Ketut Sulistyawati, Bergelut Dengan User Experience

User experience adalah sikap, tingkah laku dan emosi pengguna saat menggunakan suatu produk, sistem atau jasa (merujuk definisi di Wikipedia). Profesi User Experience masih sangat sedikit di Indonesia. Tiga-empat tahun lalu, profesi ini masih jarang. Tapi, 1-2 tahun belakangan, mulai banyak diminati. Salah satunya, Ketut Sulistyawati, Founder Souma Consulting yang bergerak di bidang User Experience (UX).

“Kami sempat membuat survei tentang profesi ini, sekitar 100 orang yang merespon. Angkanya cukup besar tapi jika dibandingkan profesi lain masih sedikit. Aku pernah dengar, gajinya bisa mencapai Rp 80 juta di Indonesia,” katanya.

Kebanyakan, mereka yang menggeluti dunia ini adalah peralihan dari profesi lain seperti desainer grafis dan front end developer. Wanita cantik ini sendiri mengakui seringkali bidang UX disamakan dengan User Interface. Kenyataannya, User Interface adalah bagian dari UX.

“User Interface tugasnya membuat button, interaction seperti apa, banyak bermain di elemen visual, dan desain. Tugas UX menganalisis behaviour. Jadi, ada elemen psikologi user yang harus dipahami salah satunya dengan riset,” katanya.

Ketut Sulistyawati, Founder Souma Consulting Ketut Sulistyawati, Founder Souma Consulting

Yang paling penting, lanjut Ketut, seorang UX harus memahami sudut pandang bisnis. Mereka mesti bisa membantu bisnis lewat teknologi. Kedua elemen ini, yakni bisnis dan teknologi harus dipahami betul sehingga mereka bisa memberi solusi dan rekomendasi yang efektif. Pemahaman dan hasil riset digunakan untuk menciptakan solusi yang kreatif.

“Seorang UX bisa memiliki peran yang berbeda-beda. Ada peran yang tugasnya understanding user. Dia harus kuat di penelitian. Biasanya mereka memiliki latar belakang di antropologi, psikologi, jurnalistik. Mereka dituntut untuk kreatif juga kuat di background desain, teknologi, dan lain-lain,” katanya.

Untuk mengasah kompetensi, menurut wanita yang pernah bekerja di Dell Singapura ini, seorang UX harus terus belajar dan mengombinasikan semua pengetahuan. Pengalaman memang sangat berarti di profesi ini. Tapi, itu semua diperoleh lewat membaca, melihat tren terbaru, mengikuti perkembangan desain terkini, termasuk belajar dari banyak orang yang ahli di bidangnya masing-masing.

“Kita belajar dari sudut pandang mereka. Contoh, waktu riset, kami belajar dari mereka. Di Indonesia, profesi ini jarang meet up, kebanyakan resource-nya itu online atau belajar di luar negeri. Indikator suksesnya adalah saat solusi atau rekomendasi yang diberikan memberi pengaruh ke bisnis,” ujar Ketut.

Dia menilai seorang UX yang bagus harus bisa menciptakan kekompakan di antara semua orang yang terlibat dalam proyek. Ibarat penjahit yang membantu experience, back end, front end, desain, cara berbisnis, dan lainnya. Seorang UX juga harus punya kemampuan komunikasi dan negosiasi yang bagus.

“Percuma, kalau bisa menghasilkan desain yang bagus tapi tidak bisa membujuk klien/bos untuk menggunakan solusi yang dibuat. Kemampuan membuat desain dan negosiasi adalah dua hal yang berbeda. Tapi harus dikuasai,” katanya. (Reportase: Aulia Dhetira)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)