Mia Fawzia, Dari Agensi ke Dunia E-commerce

Lebih dari 16 tahun menggeluti dunia agensi nasional dan multinasional, tidak membuat Mia Fawzia terlena di comfort zone. Itulah sebabnya, sejak satu tahun terakhir, dia berani memutuskan untuk memasuki dunia baru di bidang teknologi.

Tepatnya, pada September 2018, Mia bergabung dengan JD.ID sebagai Marketin Chief. Ini adalah perusahaan e-commerce yang pertama kali dijajaki. ”Sebenarnya sejak Agustus saya sudah bergabung dengan JD.ID. Namun, karena ada beberapa pekerjaaan di tempat lama yang harus diselesaikan, maka baru resmi bergabung dengan JD.ID September lalu,” ungkap wanita kelahiran Jakarta, 28 Februari itu.

Selama 16 tahun di agensi, Mia merasa harus ada sesuatu yang baru. Di agensi itu berhadapan dengan multibrand, menghadapi aneka problem dan memberikan solusi ke klien agar puas. Di agensi posisi terakhirnya sebagai Managing Director Divisi Digital di Grup Havas.

Pada 5 tahun awal di 2003, Mia bekerja di perusahaan agensi lokal, yaitu Maxima Corp. Dari situ, dia berlabuh ke multinational company agency, yakni Grup M (WPP Group) selama 5 tahun. Setelah itu, pindah lagi ke Dentsu Aegis Network selama 3 tahun. Kemudian, bekerja di Havas Group selama 3,5 tahun. Begitu seterusnya dari satu perusahaan agensi multinasional pindah ke agensi yang lain.

“Saat itu banyak tawaran bekerja di technology company, baik itu e-commerce, startup maupun technology finance. Ada yang tawaran langsung ada pula yang melalui headhunter,” kenang Mia saat ditanya apakah kepindahannya ke JD.ID dibajak atau berburu pekerjaan sendiri. Tawaran yang datang kebanyakan memimpin departemen marketing. Sebab keterkaitan agensi dengan dunia marketing sangat tinggi.

“Boleh dibilang saya adalah multi touch dari semua agensi. Di Grup M saya bekerja sebagai sponsorship content, lalu pindah ke divisi media, public relation, event, dan digital selama 16 tahun. Jadi, hampir semua aspek komunikasi marketing sudah pernah saya jalani. Akhirnya saya memimpin sebuah grup besar,” jelas pehobi belanja online, mulai groceries hingga kebutuhan sekolah anak

Bila ditarik garis besar, menurut Mia, yang relevan dengan pekerjaanya adalah dunia marketing. “Sebab, marketing itu do all the aspect. Rata-rata tawaran yang datang adalah chief marketing department. Dari semua tawaran yang datang kebanyakan menarik. Habis ngobrol dengan CEO perusahaan yang nawarin kerja, manis-manis semua ceritanya,” jelas`Mia. Sampai akhirnya Mia mengklaim sebagai agency person, karena di posisinya terakhir sebagai profesional di perusahaan agensi multinasional sudah memiliki 8 direktur dari ekspatriat asal India, Singapura, Filipina, dan Malaysia.

Dulu, di agensi sebagai konsultan, klien sering menghadapi masalah yang dikeluhkan adalah engagement, awareness, loyalty, transaksi, atau retention. “Dan kami sebagai konsultan sudah tahu obatnya apa sebagai pemecahan masalah yang dihadapi klien,” ungkapnya. Pembahasan brand klien di agensi adalah seputar evaluasi, solusi, strategi, Key Performance Index, dan sebagainya.

Keputusan Mia untuk pindah perusahaan bekerja, sejatinya banyak disayangkan koleganya, Maklum, berada di satu titik comfort zone, ngapain juga pindah.”Tapi, I not need this,” ujar Mia berkilah. Akhirnya, dia tertarik mengikuti saran temannya untuk dicoba dulu “kolam baru” bidang teknologi. Sebab, 16 tahun lebih mengurusi brand orang lain, lebih baik fokus bekerja di satu brand milik perusahaan tempatnya bekerja yang baru.

Ada 4 alasam utama, mengapa akhirnya Mia memutuskan untuk lebih menjatuhkan pilihan ke JD.ID. Pertama, CEO JD.ID, Zhang Li sangat suportif. Kedua, JD.ID memiliki iklim yang sangat kondusif bagi perempuan/wanita untuk mengembangkan kariernya. Ketiga, meskipun JD.ID merupakan perusahan teknologi e-commerce, namun saat ini jumlah karyawan perempuan/wanita mencapai 50 persen. Keempat, JD.ID merupakan perusahaan baru yang berkembang dan besar.

“Tadinya saya naïf, sebagai konsumen ,saya pikir semua e-commerce sama. Namun, setelah saya bertemu dengan orang-orang e-commerce jadi tahu bedanya dan banyak ilmu yang didapat,” jelasnya tentang kekagumaman Mia terhadap sistem kerja di e-commerce.. Apalagi, bisnis future adalah online atau digital yang didukung oleh teknologi Big Data.

Sebagai Marketing Chief JD.ID, tugas dan tanggungjawab yang diemban Mia adalah mengepalai semua yang berhubungan dengan masalah komunikasi, seperti digital, promosi, public relations dan marketing communications.

Mia menjelaskan, barang yang dijual JD.ID dijamin ori, karena manajemen JD.ID sendiri yang kulakan barang dari prinsipal masing-masing merek. Lalu, produk-produk itu disimpan di gudang JD.ID. Total karyawan JD.ID Indonesia 2000-an orang. Ada 11 gudang di 6 kota, yakni Jakarta, Surabaya, Pontianak, Medan, Makasar, dan Semarang. Sedangkan tim yang dibawahi Mia di JD.ID sekitar 80 orang.

Pekerjaan baru di JD.ID diakui Mia sangat menantang, Tiap hari dia pulang kantor jam 9 atau 10 malam. Apalagi kalau ada event Harbolnas atau ultah JD.ID malah bisa tidak pulang. Bersama timnya, dia menginap di kantor. Sebab, Mia dan tim harus menyusun strategi promosi dalam hitungan menit agar penjualan JD.ID terus meningkat.

Mia menargetkan, ke depan, JD.ID harus menjadi e-commerce nomor 1. Kapan itu terjadi? “Relatif. Kerja sebaik-baiknya untuk mencapai target itu. Strategi kami adalah harus meningkatkan kesadaran orang tentang brand JD.ID dan sustainability tentang kepercayaan masyarakat,” jelas eksekutif wanita yang selalu tampil energik dan murah senyum ini.

Ya, suatu tugas menyenangkan atau tidak tergantung masing-masing orang. Bagi Mia, belajar hal-hal yang baru adalah tantangan sekaligus menyenangkan. Makanya dia juga menjadi dosen S1 Strategi Komunikasi di Universitas Indonesia (Depok) dan Universitas Bakrie (Jakarta). Dia mengajarkan apa yang terjadi di dunia usaha secara nyata kepada para mahasiswanya. Jadi, tidak sekadar teori. Tapi, bisa belajar langsung diskusi dan contoh kasus.

“Saya mulai mengajar di kampus setelah lulus S2-Master dari Westimer University London. Sejak tahun 2003 atau sebelum terjun ke dunia agensi.” kenang Mia tentang pekerjaan awalnya sebagai dosen di almamaternya S1, jurusan Komunikasi, Universitas Indonesia. Setelah bekerja di agensi hingga sekarang, Mia mengajar di UI dan Universitas Bakrie seminggu sekali.

Bagi Mia, perempuan itu multitasking, harus jadi, isteri, ibu dari anak-anak dan bekerja di kantor. “Jadi Kartini zaman sekarang itu kesetaraan harus diraih. Harus ditunjukkan ke orang bahwa kita bisa,” ujarnya saat disinggung emansipasi wanita di Hari Kartini.

Peran sebagai pendidik, gaya kepemimpinan Mia bersifat terbuka dan tegas kepada para mahasiswa. “Saya termasuk dosen yang pelit kasih nilai. Tapi, saya justru terpilih jadi dosen favorit di UI sebanyak tiga kali. Bukan karena murah nilai, tapi bersikap terbuka kepada mahasiwa dan banyak mengajak diskusi secara langsung. Semua mahasiswa boleh bicara atau berpendapat, komunikasiya dua arah,” ungkapnya.

Di rumah, Mia berperan sebagai ibu yang mengayomi. “Saya usahakan bersikap sesuai hak dan kewajiban sebagai ibu dan isteri. Anak-anak dan suami berhak atas perhatian dan pelayanan dari saya,” kata ibu 3 anak: yang sedang menempuh pendidikan di SMP Lab School Rawamangun, SMA Lab School Rawamangun dan kuliah di Fakultas Ilmu Komputer UI.

Kunci sukses apa? “Saya sepenuhnya didukung oleh suami. Kerelaan suami yang mengizinkan bekerja menjadi kekuatan dan motivasi saya bekerja maksimal,” ujar Mia yang pernah mendapat penghargaanThe Best Team Leader & Raising Star Award dari WPP Group M Asia Pacific. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)