Josaphat Sri Sumantyo, Profesor RI Pertama di Universitas Negeri Jepang

Indonesia ternyata tidak kalah dari Jepang. Salah satu putra terbaik bangsa, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo adalah Professor yang juga mengepalai Center for Environmental Remote Sensing (CEReS), Chiba University, Jepang. Dia bertanggung jawab dalam pengembangan teknologi terbaru dan terdepan di bidang remote sensing (penginderaan jarak jauh). Pria kelahiran Bandung ini juga memiliki Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL), laboratorium paling lengkap di Jepang dan bahkan di dunia untuk pengembangan microwave remote sensing technology untuk penginderaan jauh di permukaan bumi dan planet lain.

Lulusan S1-S2 dari Kanazawa University, Jepang ini memiliki keahlian di bidang Microwave Remote Sensing seperti Synthetic Aperture Radar, Unmanned Aerial Vehicle (UAV) and Microsatellites. Sejak kecil, ia memang bercita-cita untuk membangun radar dan pesawat sendiri untuk memperkuat TNI-AU terinspirasi dari sang ayah yang merupakan pelatih Pasukan Gerak Tjepat (PGT/Kopasgat, sekarang Kopaskhas) di TNI-AU. “Sehingga bidang kajian saya sejak S1 hingga S3 adalah pengembangan radar sistem dan signal processing, dimana saya menciptakan berbagai macam teori radar. Paper atau karya tulis mengenai ini telah terbit di berbagai jurnal dan majalah terkenal di dunia,” katanya.

Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, Professor yang juga mengepalai Center for Environmental Remote Sensing (CEReS), Chiba University, Jepang. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, Professor yang juga mengepalai Center for Environmental Remote Sensing (CEReS), Chiba University, Jepang.

Berkat lebih dari 10 karya tulis yang mengagumkan tersebut, berbagai Universitas di dunia, seperti Hebrew University - Israel, Leicester University – UK, Massachusetts State University - US mengundang pria kelahiran 25 Juni 1970 ini menjadi staf pengajar (Lecturer atau Senior Lecturer). Saat ini, ahli radar yang menguasai teori, manufacturing hingga aplikasinya masih sangat sedikit. Lulus Doctor dari Chiba University, Josaphat memilih mengabdi di Venture Business Laboratory (VBL) di universitas yang sama sebagai Lecturer. “Pertimbangannya dekat dengan Indonesia dan keluarga serta keluarga besar. Chiba University juga dekat dengan Narita Airport dan Haneda Airport (kurang dari 1 jam dari rumah) untuk akses cepat ke Indonesia, dan Chiba dekat (kurang dari 1 jam) dengan Tokyo karena mudah mengurus Visa,” ujarnya.

Di sana, dia mengembangkan dan menemukan ratusan jenis antena yang semua sudah dipatenkan dan berbagai publikasi ilmiah di Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) serta mendapatkan banyak penghargaan. Pada tahun 2005, dia diangkat menjadi Associate Professor setelah melewati berbagai seleksi pengangkatan PNS di Center for Environmental Remote Sensing (CEReS), pusat penelitian yang berada langsung di bawah Kementerian Pendidikan dan Teknologi Jepang, yang berada dalam Chiba University. Penelitian terbarunya di bidang inderaja, yakni circularly polarized synthetic aperture radar (CP-SAR) yang sudah dipatenkan dan penggunaannya untuk UAV, pesawat dan microsatellite yang dikembangkan di JMRSL, membuatnya diangkat menjadi Professor Penuh (Full Professor) pada 2013 lalu.

“Pertama, saya ditawari menjadi Lecturer (tahun 2002-2005), kemudian naik menjadi Associate Professor (2005-2013), dan terakhir Full Professor atau Professor Penuh (di usia 42 tahun, 2013). Mungkin, saya Professor Penuh pertama asal Indonesia yang bekerja di Universitas Negeri Jepang,” katanya. (Reportase: Tiffany Diahnisa)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)