Kirana Limpaphayom Jadikan Perusahaan Tempat Belajar

Kirana Limpaphayom President Direktur PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITM), Kirana Limpaphayom.

Harga dan permintaan batu bara dunia yang terus bergejolak akhir-akhir ini, tak mampu menghalangi langkah strategis Kirana Limpaphayon, Presiden Direktur PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITM), untuk memajukan perusahaan yang dipimpinnya.

Dengan tangan dingin Kirana (42 tahun), kinerja ITM , produsen batu bara dalam afiliasi Banpu Group, disulap dari minus menjadi positif. Dalam setahun, laba bersih ITM melesat 107%, yaitu dari US$63,11 juta pada 2015 menjadi US$130,7 juta tahun 2016. Untuk produksi batu bara per September 2017 tercatat 16,5 juta ton. Sementara itu, penjualan bersih tahun 2016 sebesar US$1.367 juta dengan laba bersih sebesar US$131 juta. ITM juga membidik bisnis pembangkit listrik berkapasitas 2.000 megawatt (MW). Targetnya, kontribusi pendapatan dari bisnis ini pada tahun 2020 mencapai 30% dari total pendapatan.

Kiran bergabung dengan ITM sejak Maret 2016. Sebagai eksekutif asal Thailand, Kirana mengaku harus belajar bagaimana bisnis ITM di Indonesia dengan segala bentuk aturannya. Sebelum pindah ke Indonesia, ia bekerja di Banpu Group di Australia dan Thailand yang merupakan nama lain Indo Tambangraya Group di luar Indonesia. Ia berusaha menerima pekerjaan dengan segala tantangan yang ada serta memahami operating business ITM di Indonesia. “Menjadi pemimpin harus memahami ekspektasi para stakeholders dan orang-orang yang memberikan kontribusi kepada perusahaan. Saya berusaha dapat memberikan pelayanan terbaik bagi mereka,” ungkapnya.

Saat tiba di Indonesia tahun 2016, harga batubara dan komoditas di level global sedang menurun. Lalu, dia memutuskan untuk fokus pada cost control, cost reduction, dan efisiensi. Saat itu, Kirana dan tim berhasil mengantisipasi situasi tersebut berkat kerja sama yang solid. Dalam perkembangannya, September 2017 lalu, akhirnya kondisi industri batu bara kian membaik. “Tahun ini kami mencoba lebih aktif dalam mencari bisnis baru. Mulai mencari cadangan tambang batu bara baru, mencari bisnis baru, dan kami juga aktif dalam memperlebar cadangan tambang batu bara kami,” ujar lulusan Chulalongkorn University, Thailand.

Bisnis baru yang kini dirintis ITM lewat kepemimpinan Kirana adalah pengembangan pembangkit listrik dengan kapasitas 2.000 MW. ITM juga mulai gencar melakukan aksi ekspansi dan akuisisi. Dalam menghadapi kondisi bisnis yang  naik turun, Kirana  melakukan  efisiensi dan pengurangan biaya. Hasilnya,  kinerja perusahaan meningkat, seiring kenaikan harga batu bara di pasaran. ITM mencoba meningkatkan sedikit produksi dan memperluas cadangan batu bara. Ketika kondisi pembiayaan tinggi, strategi yang dilancarkan perusahaan adalah optimalisasi cadangan batu bara.

Kirana juga berusaha mengaplikasikan learning organization di ITM. Dia belajar banyak hal baru untuk memperbaiki bisnis perusahaan dan memahami iklim operasi tambang di Indonesia. Maklumlah, sebagai Chief Operating Officer (CEO)  ITM, dia  harus dapat melihat bisnis baru ke depannya. “Pemimpin tidak hanya berpikir apa yang dimiliki perusahaan sekarang, tapi harus memiliki masa depan. Harus dapat membaca kondisi & iklim perusahaan ke depan dan mencari sumber profit,” ujarnya.

Baginya, seorang pemimpin tidak hanya berpikir tentang bisnis dan teknologi baru,  tapi juga memastikan segala seluk beluk kebutuhan operasional yang sedang berjalan. Bekerja sama dengan sumber daya manusia yang ada dilakukan oleh seorang pemimpin untuk memastikan bisnis berjalan lancar. “Berkoordinasi dengan tim untuk membuat perusahaan sehat, safety, dan sesusai dengan good governance,” ungkapnya.

Gaya kepemimpinan setiap orang memiliki berbeda. Kekuatan dan kelemahan menjadi satu dan tak bisa dilepaskan. Menurutnya, tidak adil untuk mengikuti apa yang dirinya lakukan. “Masing-masing orang memiliki kelemahan dan kelebihannya sendiri. Selama mereka melakukan yang terbaik untuk perusahaan, saya kira baik saja apabila orang lain menggunakan gayanya sendiri,” ucapnya dengan rendah hati. Perannya sebagai pemimpin tertinggi di ITM membuat dirinya berusaha menjadikan perusahaan ini sebagai learning organization.

Nantinya, Kirana ingin perusahaan yang ia pimpin dapat belajar secara berkelanjutan untuk beradaptasi dengan perubahan yang ada. Pengetahuan baru, kemampuan baru, dan bisnis baru bisa didapatkan oleh semua yang terlibat dalam bisnis ini. Dalam menghadapi VUCA, dirinya berusaha untuk mendengar apa yang terjadi di luar perusahaan dan memastikan apa yang saat ini perusahan miliki dan tidak kami miliki di masa datang. “Pemimpin harus terbuka dan mendengarkan dari sisi internal dan eksternal perusahaan. Dia juga harus mengamati dan memahami apa yang terjadi saat ini secara global dan menangkap perubahan yang terjadi,” ungkap pria dengan gelar Ph.D dari University of Warwick, Inggris.

 

Reportase: Anastasia Anggoro Suksmonowati

www.swa.co.id

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)