Jurus 3M Susanto Djaja

Meski bergelar Sarjana Ekonomi, Susanto Djaja tetap percaya diri saat ditunjuk sebagai Chief Operating Officer (CEO) sebuah perusahaan information technology (IT), PT Metrodata Electronic Tbk. Kunci sukses kepemimpinan pria 43 tahun ini cukup sederhana, yaitu harus punya 3M.

Susanto meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Katolik Atmajaya, Jurusan Manajemen Keuangan, di Jakarta tahun 1992. Gelar magister Hukum Bisnis ia peroleh dari  Universitas Pelita Harapan, Jakarta pada 2005.

Pria yang hobi membaca majalah golf dan sepakbola ini  awalnya juga mempunya karier yang sesuai latar belakang pendidikannya. Pertama kali bekerja  di Bank Mizuho (sebelumnya bernama Dai-Ichi Kangyo Bank) tahun 1991 sebagai staf operasional bidang keuangan. “Kemudian dosen saya menawarkan posisi manajer keuangan di Grup Tempo. Selanjutnya saya dipercaya menjadi Corporate Treasurer serta Manajer  Kantor Cabang Jabodetabek,” kenang Susanto.

Dalam kesibukannya, ia tetap meluangkan waktu menjadi dosen manajemen keuangan di Fakultas Ekonomi Universitas Katholik Atma Jaya Jakarta, pada 1991-2000. Kemudian mulai bergabung dengan perseroan pada tahun 1997 bulan Oktober.

“Saat saya masuk bertepatan dengan terjadinya krisis global. Kondisi di Metrodata juga sedang krisis. Kala itu, saya menjadi cash flow manager, kemudian treasury manager. Saya sempat mengambil tindakan hedging. Saya tutup transaksi forward atas LC-LC kami yang bakal jatuh tempo, kurang lebih nilainya US$ 13-16 juta, di situlah Metrodata bisa selamat. Kalau tidak bisa selamat, pemilik Metrodata bisa berganti, namun ternyata tidak terjadi,” jelasnya.

Tahun 2000, Susanto merangkap sebagai Corporate Secretary Metrodata. Kemudian diangkat sebagai Direktur Keuangan perseroan pada 2007 dan ditunjuk sebagai CEO pada 26 Mei 2010. “Ketika itu saya diminta untuk membawa Metrodata agar terus berinovasi.”

Bagi Susanto, menjadi CEO sebuah perusahaan IT, bukan berarti harus memiliki latar belakang IT. Karena CEO mengelola departemen termasuk sales, finance, logistic, general affrair dan HRD termasuk corporate secretary. Tidak mungkin satu orang bisa menguasai semuanya, untuk itu perlu ada proses pembelajaran dan harus punya sikap sebagai pemimpin dan semangat inovasi.

“Dalam berinovasi tidak boleh bilang: tidak bisa, tidak mungkin dan sudah tau. Musuh saya bukan dari kiri kanan, tapi ya cuma tiga hal itu.” Inovasi yang diterapkan Susanto di Metrodata harus fokus pada tiga hal, yakni: spesifik, berdampak luas dan memberi nilai tambah.

Selain harus punya sikap sebagai pemimpin dan selalu berinovasi, di Metrodata, Susanto menerapkan jurus 3M, yaitu: memajukan perusahaan, mensejahterakan karyawan, memakmurkan pemegang saham.

3M ini kedudukannya sama dan rata. Ketiganya harus diberi kepuasan. Contoh realisasi dalam memajukan perusahaan yaitu saat Susanto memimpin 2 tahun terakhir, Metrodata masuk ke dalam 100 perusahaan terbaik versi salah satu majalah. “Kami masuk di peringkat 85, yang perusahaan IT ya hanya kami saja. Lalu kami pindah ke kantor baru, dimana kami memiliki sendiri. Ini suatu kemajuan.”

Dalam upayaa mensejahterakan karyawan, Metrodata punya sistem. Contohnya, promosi dari staf jadi manajer, dari manajer jadi general manager, dari general manager jadi direktur, diutamakan dari dalam. “Hasil statistik mengatakan 80% hasil promosi Metrodata itu internal. Inilah yang membuat karyawan merasa dihargai.”

Selain itu, ada pula sistem yang menghargai karyawan baik dalam bentuk informal award maupun formal award. Informal award berupa pemberian logam mulia emas kepada karyawan yang berprestasi dalam periode tertentu. “Pada 2011 metrodata bertabus emas karena banyak karyawannya yang berprestasi. Dalam bentuk formal award kami undang mereka ke suatu insentif trip, tahun lalu baru berangkat ke Las Vegas tahun depan ke Turki,” kata pria kelahiran 30 Desember 1969 ini.

Sementara itu, dalam rangka memakmurkan pemegang saham, selama Susanto menjabat, ia menaikkan dividen 4X lipat. “Jika perusahaan maju, kesejahteraan karyawan bertambah, pemegang saham bertambah makmur, itulah bentuk realisasi yang benar. Nah itu adalah jurus 3M saya dalam memimpin Metrodata.”

Ke depannya, Susanto memiliki obsesi membawa Metrodata sebagai perusahaan blue ocean dan mampu melayani pelanggan hingga ke pelosok Indonesia. “Hari ini belum ke seluruh pelosok baru kota-kota besar dan sebagian kota kecil, itu juga hanya boleh dibilang Jawa, Sumatera. Kami mulai merambah Kalimantan, Makassar, tapi bagaimana dengan Papua? Inilah yang menjadi obsesi saya, melayani hingga ke pelosok,” ujarnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)