Lusi Oktavia, Srikandi Jajaran Direksi Federal Oil

Siapa bilang berkarier di industrit otomotif hanya dapat dilakukan oleh pria. Perempuan juga memiliki kemampuan jika ada niat. Lusi Oktavia, Direktur Keuangan dan Admin Federal Oil membuktikan hal tersebut. Dalam mengemban tanggung jawabnya, ia bertugas untuk melakukan monitoring serta pengaturan upport controlling dari Federal Oil seperti finance, accounting, IT serta purchasing.

full_lusy

Memulai kariernya di dunia manufaktur tekstil chemical multinasional dan perusahaan boneka asal Amerika, Lusi memantapkan diri untuk melangkah dan bergabung di Federal Oil. Alasannya sederhana, rasa nasionalisme yang masih ada dalam dirinya membuat ibu dua anak kembar ingin berkontribusi lebih jauh bersama Federal.Dengan pengalamannya yang cukup mumpuni di perusahaan multinasional. Anak kedua dari dua bersaudara ini berharap dapat membawa federal oil ke arah yang lebih baik.

Dia mengaku, sebenarnya pengalaman bergabung dengan Federal ini menjadi tantangan baru. Pasalnya di sektor ini memang identik dengan laki laki. Selain itu, pengalaman sebelumnya di perusahaan multinasional,  ingin ia terapkan di Federal. Kalau ditanya kenapa, alasannya adalah karena Federal merupakan perusahaan asli Indonesia, di bawah merah putih. Namun yang menjadi kelabihan adalah kualitas people dan produk tidak kalah dengan perusahaan multinasional. "Saya juga melihat Federal cukup menjanjikan serta mendukung untuk bisa hebat di kancah internasional," tandasnya

Dalam berkarier, tentu saja tidak dilalui dengan mulus. Tantangan datang dari berbagai pintu. salah satunya adalah bagaimana pemanfaatan dana agar bisa digunakan secara efektif dan efisien. Sebagai koki dari dapur keuangan Federal Oil, Lusi  harus mengatur hal tersebut.

Lusi langsung turun tangan, terutama dalam menjembatani untuk keperluan operasional perusahaan. Ia menjalin komunikasi yang efektif dengan divisi sales & marketing. Apalagi pada saat itu kondisi ekonomi sedang mengalami perlambatan, sehingga tantangan yang dihadapi menjadi semakin besar.Selain itu, Lusi juga memfokuskan diri untuk mengelola risiko pada saat nilai tukar US$ sedang berfluktuasi secara signifikan.

Ia gigih terus mencari kerja sama dengan perbankan serta holding company untuk tetap melakukan manufer finansial. Perempuan asal Jakarta ini berupaya sebisa mungkin untuk meminimalisir kerugian yang dialami Federal Oil atas forex. Alhasil, tangan dingin lulusan S2 Akutansi Universitas YAI, Jakarta ini membuahkan hasil. Ia berhasil melakukan transformasi yang dapat menjadikan Federal oil tetap tumbuh meskipun kondisi ekonomi sedang tidak stabil.

Meski menorehkan prestasi, Lusi tidak berpuas diri. Ia terus mendorong dirinya dan Federal Oil untuk terus melakukan improvement. Baginya, kerja sama tim serta komitmen yang kuat merupakan hal yang paling penting dalam mencapai hal tersebut.

"Federal Oil ini usianya sudah memasuki tahun ke 27. Memang tidak mudah untuk melakukan perubahan secara signifikan. Namun dengan komitmen dari jajaran karyawan kami dapat melakukan transformasi.  Dengan memberikan perhatian itu, kami bisa mempertahankan diri di posisi yang memuaskan," tuturnya.

Sebagai  srikandi dalam jajaran direktur Federal Oil, Lusi juga tidak pernah ambil pusing mengenai perbedaan gender. Baginya, berhubungan dengan rekan pria memberinya manfaat tersendiri, terutama dalam cara berpikir dan mengambil keputusan. Ia mengombinasikan kedua hal tersebut dengan nilai nilai feminim yang ada dalam dirinya sebagai seorang perempuan sekaligus wanita karier.

"Memiliki rekan kerja pria membuat saya dapat belajar mengenai pendekatan logis. Mereka juga lebih sportif. Sebagai seorang perempuan, saya dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dari sisi yang tidak pernah terfikirkan oleh perempuan. jadi idenya lebih banyak dan lebih dinamis dalam sikapi kondisi," papar Lusi.

Keberhasilan Lusi tidak hanya dilihat dari kariernya. Dalam menjalani kehidupan berkeluarga pun ia berupaya semaksimal mungkin untuk memainkan perannya sebagai seorang ibu sekaligus istri. Setiap weekend, Ia menghabiskan waktu yang berkualitas dengan keluarga. Meski dulu kedua anaknya sempat protes akan kesibukan Lusi, tapi kini tidak lagi setelah diberikan pengertian.

Dalam melakukan pekerjaan, Lusi selalu berprinsip untuk bekerja keras dan sepenuh hati. Ia juga selalu menekuni apa yang sudah menjadi tujuannya. Baginya apa yang sudah menjadi masa lalu bukanlah hal yang harus diratapi, melainkan refleksi diri untuk dijadikan acuan agar bisa memperbaiki diri menjadi lebih baik.

"Saya dulu kuliah S1 sambil mengajar dan bekerja, hingga akhirnya saya mendapatkan beasiswa untuk lanjut ke jenjang magister. Saya terus bekerja keras, tekun dan sepenuh hati hingga akhirnya mencapai posisi di jajaran BOD," kenang Lusi menutup pembicaraan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)