gerakan ini bertujuan untuk menginspirasi siswa sekolah dasar agar kebiasaan sarapan dengan gizi cukup dapat tertanam sejak dini. Itulah yang membuat saya tertarik bekerja di sini. Jadi bekerja bukan hanya sekedar bekerja, tapi juga di balik itu harus ada passion, khususnya untuk membantu tumbuh kembang anak.

Kushus untuk kampanye sarapan ini, apa latar belakangnya?

Sebanyak 44,6% anak usia sekolah dasar di Indonesia memiliki mutu gizi sarapan yang rendah. Nilainya belum mencapai 15% kebutuhan gizi minimal yang dianjurkan untuk sarapan. Hal ini seperti dituturkan dalam Naskah Akademik Pekan Sarapan Nasional tahun 2012. Kenapa kita musti sarapan? Seseorang yang tidak makan pagi memiliki risiko menderita gangguan kesehatan berupa menurunnya kadar gula darah dengan tanda-tanda antara lain: lemah, keluar keringat dingin, kesadaran menurun bahkan pingsan. Bagi anak sekolah, kondisi ini menyebabkan merosotnya konsentrasi belajar yang mengakibatkan menurunnya prestasi belajar. Bagi pekerja akan menurunkan produktivitas kerja.

Kebiasaan seseorang menghindari makan pagi dengan tujuan untuk menurunkan berat badan, jelas merupakan kekeliruan yang dapat mengganggu kesehatan. Antara lain gangguan saluran pencernaan. Kebiasaan sarapan juga membantu seseorang untuk memenuhi kecukupan gizinya sehari-hari. Jenis hidangan untuk makan pagi dapat dipilih dan disusun sesuai dengan keadaan. Namun akan lebih baik bila terdiri dari makanan sumber zat tenaga, sumber zat pembangun dan sumber zat pengatur. Asupan zat gizi yang seimbang tidak mungkin dipenuhi hanya oleh satu jenis bahan makanan, melainkan harus terdiri dari aneka ragam bahan makanan.

Bicara tentang kompetensi, bagaimana pandangan Anda tentang keseimbangan antara softskill dan hardskill dalam karier?

Dua-duanya sama-sama penting. Softskill itu biasanya ditunjukkan dengan kemampuan untuk berinteraksi dengan pierce dan juga pihak-pihak lain di luar office. Contohnya saat ini bagaimana saya bisa berinteraksi dengan media. Jadi itu sangat penting. Tapi itu saja tidak akan berhasil kalau tidak didukung dengan hardskill. Hardskill itu biasanya dibuktikan dari achievment apa yang akan dicapai oleh brand tersebut. Misalkan softskill-nya bagus, tapi nggak ada hardskill, ya tentu saja tidak akan perform dalam men-handle brand tersebut.

Apa ambisi karier Anda ke depan?

Saya ingin terus berkomiten, karena saya bekerja tidak hanya sekedar bekerja, tapi ingin ada passion dan saya menemukannya di sini. Semoga ke depannya saya bisa lebih banyak lagi berinteraksi dan mewujudkan kampanye-kampanye, yang tidak hanya berhasil dari segi promosi, tapi juga dari misi sosialnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)