Pentas Global untuk Karya Rinaldy

Rinaldy A. Yunardi pria yang akrab disapa Yungyung ini berhasil menelurkan karyanya di kancah internasional. Desainer aksesoris kelahiran Medan tersebut berhasil menciptakan keunikan berbalut kemewahan pada setiap desain hasil karyanya.

Menginjak tahun ke-21 dalam perjalanan kariernya sebagai desainer untuk perhiasan, sangat dimengerti olehnya banyak perubahan tren yang terjadi. Tren fashion yang dulunya lebih mengarah ke era Victorian, kini beralih ke ikon yang menunjukkan simplicity dan minimalis. Namun,ia memiliki gayanya tersendiri dalam membuahkan desain aksesoris perhiasannya. “Saya lebih ke arah couture dengan detail yang rumit dan proses pengerjaan yang rumit, panjang, dan handmade,” ungkapnya.

Karya pertamanya ditampilkan dalam sebuah fashion show di tahun 2000, mengusung tema Heaven on Earth. Di tahun 2002, dengan tema Sedimentation, ia mengaplikasikan material batu alam untuk diolah menjadi perhiasan, seperti kalung. Bahan alam “disulap” olehnya menjadi produk yang bernilai tambah dan bermanfaat. “Dalam waktu dekat ini, saya akan membuat sebuah fashion show di 13 Desember 2017 yang bertepatan dengan hari ulang tahun saya. Kita tunggu saja,” ungkapnya.

Perjalanan karier seorang Rinaldy tak bisa lepas dari jasa almarhum Kim Thong yang juga seorang desainer gaun pengantin di tahun 90-an. “Saya hanya lulusan SMA dan tidak pernah mengikuti kursus atau pendidikan formal di bidang perhiasan dan aksesoris. Setelah lulus SMA, saya bekerja sebagai marketing officer di sebuah pabrik ban. Kemudian, suatu waktu saya bertemu dengan beliau (Kim Thong), yang dengan tegasnya mengatakan bahwa saya tidak cocok bekerja sebagai karyawan di perusahaan tersebut,” kenangnya. Pertemuan itulah yang memperkenalkan dengan tiara untuk aksesoris pernikahan dan fase awal yang mengubah nasibnya.

Sempat bekerja di pabrik elektronik milik kakaknya. Ketrampilannya akan desain aksesoris muncul di belakang pabrik dengan bantuan kawat dan akrilik. “Saya iseng mulai membentuk kedua bahan tersebut, dan jadilah bentuk yang mengingatkannya pada tiara yang saya jual di perusahaan almarhum Kim Thong. Saya pun mulai serius,” ujarnya. Pada 1996, ia membangun bisnis desain aksesoris dengan menggunakan namanya sendiri. Aksesoris yang dibuatnya bukanlah mass product, tapi made by order.

Klien utamanya saat itu adalah almarhum Kim Thong, Didi Budiarjo, Eva Bun, Rudy Sandra, dan masih banyak lagi. Karyanya banyak diapresiasi dan pesanan bertambah, akhirnya ia memutuskan resign dari pabrik dan memutuskan untuk serius menekuni profesi barunya. Karyanya saat ini telah digunakan artis Indonesia seperti Anggun C. Sasmi, penyanyi Andien, Syahrini, Melly Goeslaw, Chelsea Olivia dan Sandra Dewi. Banyak orang mendeskripsikan karya Rinaldy dengan kata “gila” karena berbeda, unik, avant-garde.

Kiprahnya berhasil mengantarkan ke kancah internasional. Perkenalannya dengan Faye Liu (international PR) yang menyarankan dirinya untuk merambah pasar internasional. Hong Kong menjadi pelabuhan pertamanya untuk debut internasional Rinaldy. “Saya dikenalkan teman-teman selebritis di sana. Karya saya dipakai oleh Femmy Chung, Adam Kwong, dan terus berkembang di Hong Kong. Akhirnya, saya memberi kepercayaan Faye Liu untuk mengelola pesanan internasional sedangkan saya di dalam negeri,” ceritanya.

Dari situ secara perlahan, desain karya Rinaldy semakin dikenal secara internasional. Terhitung Katy Perry mengenakan sepatu boots transparan bergaya futuristik tahun 50-an di video clip single terbarunya Chained to the Rhythm. Ear cuff rancangannya juga dikenakan Cassie Ventura di Met Gala 2017 yang merupakan acara penggalangan dana tahunan untuk departemen kostum Metropolitan Museum of Art, New York, dimotori oleh Anna Wintour dari Vogue. “Ear cuff ini terpilih sebagai best jewelry and accessories from the Met Gala by Vogue,” bangganya. Karya lainnya adalah mahkota bergaya vintage yang terbuat dari logam dengan lapisan warna emas dilengkapi dengan taburan Swarovski & Zirconia yang dikenakan oleh Zoe Saldana dan Karlie Kloss.

Rinaldy tetap meluangkan waktunya untuk belajar untuk mengasah ide dan mengenal tren baru. Sharing dengan teman sesama desainer juga menjadi kiat untuk tetap update pada dinaminamisme dunia fashion. “Saya juga membuat sharing session dengan teman-teman muda di ESMOD Jakarta, dan sekolah fashion Susan Budihardjo. Saya berharap ini dapat memotivasi anak-anak muda untuk dapat menghasilkan karya yang lebih baik lagi dibanding senior-seniornya,” ungkapnya. Rinaldy juga berkolaborasi dengan Iwan Tirta Private Collection dalam pembuatan lini aksesories. Kolaborasi ini diharapkan dapat berkembang menjadi retail bisnis yang lebih sustained dan diminati banyak orang. Saat ini masih berupa special collection yang dapat dinikmati di gallery Iwan Tirta-Grand Hyatt.

Saat ini bisnis yang ia jalani telah memiliki karyawan mencapai 40 orang. Showroom Rinaldy yang berlokasi di Jalan Gedong Panjang, sekaligus sebagai kantor pusat dan produksi dijadikan sebagai pusat pengerjaan desainnya yang ia lakukan pengawasan langsung satu persatu pada setiap produksinya. Karya selanjutnya dari Rinaldy, dirinya diminta untuk membuat National Costume Miss Universe 2018 yang akan dipakai Putri Indonesia 2017. “Yayasan Putri Indonesia dan Ivan Gunawan meminta saya untuk ikut serta membuat design costum dan akeseoris head to toe. Saat ini masih dalam tahap ide untuk September/Oktober 2017 nanti,” ujarnya.

 

Reportase: Tiffany Diahnisa

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)