Lily Salim Sentuh UMKM dengan Cara Digital

Direktur Utama PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk., Lily Salim.

Perannya dalam memimpin sebuah perusahaan tak ubahnya seorang pria. Itulah sosok Lily Salim (Tan Lie Pin), Direktur Utama PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk. Berkat ketegasannya, ia berhasil membawahi 8 anak perusahaan.

Gaya leadership Lily tak ubahnya pemimpin laki-laki. Kecepatan dan kelugasannya sebagai seorang pemimpin berhasil membawa perusahaan ini survive di tengah gempuran produk perangkat telekomunikasi yang banyak masuk ke Indonesia. “Sejak tahun 1994 saya sudah berada di industri ini dan 10 tahun menjadi direktur utama,” ungkapnya.

Menurutnya, memulai karier di industri ini merupakan ‘kecelakaan,’ namun teknologi yang dinamis dari waktu ke waktu membuat dirinya tertantang dan berbeda. Berawal dari costumer service hingga direktur telah ia jalani. “Saya pernah di Global Teleshop, perusahaan cikal bakal Era Jaya dan perusahaan Singapura di Indonesia. Teknologi yang begitu cepat, mengharuskan saya untuk membawa perusahaan ke digital agar tak telindas,” ungkapnya.

Dari awal hingga tahun 2016, ia memimpin perusahaan ini sebagai bisnis distribution dan saat itu masih tradisional. Memasuki tahun 2016 hingga sekarang, perusahaan melakukan transformasi ke arah digital. “Jadi bisnis ini bersentuhan dengan UMKM, contohnya penjual pulsa yang ada di warung kecil. Saya memilliki tanggung jawab sosial kepada mereka. Habit orang berubah dari tradisional ke digital,” jelasnya. Kini perusahaannya telah membangun aplikasi bernama Teleshop.

Melalui Teleshop, UMKM dapat membeli berbagai produk (deposit) untuk dijual kembali seperti pulsa, token listrik, tiket kereta, air, BPJS, dan sebagainya. Teleshop berusaha membantu UMKM dengan modal yang cukup melalui perluasan layanan produk yang ditawarkan. “Saya sediakan juga handphone murah seharga Rp300 ribu yang dapat digunakan untuk mengoperasikan aplikasi Teleshop,” jelasnya. Aplikasi Teleshop telah digunakan sebanyak 25 ribu UMKM dan masih dalam tahap edukasi.

Selain itu, Tiphone tidak hanya mendigitalkan Payment Point Online Bank,  tetapi juga mengembankan e-commerce dan bisni O2O (online to offline) untuk menjembatani akses perbankan yang masih rendah di Indonesia. “Nanti reseller kami bisa difungsikan sebagai pusat pembayaran berbagai keperluan, dengan penetrasi hingga masuk ke kampung-kampuung,” katanya. Termasuk dalam rencananya, Tiphone juga akan mengembangkan e-money sebagaimana e-toll.

Ke depan Tiphone akan meluncurkan aplikasi yang memberikan pinjaman (fintech) bernama TeleFin. Saat ini masih dalam pengurusan izin. “Hal ini dilakukan karena kami telah mengetahui history mereka, jadi kami akan memberikan pinjaman dengan batas maksimum tertentu,” ungkapnya. Tiphone berusaha untuk bertransformasi dari perusahan distribusi tradisional ke bisnis digital salah satunya fintech.

Dalam gaya kepemimpinannya, Lily senantiasa mengontrol keadaan di lapangan dengan aktif blusukan, mengunjungi sejumlah daerah untuk meninjau kantor cabang dan area-area baru. Tiphone kini telah hadir di 192 kota dan mengoperasikan 400 gerai. Dilahirkan sebagai perempuan, Lily merasa bahwa pemimpin perempuan lebih teliti, memikirkan aspek-aspek yang tidak terpikirkan oleh para pria.

Ia mengedepankan pendekatan leadership yang egaliter dalam memimpin Tiphone. Ia memandang anak buahnya sebagai teman, bukan dalam hubungan atasan-bawahan. Membicarakan dan memecahkan permasalahan bersama menjadi cara yang ia lakukan selama ini. Dalam hal meningkatkan kompetensi, Lily banyak memperkaya diri dengan mengikuti seminar, update teknologi, dan bertukar pikiran dengan berbagai macam perusahaan. Hal ini juga memungkinkan untuk membina kerja sama  di kemudian hari.

Targetnya ke depan, akan mengonversi UMKM dari 250 ribu dapat tercapai 100 ribu, mengingat saat ini baru 25 ribu saja. Penambahan toko akan dilakukan lebih konservatif dengan target 200 toko ditahun 2018 secara nasional.

“Kami targetkan revenue tahun ini Rp31 triliun, meningkat 11% dari tahun 2017, sekitar Rp27 triliun,” ujarnya berharap. Impian besar pehobi meditasi ini adalah menjadikan Tiphone sebagai the largest digital offline sehingga nantinya bisa melayani semua online, karena yang sebenernya berhubungan langsung dengan customer adalah offline.

 

Reportase: Sri Niken Handayani

www.swa.co.idme

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)