Didi Menyulap Kayu Menjadi Lampu Tidur Anak

Kayu bekas sering dianggap barang usang yang sudah tidak bisa digunakan lagi. Akhirnya cuma jadi tumpukan yang tidak sedap dipandang. Akan tetapi di tangan seorang Didi Diarsa, kayu-kayu itu menjadi bernilai tambah. Ditemui saat sedang menjadi pembicara sesi Greenpreneur di Weekend Bareng HiLo, Didi menceritakan tentang usaha “hijau” nya ini kepada SWA Online.

Didi Diarsa, CO Founder Eclo (Photo by Tiffany) Didi Diarsa, CO Founder Eclo (Photo by Tiffany)

Didi memulai usaha sekitar 2 bulan lalu tepatnya Februari 2015. Usaha yang terbilang sangat baru ini berawal dari ide sederhana. Melihat dari permasalahan sekitar kemudian Didi mencari solusinya. “Saya melihat Indonesia itu kaya akan SDA dan SDM. Memiliki potensi yang lebih, tapi sayangnya anak muda sekarang kurang menyadari potensi craftsmanship ini,” katanya.

Idenya ini juga merupakan hasil perjalanannya ke Finlandia. Di sana ia menemukan bahwa anak-anak sudah bisa melakukan kegiatan pertukangan seperti menggergaji. Ternyata anak-anak itu sudah memiliki skill sejak kecil, mereka dilatih sejak awal untuk bisa melakukan hal tersebut. Dia berpendapat bahwa Indonesia sudah memiliki craftmanship yang bagus, seharusnya sudah mulai dikembangkan dan dapat menghasilkan uang. Intinya skill dasar memang harus dimiliki semua orang.

Sarjana Geografi Universitas Negeri Jakarta ini memulai bisnis ecofriendly furniture nya dengan menggunakan sisa kayu yang tidak terpakai dan kayu pallet. Dia lebih memilih memanfaatkan barang recycle untuk membuat lampu tidur untuk anak-anak. “Segmentasi saya memang anak-anak. Tapi tidak memungkiri kalau orang dewasa juga bisa menggunakannya. Lampu ini dapat memberikan manfaat 10-20 tahun mendatang. Kenapa saya memilih kayu? Karena kayu itu auranya positif dan memberikan kehangatan. Feel at home, ” paparnya.

Lampu tersebut didesain secara unik. Didi membuat berbagai macam bentuk hewan seperti rusa, kelinci, landak, dan lain-lain. Dengan harga jual sebesar Rp350 ribu, setiap bulannya Didi mampu menjual hampir sebanyak 300 unit. Didi mengaku bahwa ia mencoba membawa produk tersebut ke pasar global seperti Australia, Jerman, Jepang, Korea, dan Dubai.

Di luar negeri produknya disukai karena memang mereka hanya menggunakan lampu kecil ketika tidur. Kondisi ini berbeda dengan kebiasaan di Indonesia yang jarang mematikan lampu ketika tidur. “Di luar negeri produk dari hasil recycle lebih dihargai sehingga harga semakin meningkat. Saya memiliki agen di Australia yang mendistribusikan lampu ini ke luar negeri. Sedangkan di Indonesia saya sudah memasarkan hampir ke seluruh Indonesia. Salah satunya toko di Bali,” ungkap pria yang memiliki workshop bernama Kode Margonda di Depok ini.

Ketika ditanya mengenai apa ia bisa disebut sebagai pengusaha hijau, Didi mengatakan bahwa dalam berbisnis harus menyeimbangkan antara people, planet, dan profit. Saat ini orang sudah bisa membedakan mana produk yang ramah lingkungan walaupun harus bayar dengan harga yang lebih mahal. Mereka sadar bahwa alam tetap terjaga, misalnya menebang satu pohon tanam 1.000 pohon.

“Jadi dalam berbisnis harus tetap menjaga alam tapi tetap dapat income,” tambahnya. Kedepannya, usaha yang melakukan penjualan secara online ini akan terus melakukan inovasi produk dengan membuat berbagai jenis bentuk lampu tematik seperti monumen, lampu plus USB, dan lain sebagainya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)