Marcus Mempertemukan Penjual dan Pembeli Barang Bekas

Dunia digital memudahkan konsumen untuk menemukan berbagai produk, bahkan barang bekas sekalipun. Kebutuhan barang bekas masih di minati, dan peluang ini ditangkap oleh Marcus Tan Co, Founder Carousell.

“Di Singapura, buku bekas kuliah banyak dicari, selain itu barang fesyen seperti pakaian dan tas juga diminati, tapi sulit dicari. Oleh karena itu, kami berpikir bagaimana caranya bisa menyediakan tempat untuk mempertemukan pembeli dan penjual barang bekas atau pre loved," jelas Marcus.

Ia bersama Lucas Ngoo dan Quek Siu Rui sepakat untuk mendirikan Carousell pada Mei 2012 di Singapura. Pada 2014 Carousell pun masuk ke Indonesia. Untuk menjaring konsumen, Carousell melakukan strategi yang berbeda, salah satunya dengan membuat komunitas.

Caroussel

Menurut pria lulusan Business Administration and Entrepreneurship di National University of Singapore dan Stanford University (melalui NUS Overseas College Program di Silicon Valley California) ini, setiap konsumen dan penjual di Carrousel bisa membuat komunitas tertentu. Hal tersebut disesuaikan dengan minat mereka dalam suatu barang atau brand tertentu.

Selain itu ada juga komunitas khusus untuk anak kampus, hingga saat ini sudah ada puluhan kampus dan ribuan mahasiswa yang bergabung.  Beberapa diataranya adalah London School Public Relation (LSPR), Universitas Indonesia (UI), dll. Target konsumen Carousel merupakan anak muda dari usia 17 hingga 35 tahun, sehingga strategi ini pun dirasakan mampu menjangkau konsumen mereka.

Strategi lain yang dilakukan adalah dengan menggelar berbagai pertemuan seperti pertemuan komunitas di Surabaya, Jakarta, dan Bandung. Lalu ada juga pertemuan khusus bloggers, youtubers, sosial media, dll. Mereka juga mengadakan campus ambassadors party ambassador.

Menurut pria yang pernah menjadi product manager di Wikinvest ini, di Singapura marketplace ini terkenal di kalangan mahasiswa sehingga ia berharap mahasiswa Indonesia  juga mau menggunakan aplikasi ini. Sejak pertama kali diluncurkan bisnis aplikasi ini bertumbuh 20 kali lipat, meski begitu ia menolak memberikan angka pastinya.

Marketplace ini juga didukung oleh Venture Capitalists Sequoia Capital, Rakuten Ventures, 500 Startups, dan Golden Gate Ventures dan QuestVC. Tidak hanya di Singapura dan Indonesia, aplikasi ini juga sudah ada di 12 kota besar di dunia seperti Taipei dan Hong Kong.

Menurut pria yang pernah bekerja di Oracle selama satu tahun ini, generasi millenial merupakan kelompok yang paling gemar jual beli barang melalui smartphone. Mereka mampu menghasilkan 33 juta listings di Carousell terhitung tanggal 31 Mei 2016.

Di Carousell, Marcus mengawasi urusan desain, operasional, dan talent. Setelah diluncurkannya Carousell pada May 2012 lalu, Marcus telah terlibat dalam segala permasalahan desain dan community building. Ia merupakan seorang desainer otodidak yang sangat menyukai user interface simpel.

Pendekatannya terhadap desain dapat dilihat pada tampilan aplikasi Carousell yang bersih dan intuitif. Menurut pria berusia 32 tahun ini, kebanyakan anak muda lebih suka dengan desain yang simple sehingga memudahkan mereka dalam menggunakan aplikasi. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)