Patahkan Mitos, Rhenald Kasali Luncurkan “Cracking Entrepreneurs”

 Crackers. Jangan bayangkan ini adalah satu nama makanan yang apabila dipatahkan akan berbunyi : “Crack !” Masih ada lanjutnya yang akan mengantarkan kita pada satu judul buku terbaru milik Rhenald Kasali, “Cracking Entrepreneurs”.

Crack artinya patah. “Iya memang harus dipatahkan dulu. Mitos-mitosnya. Karena kita hidup banyak sekali dikelilingi mitos,” ucap Rhenald. Seperti yang kita ketahui bahwa di sekolah, kita tidak pernah belajar tentang critical thinking. Seharusnya sekolah itu memperbaiki cara berpikir kita dimana memorizing is not a good thinking. Sementara pendidikan kita kebanyakan memorizing, menghapal. Thinking yang benar adalah menganalisis, mengevaluasi, dan menantang segala asumsi-asumsi.

Rhenald mengatakan, dirinya masih ingat ketika masih sekolah di Amerika, pertama kali dosen datang ke kelas, dosen tersebut kemudian berkata: “Are you want (you guys), you challenge me?”. Jadi di kelas itu, dosen maunya berdiskusi dan berdebat dengan muridnya untuk mencari benar atau tidak apa yang selama ini ia ajarkan.

Demikian pula dengan bagaimana orang Indonesia mau berwirausaha, kalau kita sendiri punya mitos tidak bisa berbisnis. “Gawatnya, ada anggapan bahwa yang bisa berbisnis cuma orang Cina, orang Arab. Padahal mereka di kampungnya sendiri tidak berbisnis. Mereka berbisnis karena mereka merantau. Hampir semua pengusaha besar adalah hijrah. Kemarin di Perancis, saya lihat banyak sekali orang Vietnam. Dan mereka berhasil. Di Amerika, orang Cina jadi pengusaha. Orang Rusia merantau, orang Yahudi merantau, dan sebagainya. Kenapa kita pulang? Karena sistem kita keluarga besar. Umur 25 tahun masih tinggal dengan orang tua. Umur 40 tahun juga demikian. Akibatnya, jaminan sosialnya ada di keluarga besar. Kita tidak berani keluar dari itu semua,” dia menguraikan.

Menurutnya, para enterpreneur ini adalah mereka yang berani menantang pandangan-pandangan lingkungan bahwa mereka tidak bisa berhasil ketika berbisnis.

Cracking Entrepreneurs merupakan satu kelanjutan dari pemikiran tentang perubahan yang terjadi di Indonesia. Rhenald menyebutkan bahwa pada tahun 1998, pada saat krisis ekonomi, ketika dirinya baru pulang dari Amerika, saat itulah ia meminta izin kepada televisi untuk diberikan program tentang kewirausahaan.

Waktu itu ekonomi mengalami perubahan. Lalu apa yang harus kami lakukan sebagai seorang ekonom untuk membangkitkan kembali perekonomian Indonesia. Pada waktu itu konsep saya adalah kita harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sedangkan teman-teman saya, para ekonom makro berpendapat bahwa mereka ingin mengembalikan asing agar datang kembali ke tanah air. Ini adalah 2 lini pemikiran yang berbeda. Saya melihat bahwa saat ini Indonesia membutuhkan role model yang baru, bukan lagi konglomerasi seperti zaman dulu kala, ” ungkapnya.

Setelah itu dimulailah progam televisi berbau kewirausahaan yang dimaksud. Rhenald mengaku, awalnya acara ini banyak ditertawakan oleh rekannya sesama aktivis ekonomi di makro. Mereka bilang : ”Masa mau bangun Indonesia dengan sandal jepit, atau masa mau bangun Indonesia dengan kacang?” kenangnya.

 Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Seolah ingin membuktikan kepada mereka, Rhenald pun berkata, “Ternyata kacang yang kita angkat bisa menjadi Kacang Garuda Food yang sangat besar sampai sekarang. Masa mau bangun Indonesia dengan jamu? Ternyata jamu yang kita promosikan itu bisa menjadi sebesar Sidomuncul sampai hari ini. Jadi kata-kata yang “masa-masa-masa” itu, sekarang sudah bisa menjadi tuan rumah di negara kita sendiri,”ujarnya.

Memang, susahnya setengah mati untuk memulai menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Tapi beberapa tahun kemudian kita bisa melihat buahnya. Buahnya adalah dimana sekarang semua orang mulai membicarakan kewirausahaan.

Tahun lalu Rhenald juga membuat buku yang berjudul Cracking Zone. Di dalam Cracking Zone, Rhenald mengatakan bahwa terjadi beberapa perubahan di Indonesia, yaitu munculnya the middle class of Indonesia ini.

Lebih jauh, Rhenald mengatakan bahwa sekarang ini terdapat fenomena baru, bukan hanya franchise tetapi juga “gerobakchise”. “Sayang kalau sarjana-sarjana kita bertarung dengan rakyat kecil di kaki lima. Sarjana-sarjana harus terus bisa mengangkat usaha-usaha kecil ini naik kelas. Karena di negara-negara maju mereka telah mengembangkan usaha sesuai dengan ilmu pengetahuan yang mereka miliki,” ungkapnya.

Rhenald kemudian menceritakan satu pengalamannya ketika tersesat di Amerika. “Saya bawa mobil pakai GPS, muter-muter akhirnya tersesat dari San Fransisco ternyata kami dibawa masuk-masuk kampung, dan di sana bertemu dengan sebuah kampung bernama Planetorium Recourcess. Saya bingung, setelah saya pelajari ternyata tempat ini sangat berbeda dengan pertambangan. Karena mereka menambang asteroid. Dan mereka di sana menemukan emas, platinum, irredium, dsb. Emas-emas atau logam mulia yang tinggi tersebut mereka berdayakan dengan teknologi yang mereka pelajari. Mereka menggabungkan orang-orang yang berkhayal tinggi seperti James Cameron, Google, dan Adam Smith, pengusaha besar. Mereka merancang robot, kemudian pilihannya adalah asteroid itu dibawa pulang, atau ditambang di udara. Akhirnya mereka memilih untuk menambang di udara. Jadi sekali terbang, mereka sudah dapat nilainya triliunan dollar dan langsung dapat logam-logam kelas atas yang harganya sangat tinggi. Saya kira kalau cara pikir kita tepat, kita baru bisa menghasilkan karya-karya yang tepat”, katanya.

Rhenald pun menambahkan bahwa yang bisa mengembangkan ini semua adalah para enterpreneur yang berpikiran besar. Langkahnya mulai dari yang kecil tetapi tujuannya besar. “Oleh karena itu saya sebutnya sebagai cracking. Orangnya disebut crackers. Caranya disebut cracking,” tambahnya.

Rhenald juga sangat berterima kasih kepada para narasumber di dalam bukunya. Pak Salim, contohnya. Sengaja dia taruh di halaman paling depan. “Mengapa? Banyak sekali orang yang menjadi tukang becak selama 20 tahun, ketika kita ketemu, semakin tua, tetap saja menjadi tukang becak. Tapi Pak Salim berubah, justru Pak Salim melihat dirinya ada potensi. Dan sekarang Pak Salim menjadi pengusaha besar di bidang garam. Ketika sebagian besar orang justru ingin impor garam. Pak Salim berkutat untuk menyelamatkan garam Indonesia. Jadi ini salah satu contoh,” terangnya. (EVA)

Leave a Reply

1 thought on “Patahkan Mitos, Rhenald Kasali Luncurkan “Cracking Entrepreneurs””

Tq Bapak Rhenald Kasali. Di Indonesia byk Sarjana muda yg kuliah demi mengejar gelar. Dan sedikit sekali yang benar" menekuni sebuah skill sampai menghasilkan penemuan baru. Satu penyebabnya mungkin benar kata guru SMA saya, Indonesia begitu kaya hasil bumi. Sehingga penduduk Indonesia tidak perlu bersusah payah untuk bisa bertahan hidup. Selain dari itu, pemerintah juga tidak memberikan support untuk pengembangan SDM. Yang ada hanya mencari proyek" yg bisa disedot.
by Want To, 06 Jul 2012, 09:26

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)