Lika Liku Penny-Lulu Membesarkan Mimosabi

Penni Ahlani dan Lulu Sayydatu bisa dibilang memulai usahanya dengan modal nekat. Sejak mengawali bisnis sepatu pada 2008, Penni mengaku tidak memiliki pengetahuan apa apa. Meski demikian, ia nekat untuk memulai usahanya atas ajakan dari salah seorang rekan sekaligus ia hobi koleksi sepatu. Dan ia siap mengambil risiko sebagai modal utama calon wirausahawan.

“Saya juga punya backround pernah sebagai desainer di industri sepatu. Awalnya saya memang tidak terpikirkan kalau bisa menjadi wirausaha di industri sepatu. Tapi ada salah satu rekan saya yang mengajak untuk membuka usaha sepatu. Di situlah saya mulai diajarkan bagaimana caranya melakukan produksi  sepatu, baik dari lini produksi hingga memasarkannya. Jujur saja pada saat itu saya betul betul blank,” tutur Penni.

Berbekal pengetahuan yang minim, Penni mulai melakukan riset bersama istrinya mengenai jenis sepatu apa yang paling banyak diminati. Ternyata sepatu flatl yang banyak diminati. Dengan modal Rp 500 ribu, Penni membuat desain sepatunya dan dilabeli dengan nama Mimosabi. Penni dan Lulu memasarkannya melalui multiply dan iklan baris. Keunikan dari sepatu yang didesain adalah model bervariasi, sebab diproduksi handmade sehingga desainnya detail. Apalagi yang ditonjolkan adalah aplikasi di sepatu - sepatu tersebut. Puna, awalnya produksi sepatun Mimosabi dalam jumlah terbatas.

Penni dan Lulu  tidak menyangka  respons pasar luar biasa. Banyak yang menyukai motif sepatu ini dan melakukan repeat order. Bahkan banyak di antara pelanggan  yang menawarkan diri untuk menjadi reseller. Pada waktu itu Penni mengaku pihaknya belum begitu mengerti mengenai sistem pemasaran maupun quality control, sehingga ia memerlukan waktu selama 4 bulan untuk melakukan perbaikan. Hingga pada puncaknya omset mencapai Rp 400 juta.

“Dari produksi awal sebanyak 25 pasang, kami mendapatkan permintaan di atas 50 pasang. Hanya saja saat itu kami masih kesulitan di size. Dari situ saya masuk ke tahap produksi sendiri dengan sistem pre order. Kalau untuk 1 sampai 10 pasang saya rasa masih oke.Tapi kalau sudah di atas itu masih belum bisa. Karena belum ada sistem, karena  kami asal action saja dulu. Pada saat mengawali usaha, permasalahan  yang ditemukan adalah soal produksi. Kami menelaah apa yang kira kira harus diperbaiki. Contohnya masalah bahan, integritas tender, hingga akhirnya kami bisa mengatasi dan bisa berjalan dengan baik secara normal dalam waktu sekitar 4 bulan,” tambah Lulu

Saat ini, Penni memasarkan produknya dengan sistem keagenan. Ide ini muncul ketika ada seorang rekan asal Surabaya menanyakan bagaimana caranya untuk menjadi agen tunggal di kota tersebut. Karena memang belum pernah terpikirkan, alhasil Penni malah meminta pendapat dengan calon agennya.

“Karena saya belum paham di awal usaha, maka saya tanya saja dengan distributor di surabaya itu, maksudnya bagaimana. Jadi, distributor itu  yang memberi tahu, saya harus bayar lisensi atau sedia produk awal. Akhirnya tanpa tahu apa apa saya asal bilang iya harus bayar lisensi dan beli stok awal. Lisensi bayar Rp 5 juta. Hingga saat ini itu masih menjadi patokan jika menjadi distributor Mimosabi. Saat ini distributornya sekitar 44 agen di 44 kota,” tambah Penni

Saat ini, manajemen Mimosabi tidak lagi memikirkan produksi. Penni berpendapat bahwa terlalu berkonsentrasi di produksi saja tidaklah efektif. Maka dari itu, Penni dan Lulu  melakukan produksi dengan menggaet mitranya yakni pengerajin di sekitar Cibaduyut, sehingga pihaknya lebih fokus mengurusi masalah marketing.

“Saat ini sitem kerja kami lebih sederhana. Kami mulai menjalin mitra produksi di luar. Kira kira ada 7 mitra yang kami gandeng untuk produksi sepatu. Kapasitas produksi kami saat ini sudah 1.500 pasang per bulan.
Kami mematok harga sekitar Rp 159.000 per pasang,” ujar Lulu

Sebagai pasangan yang bergelut di bisnis yang sama, Penni dan Lulu berbagi tuga. Dengan background ilmu Desain Interior, Penni lebih fokus mengurus soal kualitas produk seperti desain sepatu, sedangkan Lulu lebih pada operasional usaha. “Kalau dulu semuanya dilakukan bersama-sama, kini  saya lebih concern ke desain,  sedangkan istri saya lebih concern ke keuangan. Lalu masalah data yang sifatnya inventoru  juga istri yang menangani,” tambah Penni

Hingga saat ini, bsisnis yang digeluti Penni dan Lulu belum berjalan mulus. Mempertahankan eksistensi menurut Penni merupakan salah satu tantangan terberat yang mereka hadapi selain bergelut dengan kendala di dalam seperti SDM dan finansial. Mengatasinya, Penni dan Lulu mengambil keputusan untuk menghiraukan kendala kendala yang sifatnya kecil sepeti keterbatasan produksi jika tidak menggaet mitra.

“Saya memilih untuk meninggalkan. Saya fokus ke pemasaraan. Karena wirausaha harus memilih depan atau belakang. Tapi marketing maunya barang. Saat ini saya juga berpikir bahwa sistem jaringan sudah tidak lagi secure. Oleh sebab itu, kami ke depannya berencana untuk memproduksi dan menjual produk ini dalam bentuk retail,” ujar Lulu menutup pembicaraan.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)