Natali Ardianto: Jangan Pernah Takut Jadi Startup

Saat ini tidak dipungkiri lagi bisnis online sedang mengalami masa pertumbuhan yang pesat. Banyak jasa yang ditawarkan di industri ini, salah satunya jasa penjualan tiket. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Natali Ardianto, Co-Founder & CTO Tiket.com yang sudah dua tahun lebih bermain dalam industri ini.

Natali berhasil mengembangkan Tiket.com sebagai salah satu perusahaan startup skala nasional. Ia punya target dalam tahun depan akan melakukan ekspansi ke luar negeri seperti Australia dan China, dengan cara melayani penerbangan dan konser internasional. Bagaimana kisah jatuh bangun Natali menjalankan perusahaan ini? Berikut wawancara Reporter SWA Mochamad Januar Rizki dengan Natali:

Natali-Tiket

Bagaimana latar Belakang Tiket.com didirikan?

Pertama kali mendapatkan investasi tepat dua tahun lalu di bulan Agustus 2011. Setelah itu kami kembangkan website dalam seratus hari. Jadi, 30 November 2011 kami live dengan 250 hotel direct contract. Sekarang, kita sudah ada 1700 hotel dan melayani konser-konser besar. Saat ini kita juga sudah menjadi TMS, Ticket Management System. Jadi, dari printing tiket, penukaran. Pokoknya sekarang dari ujung ke ujung bisa kami yang urus.

Apa kendala awal mendirikan Tiket.com?

Ada dua hal yang paling besar. Masalah dana dan human resource. Indonesia umumnya orang yang baru lulus ingin langsung bekerja di perusahaan besar. Saat itu, kami yang dulu masih perusahaan kecil belum punya nama. Jadi, sangat susah mendapatkan talent. Mulai Mei ini kami juga sudah mendapatkan profit jadi tidak pakai uang investor lagi. Waktu awal-awal tim cuma 12 orang. Saat ini sudah ada 80 orang.

Ke depan apa rencana dari Tiket.com?

Mulai 1 November ini kami akan mengadakan jasa untuk rent a car. Target kami di tahun 2014 ini go international atau ekspansi ke luar negeri. Jadi, saat ini tiket pesawat dan konser kami hanya melayani nasional aja. Mulai tahun depan kita melayani penerbangan atau yang lainnya seperti konser untuk luar negeri.

Tahun 2014 akan ekspansi ke luar. Apa akan berganti nama juga?

Tidak. Nama Tiket.com sudah ciri khas banget dan mudah diingat.

Apa yang membuat Anda berani bermain di industri ini?

Awalnya kami gemes. Karena, banyak pemain di Indonesia justru dari luar. Ini kan pajaknya enggak ada yang masuk ke Indonesia. Saat ini kita sedang mengalami penjajahan digital. Kami enggak mau ini berlarut-larut. Sebenarnya, potensi orang Indonesia hebat-hebat. Contohnya, waktu saya presentasi mengenai konser Pitbull dan Bruno Marz. Penjualan di Indonesia sangat hebat. Pertama, kita takut masuk industri kayak gini. Kedua, teknologi. Ketiga, kami enggak punya track record bisnis kayak gini. Kalo startup ini harus long term untuk dapat keuntungan.

Untuk motivasi bagi orang yang ingin membentuk perusahaan startup. Apa kiat-kiat dari Anda?

Untuk orang-orang yang ingin mendirikan perusahaan startup, syaratnya cuma satu. Coba e-commerce dulu aja. Kita jangan ngelihat Facebook atau Twitter. Ini merupakan fondasi dan bisa dapat pengalaman bisnis. Kalo fondasinya sudah kuat ini akan mudah. Kalau gagal, fondasi kan masih ada. Indonesia punya pasar yang sangat besar. Orang Indonesia harus mulai dari sekarang. Karena saat perdagangan bebas nanti, kita akan bersaing dengan negara-negara lain. Kita bisa kalah kompetisi sama negara lain.

Bagaimana tanggapan Anda dengan pajak di bisnis online?

Industri belum bertumbuh tapi sudah ada pajak. Kami belum apa-apa aja sudah dikenakan pajak. Contoh, ada pajak 1 persen. Kelihatannya kan baik sekali pemerintah. Tapi, kalau dari gross ini terasa. Ini juga berdampak dengan industri pariwisata Indonesia -umumnya bisnis tiket online melayani jasa penjualan tiket pesawat-.

Banyak bisnis online mengalami stagnan. Apa pandangan Anda?

Orang Indonesia ini pinter tapi keblinger. Saya punya pengalaman, saat itu saya meminta orang-orang untuk merancang tapi mereka enggak bisa, karena mereka cuma doer. Lalu, marketing juga perlu dipikirkan. Saya selalu bilang, kepada orang-orang yang ingin startup bahwa mereka selalu menyabotase diri. Dalam diri mereka langsung berpikiran bahwa mereka enggak bisa melakukan bisnis ini. Belum dicoba udah nyerah.

Menurut Anda, bisnis tiket online ini masih terbuka lebar?

Di Indonesia sangat terbuka lebar. Saat ini masyarakat Indonesia masih banyak yang belum melek teknologi. Email aja banyak yang belum punya. Kondisi seperti ini aja pasar sudah terbuka. Saya yakin, ke depan orang-orang akan sadar. Jadi, peluang akan lebih terbuka lagi.

Bagaimana pertumbuhan omset bisnis Tiket.com ini?

Pertumbuhan kami sampai 30-35 persen per bulan. Bulan Mei saja, omset sudah lebih besar dari satu tahun 2011. Ini disebabkan industri terus berkembang. Saya yakin ini akan terus tumbuh. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)