Kelvin Tanu Utomo, Gagas Solusi Kartu Kredit Secure

Kelvin Tanu Utomo memang cukup konsisten dengan pilihan karirnya di dunia perbankan. Hal ini bermula pada pilihan studi yang diambilnya di Monash University, Malaysia dengan double major, yaitu Banking & Finance serta Internasional Business. Ide-ide brilian pria kelahiran Jakarta, 27 Juni 1985 silam ini pun cukup mencengangkan. Salah satu gagasan putra pasangan (alm) Ating Tanu Utomo dan Jo Giok Lie ini adalah menawarkan solusi kartu kredit secure.

Lantas seperti apa pribadi ayah dari Matthew Tanu Utomo ini? Berikut penuturan lengkap peraih ANZ Award Winner “No Guts No Glory” – SPB Infinite Process Improvement (2013) ini kepada SWA :

Kelvin Tanu Utomo Kelvin Tanu Utomo

Boleh diceritakan riwayat karier Anda setelah lulus kuliah sampai dengan posisi sekarang?

Waktu SMA, saya sekolah di Singapura. Waktu itu memang sedang krisis 1998, dan saya memutuskan untuk pindah ke sana. Setelah itu saya kuliah di Monash University, Malaysia dengan double major Banking & Finance serta Internasional Business. Setelah lulus, saya pulang ke Indonesia dan bergabung dengan ANZ Panin Bank Indonesia. Pekerjaan pertama saya adalah Sales Supervisor untuk kartu kredit dan hanya bertahan 5 bulan.

Lalu saya mendapat kesempatan untuk joint di salah satu program prestisius Standard Chartered yaitu Management Trainee-nya (MT). Di program tersebut, saya masuk angkatan 2007-2009. Setelah lulus, saya mendapatkan posisi permanen di divisi kartu kredit. Jadi selama 4 tahun itu (2006-2010), saya memang digodog menjadi spesialis Credit Card Personal Loan.

Pada tahun 2011, saya sempat pindah ke ICBC untuk diperbantukan set up infrastrukturnya. Namun di sana saya tidak lama. Pada Mei 2011, saya pindah ke ANZ dengan jabatan Premium Card Product Manager.

Tanggung jawab dan tugas-tugas Anda?

Saya in charge di produk yang baru dilaunching. Kalau memang ada kebutuhan khusus dan pangsa pasar yang relevan, maka kami siap mengeluarkan produk baru. Produk tersebut tentunya harus melalui proses penggodogan agar sesuai dengan kebutuhan pasar. Di luar itu, saya juga mengelola semua produk yang sudah ada, yang paling penting sih memastikan bahwa produk tersebut memenuhi target finansial yang dibebankan pada setiap produknya.

Saya juga bertanggung jawab  untuk menentukan positioning produk kartu premium ANZ (Infinite, Black, dan Platinum card), serta mengelola proses untuk setiap produk kartu. Selain itu saya juga bertanggung jawab untuk mengelola key business partners sebagai bagian dari product feature (i.e. Starbucks, Priority Pass, Blitz Megaplex, airport lounges)

Kenapa Anda tertarik masuk ke perbankan, khususnya consumer banking?

Karena industri perbankan relevan dengan mata kuliah saya. Industri ini juga sangat menarik dan kalau ditanya kenapa pilihannya consumer banking, jawabannya adalah pergerakannya sangat dinamis. Banyak yang berhubungan dengan apa yang sudah saya pelajari waktu kuliah, terutama dari segi marketingnya. Lalu produk yang dijual ada aset, liability, kartu kredit, personal loan, dll. Menurut saya produk-produk tersebut sangat menarik sekarang ini karena menguasai pangsa pasar di Indonesia, terutama untuk kartu kreditnya.

Apa pencapaian Anda yang paling membanggakan?

Salah satu prestasi yang menurut saya paling membanggakan adalah lulus MT di Standard Chartered. Saya menikmati 2 tahun yang sangat bagus dan berkesempatan ikut training bersama semua manajer yang saya temui. Itu suatu pengalaman yang tidak mungkin terulang di tempat lain. Dari sana, saya mendapat exposure yang berbeda-beda.

Kalau pencapaian di ANZ, mungkin program outsale yang saya pegang sekarang ini terjalin cukup bagus dengan divisi priority banking-nya. Jadi antara kartu kredit dan segmen banking-nya bisa berpenetrasi sampai 60%, dimana hal tersebut mengindikasikan bahwa 6-10 customer saya sudah mempunyai kartu ANZ. Itu adalah salah satu penetrasi terbaik di Asia Pasifik.

Tantangan yang dihadapi?

So far sih happy. Kalaupun ada tantangan, itu tantangan yang baik. Misalnya, tidak mudah menjual suatu produk seperti kartu kredit (yang secara insentifnya tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan banking). Mereka mau menjual produk saya, itu sudah patut disyukuri. Dan yang terpenting, mereka jual itu bukan karena uang, tapi karena mereka percaya tujuan kartu tersebut bagus untuk nasabah mereka. Sekarang kartu ini sudah jadi salah satu alasan kenapa orang mau melakukan aktivitas perbankan dengan ANZ.

Terobosan yang ingin diterapkan?

Yang saya lihat sekarang ini, regulasi pemerintah tentang kartu kredit sudah sangat ketat. Pertumbuhannya bisa kurang bagus untuk beberapa tahun ke depan. Mungkin kalau ada yang mau saya purpose adalah tentang cross selling antara produk kartu kredit dengan banking tapi dengan cara yang secure. Konsepnya adalah, orang taruh uang lalu uang itu dilocked untuk menjadi kartu kredit. Tentunya ini untuk segmen pasar yang relevan seperti orang-orang  berpenghasilan Rp 10 juta ke bawah.

Apa sudah diimplementasikan?

Sebenarnya baru ide sendiri. Belum diajukan ke manajemen dan ini bukan ide yang mewakili ide ANZ. Tapi menurut saya, itu suatu ide yang worldwide untuk dieksplorasi. Karena dari dulu sebenarnya cita-cita saya satu adalah bikin kartu kredit untuk siswa. Memang ini sudah pernah dilakukan oleh beberapa bank, tapi saya belum dapat kabar mengenai berhasil tidaknya. Tapi dengan konsep secure, tetap orang yang menabung tersebut akan punya kartu kredit. Mestinya buat siswa pun tidak masalah.  Tapi itu musti ditelaah lagi, compete tidak dengan aturan BI?

Bagaimana cara Anda meningkatkan kompetensi diri?

Kalau menurut saya sih yang penting jangan pernah berhenti belajar. Jadi sesenior apapun kita, kalau kita berada di posisi baru/ bank baru, pasti ada hal-hal baru yang harus dipelajari lagi. Kebanyakan secara otodidak. Mungkin dengan antusiasme yang bagus, kita bisa belajar lebih banyak lagi. Kita juga musti berinteraksi dengan orang, salah satunya melalui training.  Di perusahaan sendiri, training sudah masuk ke dalam indeks KPA kami, minimal 1-2 training harus kami jalani untuk memenuhi penilaian tersebut.

Ambisi dan obsesi ke depan?

Kalau saya pribadi terus terang sudah sekitar 7-8 tahun di bidang yang sama yaitu bagian aset. Mungkin suatu saat kalau saya meneruskan karir di industri consumer banking, saya ingn mencoba dari sisi yang berbeda yaitu liabilities (retail banking segmen). Dan jika ada kesempatan, sebagai bankir yang mustinya dapat ilmu yang full tentang perbankan, tidak menutup kemungkinan saya ingin mencoba masuk ke industri corporate banking. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)