Pergulatan Rudy Lie Mengibarkan Obaja Tour & Travel

Rudy Lie, Presiden Direktur Obaja Tour & Travel

Mengawali bisnis saat krisis moneter tahun 1998, Rudy Lie tidak menyangka jika usaha di garasi rumahnya dengan modal US$10.000 akan berkembang pesat. Kini, ia pun menjadi bos perusahaan tour & travel dengan 390 karyawan dan omset triliunan. Bagaimana sepak terjangnya?

Huru hara kerusuhan Mei 1998 dan krisis moneter 1998 tidak serta merta membuat Rudy Lie panik. Kala itu banyak orang Indonesia yang hengkang ke luar negeri untuk menyelamatkan diri, tapi Rudy dan keluarganya tetap bertahan di Tanah Air. Mereka yakin tetap aman di Indonesia. Bahkan, dalam kondisi kepanikan politik dan ekonomi negara kita, ia mendapat inspirasi bisnis menjual tiket pesawat.

Kala itu, Rudy yang merupakan alumni Universitas Tarumanegara Jakarta jurusan Manajemen ini memiliki usaha sampingan jual tiket pesawat ke teman-temannya. Tidak disangka, animo pembeli antusias. Setelah itu, merambah jualan tiket pesawat ke para TKI yang akan berangkat ke luar negeri.

Setahun kemudian, tepatnya 1999, Rudy mengibarkan bendera PT BET Obaja International yang menaungi Obaja Tour & Travel. Ia bersama teman semasa kecilnya, Ir. Freddy Chandra yakin bahwa bisnis yang mereka bangun bisa menjadi hidup di era krisis tersebut. Saat itulah Obaja mulai memiliki kantor resmi di Komplek Duta Harapan Indah No.35 Jakarta Barat.

Lalu, tahun 2000, Obaja Tour mendapatkan sertifikat keanggotaan ASITA (Association of Indonesia Tour & Agencies) dan IATA (International Air Transport Association), agar bisnisnya lebih berkembang. Dengan mengantongi keanggotaan dari ASITA dan IATA, Obaja melebarkan sayap tidak hanya melayani penjualan tiket untuk ritel, tapi juga korporasi.

Selain itu, Obaja tidak hanya menjual tiket pesawat, tapi juga merambah jasa tour & travel pada 2001. Agar bisnis traveling ini lebih banyak menggaet pelanggan, Obaja menjaring pelanggan-pelanggan perusahaan dengan menawarkan program “Incentive Tour”. “Tim sales Obaja yang bergerak mencapai target penjualan untuk program Incentive Tour,” jelas Rudy Lie yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Bet Obaja International.

Menurutnya, kontribusi penjualan tiket 85% berasal dari korporasi dan 15% dari pelanggan individu atau ritel. Sementara itu, kontribusi penjualan paket tur atau traveling sebesar 80% korporasi dan 20% ritel.

Rudy mengaku, bisnis traveling Obaja untuk korporasi banyak diminati perusahaan karena menawarkan harga yang kompetitif, pembayaran yang bisa memberikan term of payment dengan kesepakatan di antara dua pihak, layanan digital ticketing dan service bisa customized. “Kami bekerja sama dengan beberapa operator untuk memberikan layanan dan harga terbaik,” ia menegaskan.

Sekarang ini, kata Rudy, negara destinasi turis Indonesia yang melancong ke mancanegara lebih suka ke Eropa dan Amerika Serikat dengan lama tur 10 hari (long trip). Untuk korporasi biayanya di atas Rp40 juta per orang. Kalau short trip (7-8 hari) negara favorit tujuan adalah Asia, utamanya Jepang, Korea dan Hong Kong dengan biaya sekitar Rp15 – 25 juta per orang.

Diakuinya, klien Obaja 80% melakukan perjalanan ke luar negeri dan 20% wisata ke domestik, seperti Bali dan Labuan Bajo. Toh, ia optimistis dengan program Kementerian Pariwisata RI untuk mendatangkan 20 juta wisatwan mancanegara ke Indonesia, akan mendongkrak jumlah klien Obaja yang wisata ke objek-objek wisata domesik.

Rudy menjelaskan, jika awal berdiri Obaja hanya memiliki lima karyawan, termasuk dirinya yang terjun langsung sebagai tenaga penjual tiket, sekarang total jumlah karyawannya mencapai 390 orang. Ia bersyukur bisa membuka lapangan kerja untuk masyarakat, utamanya untuk generasi muda. Dari 390 pegawainya itu, 60% bekerja di bagian front office dan 40% di back office.

Bertambahnya jumlah karyawan ini dikarenakan jumlah kantor cabang terus meningkat. Tahun 2004, Obaja berpindah kantor ke Puri Delta Mas. Dan pada 2009, Obaja membuka kantor cabang pertamanya di area Senayan. Kesuksesan ini berlanjut dengan pembukaan kantor kedua tahun 2010 di Wisma Indomobil, Jakarta Timur.

Seiring berjalannya waktu, jumlah cabang Obaja kian beranak pinak. Pada 2012, Obaja membuka kantor cabang ketiga di Puri Indah, Jakarta Barat. Selanjutnya, tahun 2013, ekspansi membuka tiga kantor cabang sekaligus yaitu Wisma Thamrin, Kuningan-Jakarta Selatan dan Bandung.

Wilayah Tangerang juga dibidik. Hal ini ditandai dengan pembukaan cabang ketujuh di Alam Sutra tahun 2014. Saat itu juga dilakukan peluncuran logo perusahaan yang perdana. “Tahun 2015, Obaja Tour membuka cabang di Pantai Indah Kapuk, Green Lake dan Surabaya,” kata pria kelahiran Jakarta, 29 September 1975 ini.

“Sampai sekarang, total kantor cabang Obaja ada 14 outlet. Sebanyak 12 outlet ada di Jakarta, 1 di Surabaya dan 1 di Bandung.” ujar eksekutif pria itu.

Tak puas hanya menggeluti bisnis penjualan tiket pesawat dan tur, Rudy pun meluaskan ragam usahanya. Untuk itu, ia mendirikan beberapa anak perusahaan baru Obaja secara bertahap. Pertama, PT Enam Dunia Wisata (Pygma Tour), Kedua, PT Amos Tour Indonesia. Ketiga, PT Karunia Tour, Keempat, PT Obitrans Indonesia (penyewaan transportasi), Kelima, PT Kibar Kreatif International berbisnis jasa event organizer dan terakhir PT Obaja Document Solution (ODS) yaitu jasa penyediaan layanan pembuatan document perjalanan.

Tahun 2016, Obaja juga membangun gedung sendiri, yaitu Graha Obaja di daerah Bandengan, Jakarta Barat dan 2017 membuka cabang di Menteng, Jakarta Pusat plus Kelapa Gading, Jakarta Utara. “Rencananya tahun 2019, kami akan buka cabang Obaja di Medan (Sumatera Utara) dan Lippo Puri Mall, Jakarta Barat,” ucap Rudy.

Berkembangnya bisnis Obaja paralel dengan jumlah omset yang dibukukan. Sebagai gambaran, tahun 2016 omsetnya Rp1,11 triliun dan tahun 2017, omset meningkat jadi Rp1,32 triliun. Untuk tahun 2018, hingga September tercatat omset Rp1,6 triliun. Sampai akhir tahun diharapkan mencapai Rp1,7 triliun. “Target kami tahun 2019 omset Obaja mencapai Rp2 triliun,” ujarnya.

Terkait persaingan bisnis, Obaja tidak gentar. Kuncinya, di tengah kompetisi bisnis tour & travel yang ketat, pihaknya menerapkan strategi efisiensi, menawarkan produk-produk kreatif, layanan aplikasi 24 jam dan maintain cost dengan baik. Apalagi, prospek industri ini diyakini Rudy masih menjanjikan. “Saat ini traveling sudah menjadi kebutuhan sekunder dan akan terus berkembang,” ujarnya.

Rudy menjelaskan, meski Obaja tergolong pemain baru di industri tour & travel, tapi sudah masuk jajaran top 10. Obaja telah mendapat pengakuan dari berbagai pihak. Dari sisi airlines : Obaja telah masuk peringkat 10 besar & menerima penghargaan dari airline-airline utama. Kedua, dari partner: Obaja beberapa kali meraih penghargaan the most valuable partner. Dari sisi pelanggan: Obaja sering mendapatkan apresiasi dari para klien korporat dan ritel, sehingga repeat order sering terjadi.

Ke depan, Rudy berencana akan membawa Obaja go public. Saat ini, pihaknya masih agresif ekspansi dengan buka cabang baru serta mendiversifikasi bisnis yang inline dengan industri pariwisata sebagai one stop shopping para pelanggan melakukan traveling.

“Saya bermimpi akan menjadikan Obaja sebagai pionir di industri tour & travel terintergrasi, sehingga apapun yang berkaitan dengan pendukung pariwisata, kami juga menyediakan fasilitasnya,” ungkap Rudy. Untuk mewujudkan mimpinya, terkait motto Obaja “The spirit of excellence”, pihaknya menjunjung tinggi komitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik, memorable, serta “value for money”.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)