Mustofa Romdloni, Ingin Punya Kerajaan Bisnis

Mustofa Romdloni, bukan tipe yang betah diam dan berada di posisi yang itu-itu saja sejak masih kuliah. Kegiatannya ketika kuliah di Teknik Kimia Universitas Diponegoro, Semarang pun seabrek. Aktifis kampus kelahiran Boyolali 1977 ini pun tidak betah di satu perusahaan kala mulai bekerja setelah lulus tahun 2000.

Tak heran ketika ia mulai berwirausaha, bukan satu perusahaan yang dia miliki tapi lebih dari tiga. Ada perusahaan pembuatan biji plastik, konsultan pemasaran terkait produk-produk plastic, properti, bahkan pabrik terasi. Pria yang kini menjabat sebagai Presiden TDA (Tangan di Atas)--sebuah komunitas wirausaha terbesar di Indonesia--bukan sekejap mata bisa memiliki banyak usaha.

Ia sempat banyak berhutang melalui KTA dan Kartu Kredit untuk membantu rintisan usahanya. Tapi kerja keras serta yang ia yakini jalan dari Sang Pemberi Hidup, membuatnya kini justru pemilik rekening milyaran. Tidak ada lagi hutang dan tagihan. “Masih pakai kartu kredit, tapi setiap belanja sekarang dibayar lunas sebelum berbunga,” ujarnya tersenyum.

Mustofa Ramdloni, Presiden TDA (Tangan di Atas) Mustofa Ramdloni, Presiden TDA (Tangan di Atas)

Mustofa lahir dari keluarga sederhana, anak kelima dari senam bersaudara ini sempat bekerja di pabrik keramik Roman Royal hanya 5 bulan, lalu pindah ke pabrik part elektronik juga hanya 6-7 bulan, kemudian pindah ke perusahaan Jepang, yaitu Riken Asahi Plastic Indonesia (kala itu masih menggunakan Asahi, sekarang namanya Riken Indonesia) sebuah perusahaan pengolahan plastic. Di perusahaan Jepang ini ia cukup lama.

“Ada ketidakpuasan di tempat bekerja yang membuat saya lompat-lompat perusahaan dalam waktu setahun. Meskipun dalam urusan performa kerja, saya selalu mendapat nilai maksimal atau A,” kenangnya.

Ia pun akhirnya memutuskan mencari pekerjaan sampingan. Mulai dari bisnis MLM, limbah plastik, hingga ekspedisi. Bahkan, untuk bisnis yang terakhir, ia sempat terlilit utang hingga hampir Rp 100 juta untuk membeli truk bekas. Penyebabnya, kliennya tak mau membayar sewa setelah dua bulan pengiriman. Mereka beralasan barang yang dikirim tidak sesuai dengan spesifikasi yang dipesan.

Namun, Mustofa tidak kapok berbisnis. Ia masih yakin dengan niatnya untuk merintis usaha secara penuh, alias tidak disambi kerja. Tak heran, sembari terus mengurus bisnis limbah plastiknya, ia juga pernah mencoba berjualan sandal, jaket kulit, speaker, termasuk menjajal bisnis rumah makan dengan menu utamanya ayam bakar. Hasilnya digunakan untuk mencicil utang yang menggunung.

Berkat kerja keras pantang menyerahnya, garis hidupnya berubah drastis. Ia kini memiliki sejumlah perusahaan, mulai dari pengolahan limbah plastik yakni PT ABC Plastindo serta konsultan dan pemasaran plastik yaitu PT Zenith Material Solution. Ia memang bercita-cita memiliki kerajaan bisnis seperti halnya Chairul Tanjung dan Hary Tanoesoedibjo.

“Saya ingin punya usaha dalam bentuk grup bisnis, usahanya banyak, karyawan banyak dan terus maju. Selain dua perusahaan itu, saya juga punya pabrik terasi, dan perusahaan properti di Bekasi. Bisnis itu kerjasama, rangkul ahlinya. Kebetulan dapat, saya tidak mencari, tapi dipertemukan,” katanya. (Reportase: Herning Banirestu)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)