M. Firdza Radiany, Tiap 'Ngantor' Ingin Selalu Berikan Nilai Tambah

Muhamad Firdza Radiany memang masih baru di jagad perbankan. Tapi semangat pria kelahiran Balikpapan, 20 Januari 1985 silam ini patut diacungi jempol. Bidang yang digelutinya sekarang berkutat di seputar Customer Market Insight. Lantas bagaimana ide-ide segar pehobi baca buku dan menggambar ini dalam menyukseskan salah satu bentuk consumer banking di  BNI ini? Berikut penuturan ayah dari Maziya Farza Radiany ini kepada Gustyanita Pratiwi dari SWA Online:

M. Firdza Radiany M. Firdza Radiany

Bagaimana perjalanan karier Anda selama ini?

Saya lulus S1 Teknik Elektro, Universitas Diponegoro tepatnya 5 tahun lalu. Saya pertama bekerja di Bank Niaga Cabang Semarang bagian Commercial Banking. Di sana saya bertahan sampai 2,5 tahun. Lalu saya ikut program ODP BNI antara tahun 2009/2010. Penempatan pertama saya di kantor pusat BNI, khususnya di bagian Project BNI Reformasi. Sebenarnya waktu itu saya sudah pegang Consumer Banking, meskipun baru pegang proyeknya. Namun setelah itu, saya ditempatkan di divisi Consumer Banking yang sebenarnya. Sebelumnya saya sempat ada di Segmen Emerald Affluent yang berurusan dengan nasabah premium kami. Di sana saya bertahan setengah tahun karena selanjutnya saya kembali dipindah ke Unit Customer Insight sampai sekarang.

Kenapa Anda tertarik bekerja di industri perbankan?

Jadi industri ini sangat dinamis dan sesuai dengan passion saya. Apalagi sekarang saya bekerja di bagian strategic planning, dimana kami menentukan kajian-kajian yang dilakukan sehingga memunculkan program-program baru agar kinerja kami meningkat.

Tugas-tugas Anda?

Unit saya berfungsi untuk melakukan kajian riset berdasarkan suara nasabah. Kami juga melakukan kajian eksternal (misalnya kondisi perbankan saat ini bagaimana), kajian internal, serta customer voice untuk setiap produk baru kami. Kajian-kajian ini didapat dari survey maupun FGD.

Ide atau terobosan yang ingin Anda implementasikan untuk meningkatkan consumer banking di industri perbankan?

Persaingan di dunia perbankan sektor consumer di Indonesia saat ini semakin ketat. Banyaknya variasi program yang ditawarkan oleh bank-bank membuat nasabah individu semakin cerdas dalam menentukan MFI (Main Financial Institution). Sejak tahun 2012, sebagai diferensiasi untuk meningkatkan daya saing dan lebih memahami nasabahnya, BNI melibatkan komunitas-komunitas nasabah-nasabahnya. Konsepnya adalah Customer Centric à Segmentasi à Komunitas

Tahun 2010, BNI mengubah bisnis modelnya yang semula Product Centric menjadi Customer Centric. Pendekatan ini diyakini dapat mengakomodir kebutuhan dan keinginan nasabah serta meningkatkan kinerja bisnisnya.

Menurut Tandberg (2009), "Fondasi Utama dari Customer Centric adalah Segmentasi". Jika sebuah perusahaan ingin lebih mengetahui keinginan dan kebutuhan nasabah yang sebenarnya, maka lakukanlah segmentasi. Berdasarkan uji statistik demografi dan behaviour nasabah BNI, kami telah menentukan segmentasi untuk nasabah-nasabah kami yang terbagi menjadi 4 segmen makro. Dari situ lalu di sub-segmentasikan lebih spesifik lagi menjadi 15 segmen mikro. Setiap kumpulan nasabah yang tersegmentasikan pada tiap-tiap segmen memiliki karakteristik dan behaviour yang unik dan berbeda-beda.

Bentuk pengejawantahan nyata dari segmen mikro adalah komunitas. Segmentasi yang sebenarnya hanya ada di pikiran atau "kacamata" perusahaan atau pemasar saja, nasabah-nasabah sebenarnya tidak tahu atau tidak perduli masuk ke segmentasi mana. Yang mereka perduli adalah masuk ke komunitas mana dan perusahaan mana yang mengakomodir aktivitas dari komunitas tersebut.

Apakah Strategi Akuisisi Komunitas Berbasis Customer Centric ini menguntungkan bagi BNI?

Ya, misalnya di Komunitas Sepakbola (FC Chelsea). BNI mengakuisisi komunitas ini melalui produk BNI Chelsea FC Debit Card & Credit Card, program nonton langsung Chelsea di London, dan event activation nonton bareng Chelsea FC di segenap kota di Indonesia. Di sini kami berhasil mengakuisisi 150.000 penggemar Chelsea di Indonesia.

Lalu untuk akuisisi komunitas di segmen High Net Worth, BNI bekerja sama dengan komunitas HOG (Harley Owner Group) yang merupakan wadah bagi pemilik motor gede se-Indonesia. Melalui Produk Wealth Management, Program Diskon Member, dan Event Activation Touring, BNI ikut serta menjalankan aktivitas-aktivitas yang dilakukkan komunitas ini. Bahkan, nasabah-nasabah di Komunitas ini ikut serta memberikan masukan dalam Program yang akan BNI berikan untuk mereka. Jadi akuisisi Komunitas HOG ini berperan besar dalam pertumbuhan portofolio AUM (Asset Under Management) untuk segmen High Net Worth di BNI.

Keberhasilan strategi akuisisi komunitas berbasis customer centric yang dilakukan BNI membuktikan bahwa, pertama, strategi akuisisi komunitas yang didahului dengan mengetahui keinginan dan kebutuhan nasabah yang tepat dapat meningkatkan kinerja bisnis perusahaan. Kedua, perusahan harus bertingkah-laku dan ikut berkativitas layaknya behaviour komunitas jika ingin terjadi proses enganging. Ketiga, perusahaan bisa menjadi rumah atau wadah bagi komunitas untuk bersama-sama beraktivitas dan berkreasi menciptakan produk/program/layanan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan nasabah.

Lalu bagaimana cara Anda meningkatkan kompetensi diri?

Di perusahaan secara rutin pasti ada pelatihan dan seminar. Selain itu, cara yang paling gampang untuk meningkatkan diri adalah kita harus punya role model di kantor. Utamanya  role model tersebut harus memiliki perilaku yang baik dan kemampuan untuk menggerakkan anak buahnya agar mau mengikuti perintahnya tapi juga tetap senang.

Di kantor saya kebetulan ada contoh pemimpin yang seperti itu. Kalaupun tidak ada, ya tetap dibalik saja. Kita jangan sampai mencontoh tipe pemimpin yang tidak baik. Jadi tiap pemimpin itu pasti punya plus dan minusnya. Intinya kita kumpulkan saja plusnya itu, walaupun sebenarnya setiap orang juga punya karakter yang berbeda-beda. Atau kita bisa memposisikan diri, seandainya kita jadi bos, maka bos seperti apa yang kira-kira disenangi oleh anak buahnya.

Target dan obsesi Anda ke depan?

Kalau karier, manusiawi ya jika setiap karyawan ingin mencapai posisi tertentu yang baik. Tapi itu nomor 2 lah bagi saya. Yang penting adalah, tiap saya ke kantor, saya harus memberikan nilai tambah bagi atasan maupun lingkungan kerja saya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)