Kekuatan Cinta Raja Kerupuk Udang

Bermodalkan ketekunan dan cinta keluarga, dia berhasil membangun kelompok usahanya menjadi perusahaan seafood terintegrasi. Kiprah dan prinsip bisnisnya layak menjadi inspirasi kalangan perusahaan keluarga.

Harry Susilo Harry Susilo, Pendiri Grup Sekar

Tak ada yang berubah dari lelaki 77 tahun ini. Tutur katanya datar tersaring. Tidak meledak-ledak. Bahasa tubuhnya selalu menunjukkan persahabatan sekaligus penghormatan kepada lawan bicara. Kendati kerut terpahat di wajahnya, energi serta antusiasmenya tetap menyala, terpancar dari setiap nasihat yang diucapkannya

Saya ini sudah tua. Sudah pensiun total. Sekarang lebih pada membina generasi muda, menjaga cucu, sudah tidak ikut campur bisnis. Saya mulai berkawan dengan alam, mencari kedamaian dan keseimbangan hidup.” Begitulah ucapan Harry Susilo, saat ditemui di Hotel Shangri-La, Jakarta, beberapa waktu lalu. Dia memang tak lagi terlibat dalam kelompok bisnis yang didirikannya. Pengelolaan Grup Sekar dipegang adik-adiknya. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk berolahraga, jalan pagi, yoga, mengunjungi kawan, dan berkegiatan sosial.

Bukan hal mengejutkan jika posisi menepi dari keriuhan bisnis diambilnya. Harry mencari nafkah di usia muda, 22 tahun. Setengah abad berbisnis dirasanya lebih dari cukup. Selain itu, Grup Sekar sudah mapan. Grup yang dia tegakkan tahun 1966 itu berkembang pesat, tak sebatas memasok ikan sebagaimana pertama kali berbisnis. Ada 30 perusahaan berdiri, menggeluti pengolahan makanan kering, frozen food, budidaya udang, wisata, hingga properti dan lapangan golf. Produk-produknya di bidang makanan juga mencetak prestasi: diekspor ke berbagai negara sehingga dua perusahaan Grup Sekar (PT Sekar Bumi Tbk. dan PT Sekar Laut Tbk.) sering diganjar Indonesia Best Exporter Award (Primaniyarta) dari Presiden RI.

Khusus dua perusahaan itu, kinerjanya juga terus mencorong. Tahun 2016 penjualan bersih Sekar Bumi sekitar Rp 1,5 triliun (90% ekspor) dan tahun 2017 diperkirakan Rp 2 triliun. Adapun Sekar Laut mencetak penjualan bersih Rp 833 miliar pada 2016. Grup Sekar juga berhasil membangun Finna menjadi merek besar di industri makanan domestik. Dan laiknya sebuah kelompok usaha, kelompok ini juga memberi dampak sosial yang besar: karyawannya lebih dari 10 ribu orang.

Saya bersyukur bisnis kami berkembang seperti sekarang. Ini hanya bermodal cinta, dari orang tua dan saudara. Kuncinya, the power of love,” lelaki kelahiran 1940 ini berujar. Bermodal cinta?

Bila tak tahu perjalanan hidup lelaki ini, pernyataan tersebut mungkin terasa klise. Namun, itulah kenyataannya. Sebuah fakta yang mengiringi perjalanan hidup si sulung dari 12 bersaudara ini.

Masa muda Harry dan sebelas saudaranya dilalui dalam kondisi ekonomi pas-pasan. Mereka hidup sederhana di sebuah rumah kontrakan dengan empat kamar di Surabaya. Sang kepala keluarga, Wiyoto, terkena penyakit stroke saat usia 51 tahun sehingga praktis tidak dapat mencari nafkah. “Otomatis saya sebagai anak tertua harus menggantikan peran ayah untuk mencari uang. Ibu jelas nggak mungkin sembari momong adik-adik yang kecil-kecil untuk cari nafkah,” katanya mengenang masa mudanya yang penuh keprihatinan.

Namun, Harry meyakini kekuatan cinta, doa, dan kasih sayang orang terdekatnya. Cinta dan doa orang tua serta saudara-saudaranya itulah yang diyakininya mengantarkan pada posisi seperti sekarang. “Kalau orang tua saya tidak dalam kondisi saat itu, belum tentu saya dan keluarga bisa seperti ini. Karena Tuhan kasih saya sayang ke orang tua, orang tua mendoakan kita, saya bisa mendapat nasib yang baik sehingga bisa sampai pada tahap saat ini,” dia menyimpulkan.

Menginjak usia 24 tahun, Harry mulai mencari kehidupan dengan berdagang ikan, gandum, dan telur. Dia membeli ikan dari nelayan setempat dan dijual ke pembeli terdekat untuk mendapatkan untung sekeping-dua keping uang. Yang penting, bisa buat makan sekeluarga.

Dua tahun berselang (1966), di suatu hari, seorang teman ayahnya dari Singapura datang berkunjung. Merasa iba melihat kondisi ayah dan keluarga yang kesusahan itu, dia pun mengajak Harry memulai bisnis. Orang tersebut memintanya berdagang dan mengirim ikan ke Singapura. Dia yang akan menampung serta membelinya, sekaligus membimbing bagaimana cara mengemas ikan dan mengapalkannya.

Tentu, bukan proses yang mudah untuk menjalani bisnis ini bagi si anak muda. “Saat anak muda lain enak-enak tidur, saya terbangun, kulakan, bekerja,” ujarnya mengenang. Maklum, dia harus menunggu nelayan pulang dari laut untuk membeli ikan tangkapannya, sekitar pukul 20.00. Setelah itu, membawanya ke gudang pendingin sewaan yang jaraknya dua jam dari pantai dengan naik bus umum. Sesampainya di lokasi gudang sewaan, pada tengah malam, dia harus membersihkan ikan-ikan itu sehingga layak kirim. Dan, paling lambat pada pukul 05.00 ikan harus sudah sampai di kargo bandara Surabaya untuk dibawa ke Singapura via Jakarta.

Ritme kerja ini tidak boleh telat karena kargo ikan harus bisa diangkut penerbangan Surabaya-Jakarta-Singapura pukul 07.00 --saat itu hanya ada satu kali penerbangan sehari. Kalau telat sehari, artinya kerugian total karena kondisi ikan akan memburuk.

Namun, Harry memang luar biasa ulet, disiplin, dan tekun menjalani semua proses itu. Dua tahun berbisnis dengan kawan ayahnya berlalu tanpa komplain sekalipun. Dia bahkan bisa mempekerjakan lima karyawan untuk membantunya. Singkat kata, anak muda ini mampu memegang kepercayaan teman ayahnya.

Cara kerja itu rupanya didengar pebisnis Jepang dari Grup Toyo Menka (Tomen), Kikuchi. Pebisnis tersebut saat itu memang sedang ke Indonesia untuk mempelajari proses ekspor-impor ikan dan menelusuri siapa saja yang bisa mengirim ikan dengan baik ke Singapura. Akhirnya setelah mendapat nama, sang pengusaha berusaha menemui Harry, dan mengajaknya berbisnis. Dia juga bersedia memberikan pinjaman untuk kulakan.

Pinangan ini terlampau cantik untuk ditolak. Hubungan dengan Toyo Menka pun terjalin. Sebagai pembeli, Toyo Menka akan menjualkan ikan ke sejumlah pembeli global.

Setelah kongsi berjalan saling menguntungkan, Kikuchi kemudian mengajak Harry meningkatkan skala bisnis dengan membangun fasilitas cold storage. Harapannya, dengan memiliki cold storage, bisa memiliki kapasitas penyimpanan ikan dalam jumlah besar dan lebih segar. Pada awal 1972 itu belum ada pemain lain yang berinvestasi cold storage.

Namun, gayung tak langsung disambut. Sedikit kegamangan menyelimuti Harry. Bukan karena dia tak mau bisnisnya berkembang lebih besar, tetapi dia melihat risiko. “Saya takut bisnis saya jatuh dan bangkrut. Saya menanggung hidup ibu dan adik-adik saya, tak ingin hidup keluarga saya kembali susah. Saya sangat hati-hati dalam menghitung risiko,” katanya mengenang.

Toyo Menka tak kurang akal meyakinkan Harry. November 1972, mereka mengirimkan utusannya, seorang pengacara, Gani Djemat, untuk menjelaskan bahwa kongsi tersebut sangat minimal sekali risikonya. Mengapa? Karena, Toyo Menka bersedia bertindak sebagai penjamin pinjaman.

Mengetahui itu, barulah Harry sepakat membangun cold storage. Dan setelah itu, semuanya tercatat dalam sejarah. Keputusan berkongsi dengan Toyo Menka menjadi tonggak penting bisnis Harry. Pasalnya, setelah kongsi ini berjalan mulus dan saling menguntungkan, banyak perusahaan Jepang tertarik menggandeng Harry. Mereka datang karena mendengar kesungguhan serta kompetensi Harry dalam memegang kepercayaan, hal terpenting yang dicari pebisnis Negeri Matahari Terbit.

Pada 1980, reputasi itu pun tercium Marubeni Corporation. Konglomerat Jepang ini mengontak Harry dan ingin bekerjasama di bidang industrialisasi pengolahan emping udang (shrim chip). Marubeni akan membantu pengembangan teknologi pengolahan serta pemasaran.

Tanpa pikir panjang, tawaran ini pun disambut Harry. Dan, kemampuan membuat emping udang inilah yang kelak mengantarkannya menjadi Raja Kerupuk Udang di Indonesia. Kerupuk Finna masuk ke dapur-dapur orang Indonesia.

Merek Finna diambil dari nama putri tertua Harry, Finna Huang. Sekarang Finna menjadi flagship brand. Merek ini tak hanya dipakai untuk kerupuk, tetapi juga saus, sambal, kecap, dan beberapa produk makanan olahan lain.

Selaras dengan kian populernya Finna, perkongsian dengan Toyo Menka dan Marubeni kian membuat Grup Sekar makin berkibar di kalangan raksasa bisnis Jepang. Tak mengherankan, sejumlah kerjasama investasi dibentuk dengan beberapa sogo shosha seperti Toyota dan Nomura. Contohnya, melalui anak usahanya yang merupakan manufaktur pakan udang dan pakan ikan, PT Karka Nutri Industri, melakukan joint venture dengan anak usaha Grup Toyota. Lalu, bekerjasama dengan Japan Tobacco dan Toyota Tsusho Corporation di PT Sekar Katokichi. Yang terbaru, menggandeng Seinan Kaihatsu Co. Ltd. dan Nomura Trading Co. Ltd. untuk berbisnis sosis ikan siap saji.

Hal yang menarik dari Harry dan Grup Sekar-nya bukan sekadar tentang bisnisnya yang berkembang, tetapi juga transformasi sebuah bisnis rumahan menjadi kelompok usaha yang modern dan terintegrasi di bidang seafood, dari budidaya perikanan sampai produk jadi perikanan yang bernilai tambah. Bahkan, masuk ke bisnis properti seperti pengelolaan lapangan golf.

Harry sendiri, seperti disinggung di awal, kini lebih banyak mengisi waktu dengan kegiatan non-komersial karena bisnisnya sudah diserahkan pengelolaannya kepada adik-adiknya. Bisnis frozen berbendera Sekar Bumi, misalnya, dipimpin Harry Lukmito, adik ke-8. Lalu, bisnis makanan kering (dryfood) yang berbenderakan Sekar Laut sudah didelegasikan ke Harry Sunogo, adik ke-6. Adapun bisnis distribusi dikelola Lody Gunadi, adik ke-5.

Praktis Harry tinggal mengawasi sekaligus memberikan nasihat strategis. Untuk keputusan besar seperti investasi, adik-adiknya masih meminta persetujuan kakak tertua.

Bagi pebisnis lain, Harry adalah sosok yang sering jadi panutan. Hal menonjol darinya ialah strateginya melanggengkan bisnis keluarga. Grup Sekar sering menjadi acuan kesuksesan. Maklum, tak sedikit bisnis keluarga yang hancur di tengah jalan, yang akhirnya berujung pada bisnis yang tak berkembang dan persaudaran yang hancur berantakan. Grup Sekar dengan Harry Susilo sebagai pemimpin adalah kasus menarik karena kelompok ini dikelola 12 bersaudara secara akur dan berusia 51 tahun.

Jelas, itu semua terjadi karena 12 bersaudara itu mengelola perusahaan dengan kompak. “Tidak mungkin tidak ada perbedaan. Tidak mungkin kami terus rukun tanpa ada ganjalan. Tapi, kami harus berusaha agar harmoni terjadi. Tugas saya sebagai saudara tertua adalah bagaimana menjaga keseimbangan agar semua anggota keluarga tetap menjalankan usaha secara sinergi dan menerima perbedaan,” Harry menceritakan gaya kepemimpinannya. Untuk itu, dia sebagai pendiri membuat garis aturan, siapa pun anggota keluarga yang ingin bergabung dengan Grup Sekar harus menyelami dulu sejarah, jiwa, dan nilai-nilai utama perusahaan. Dengan menghayati sejarah dan nilai-nilai bagaimana kelompok ini berkembang, dia yakin kekompakan antar-anggota keluarga akan terus terjaga.

Kata-kata Harry tersebut bukan ucapan di atas kertas belaka. Banyak tradisi keluarga yang dia kembangkan agar persatuan keluarga terus terbina. Di antaranya, sering mengumpulkan 12 anggota keluarga dengan anak-cucunya dalam forum-forum keluarga. “Kami sering banget kumpul keluarga besar. Kalau nggak bisa di Indonesia, biasanya ya di Singapura. Kalau ada saudara sepupu yang nikahan, kami semua usahakan untuk bisa hadir,” kata Edwin Salim Wiguna, salah seorang keponakan Harry yang ditugaskan mengelola bisnis properti dan menemani Harry saat diwawancara.

Selain dengan mengadakan forum keluarga, Harry juga biasa berbagi pengalaman dan wisdom kepada keponakannya. Salah satu aspek yang biasa ditularkannya ke generasi penerusnya ialah bagaimana seorang pemimpin bersikap. “Sebagai seorang pemimpin, kita harus bisa senang kepada orang yang tidak senang kepada kita. Kalau kita bisa menjalankan itu, suatu saat ketika orang tersebut mengalami kesusahan, dia akan ingat kita,” demikian kata Harry tentang prinsipnya.

Harry meyakini bahwa kesuksesan bisnisnya tak lepas dari tujuh pilar yang dia jalani dalam hidup. Sebagai pebisnis, dia selalu memegang erat ketujuh pilar bidang di mana dia juga terus menjaga hubungan baik dengan mereka yang ahli di bidang itu. Tujuh pilar itu adalah olahraga; bisnis; politik dan hukum; profesional; alam dan seni; agama dan ilmu sosial; serta keluarga dan teman.

Dulu waktu saya masih muda, uang dan bisnis mungkin yang paling saya prioritaskan. Tapi sekarang, ke olahraga dan sosial,” ujar pria yang selalu menyempatkan joging tiap pagi hari dan pernah menjadi atlet pelari mewakili Jawa Timur itu. Dia selalu berusaha bergaul dengan mereka dan merasakan banyak manfaatnya sebagaimana dunia olahraga yang sudah membentuk kedisiplinan dan sportivitas pada dirinya.

Salah satu wisdom penting Harry adalah kemauan untuk belajar dan berubah. Dia terbuka untuk menerima hal-hal baru buat pengembangan diri dan bisnis. Salah satu contoh terbaru adalah penggunaan teknologi artificial intelegence (AI) dalam budidaya udang milik Grup Sekar di Sumbawa. “Dulu banyak petani memberi makan udang dengan menebarkan pakan begitu saja sehingga ada makanan yang jatuh ke dasar kolam dan menjadi sumber penyakit bagi udang. Dengan menerapkan AI, kami bisa membaca keadaan cuaca, kondisi air, dan faktor lain. Kami juga menggunakan cara mekanisasi dalam memasukkan makanan ke kolam. Ini mengurangi risiko gagal panen karena penyakit udang,” kata Harry yang mengaku tahu teknologi itu setelah dijelaskan oleh staf-staf muda di Grup Sekar.Harry Susilo

Tak hanya itu, Harry juga berusaha menjalankan prinsip keseimbangan dalam memimpin Grup Sekar. Dia tak ingin kelompok bisnisnya hanya menciptakan keuntungan bagi pemilik (keluarganya) sehingga dia membantu secara langsung atau tidak langsung kepada nelayan, petani, karyawan, dan pemerintah. “Saya becermin dari perjalanan hidup saya yang mengalami kesusahan sewaktu masih kecil. Kami juga harus memikirkan keadilan orang-orang yang memiliki andil membesarkan perusahaan ini, yaitu petani, nelayan, karyawan, pemerintah, konsumen,” Harry menuturkan.

Kepedulian terhadap lingkungan bisnis, bagi Harry, menjadi bagian dari etika bisnis yang harus dijalankan agar bisnis berkelanjutan. Dan ternyata, nilai-nilai etika serta keberlanjutan dalam berbisnis tak hanya dia suarakan ke internal Grup Sekar, tetapi juga ke dalam pergaulan bisnis internasional. Alasan itu pula yang membuat Boston University mengapresiasi Harry dengan mendirikan The Harry Susilo Institute for Ethics in a Global Economy tahun 2014. Institute ini ditujukan untuk melakukan kajian ilmiah, mempromosikan dialog dan debat soal etika dalam bisnis global secara silang budaya, mencakup budaya bisnis Barat dan Timur. Tujuan institut ini juga untuk mengembangkan sustainable business environment.

Yang menarik, materi pendidikan yang dibuat institut tersebut tak hanya digunakan di Boston University, tetapi juga untuk universitas-universitas lain di Amerika Serikat dan beberapa negara Asia seperti Singapura dan Cina. “Saya sebagai orang Indonesia harus memberi kontribusi melalui insititusi ini. Setiap orang harus memiliki kode etik di segala jenis bidang kehidupannya dan seorang pemimpin bisnis tidak boleh mementingkan dirinya sendiri. Ini akan menjadi energi luar biasa agar tercipta kedamaian di dunia,” ungkapnya penuh semangat.

Bagi adik-adiknya, Harry merupakan sosok komplet. “Beliau bukan sekadar kakak bagi kami, tapi juga mentor, pelindung, dan motivator,” ungkap Harry Lukmito, yang tumbuh besar dalam bimbingan Harry Susilo, dan praktis sang kakak tertua itu menggantikan peran ayah. Terlebih, jarak usianya cukup lebar, 18 tahun. “Pengalaman saya yang tak terlupakan, ketika saya 16 tahun dikirim dan diantarkan oleh beliau untuk melanjutkan sekolah di Singapura,” ujar Lukmito yang melihat kakaknya sebagai sosok pebisnis yang gigih, visioner, dan pandai membangun jejaring bisnis.

Harry juga merupakan sosok mentor yang memberdayakan (empowering) adik-adiknya. Pengalaman berkesan dialami Loddy Gunadi. Sewaktu masih muda, Loddy pernah pukul 06.00 pagi sudah diajak Harry pergi ke pelabuhan Gresik kulakan udang. Sesampainya di pelabuhan, Harry langsung pulang balik ke rumah dan menyuruh Loddy pergi sendirian menyeberang laut ke Pulau Mbelimbing, Tuban, guna membeli udang dari para nelayan.

Bisa dibayangkan, Loddy muda yang saat itu sama sekali belum berpengalaman pergi jauh tiba-tiba harus pergi kulakan ikan sendirian, hanya berbekal uang kulakan. “Kalau Ibu tahu, mungkin nggak boleh saya dilepas begitu saja. Saat itu saya harus balik ke Surabaya naik angkutan umum dan dokar (kereta kuda), sambil mengangkut 500 kg udang. Tidur menginap tanpa baju ganti, basah, karena saya tanpa persiapan. Tapi, itulah cara beliau mendidik kami agar bisa bekerja keras dan disiplin,” kata Loddy mengenang.

Bagi orang lain, cara itu mungkin kejam. Namun, itu diberikan Harry karena cinta. Dia ingin mendidik adiknya agar tangguh dan mandiri. Dan kini, Harry pantas merasa lega karena keluarga besarnya terus kompak dan mampu berbisnis secara baik dengan rentang usaha yang makin membesar. Tak mengherankan, hingga titik ini Harry makin yakin bahwa selain motivasi ekonomi dan uang, kasih sayang orang tua dan keluarga merupakan modal teramat penting dalam sukses sebuah bisnis. Pengusaha lain boleh saja beda pendapat tentang hal itu, tetapi dia sangat yakin pada keajaiban mantra yang satu ini: the power of love. (*)

Reportase: Tiffany Diahnisa

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!