Kelly Oktavian, Jembatani Merek dengan Komunitas melalui WeYAP

Nama Kelly Oktavian mungkin tidak sekondang food blogger seperti  Budi Sutomo, Aline Candra, atau bahkan Bondan Winarno. Sepak terjangnya di dunia fashion blogging juga tidak setinggi Diana Rikasari ataupun Dian Pelangi. Namun siapa sangka, pria berusia 36 tahun ini justru mampu menghubungkan para blogger, komunitas kuliner, fashion, gaya hidup, hingga olahraga untuk lebih dekat dengan pemegang merek. Melalui social review platform bernama WeYAP, Kelly mencoba menjembataninya.

Kelly Oktavian, Co-Founder WeYAP Kelly Oktavian, Co-Founder WeYAP

Karier profesional Kelly dimulai sebagai penyiar radio HardRock di Bali. Dari sanalah, ketertarikannya terhadap dunia pemasaran muncul. Tahun 2013, pria yang sempat bekerja sebagai pelayanan ini melabuhkan diri ke iPaymu.com, sebagai Head of Merchant Acquisition.

Setelah itu, ia hijrah ke perusahaan e-commerce, Bhinneka.com, dengan jabatan sebagai senior marketing manager. Tugas terberatnya saat itu adalah mempertahankan posisi perusahaan sebagai pemimpin pasar dibisnis e-commerce gadget dan elektronik. “Cita-cita saya adalah menjadi direktur saat berusia 40 tahun,” ujar pria berpenampilan kasual ini.

Tak dinyana, takdir berbicara lain. Empat bulan lalu, Kelly bertemu dengan Teresa Lin yang kini menjadi mitra bisnisnya. Ambisi Kelly menjadi direktur akhirnya terwujud, bahkan sekarang bukan hanya menjadi direktur, tetapi ber-tittle “Co-Founder” WeYAP, sebuah perusahaan yang menawarkan ruang direktori online. Ia didapuk untuk mengembangkan bisnis, produk serta komunitas, sedangkan Teresa menjalankan fungsi sebagai investor relation. “Galau sudah pasti. Memutuskan untuk membangun bisnis sendiri ketimbang menjadi pegawai adalah perkara yang tidak mudah. Saya sudah tahu segala konsekuensinya,” katanya.

Ia menjelaskan, WeYAP adalah social review platform yang menghubungkan antara pemegang merek seperti food&beverages, fashion, kecantikan, gaya hidup dan olahraga untuk lebih dekat dengan pasar khususnya untuk komunitas. WeYAP menampilkan beberapa  profil para pemegang merek, termasuk ulasan dari para “Yapper”, sebutan bagi anggota WeYAP. Sehingga diharapkan akan menjadi referensi akurat bagi masyarakat untuk mencari tempat yang ingin dituju. “Bisnis ini berangkat dari hobi. Saya suka makan, suka jepret, suka marketing juga. Jadi, passion saya di sini,” kata pria yang hobi makan masakan Indonesia ini.

Laman WeYAP Laman WeYAP

WeYAP berada di bawah payung Moutain SEA Venture di mana perusahaan tersebut membidani beberapa portopolio seperti Qerja.com, Ngomik.com, dan masih banyak lagi. Sayang, Kelly enggan berkomentar soal investasi yang digelontorkan untuk membangun bisnis barunya tersebut.“”Proses set up bisnis ini tergolong cepat. Untungnya, saya bertemu dengan right partner, right network dan kesamaan visi,” sahutnya.

Meski baru seumur jagung, WeYAP mampu menggaet beberapa nama besar salah satunya Swiss Belhotel. Anggotanya pun semakin bertambah dengan bergabungnya beberapa komunitas, blogger bahkan hingga orang-orang terkenal yang rutin memberikan ulasan. “Beberapa bulan ini kami fokus untuk edukasi pasar dan promosi terlebih dahulu, baik ke pemegang merek ataupun mendekatkan diri ke komunitas,” Kelly menambahkan.

WeYAP membidik segmen anak muda di mana pengunjung atau yang menjadi anggota adalah mereka yang berusia 21 tahun ke atas dengan komposisi 45% perempuan, sisanya pria. Saat ini, aplikasi tersebut hanya bisa dinikmati untuk mereka yang berada di Jabodetabek melalui laman website. Ke depannya, Kelly dan Theresa akan meluncurkan versi mobile. “Setiap semester targetnya harus ada perkembangan,” ujarnya tegas.

Lalu, bagaimana WeYAP mendapatkan pemasukan?. “Saat ini kami menggratiskan space untuk para pemegang merek. Namun ke depannya, jika sudah berjalan dengan stabil kami akan pasang tarif. Dari sanalah kami mendapatkan uang, “tandas Kelly.

Rencananya, duet bisnis anak muda ini akan diperluas ke Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Bali. Ia melihat ada peluang besar di kota-kota tersebut karena banyaknya jumlah pengguna media sosial. “Selain Jakarta,  di sanalah (kota-kota tersebut-red) yang cukup mungkin untuk bisa digarap,” pungkas Kelly. (EVA)

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)