ANJAP, Sang Perintis Industri Sagu Papua

George S. Tahija, Komisaris PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJ)

Bumi Papua ternyata menyimpan potensi kekayaan lain selain emas (yang telah dieksploitasi selama bertahun-tahun). Potensi kekayaan lain tersebut adalah jutaan hektare hutan pohon sagu (metroxylon sp.) yang selama ini agak terabaikan. Hutan sagu di Papua, yang luasnya sekitar 5,5 juta ha, merupakan yang terbesar di Indonesia.

Dalam jawaban surat elektroniknya kepada SWA, George S. Tahija, pengusaha domestik yang peduli terhadap pengembangan industri sagu, mengatakan bahwa sagu adalah sebuah ironi. Bahan pangan ini telah ribuan tahun menjadi makanan pokok di Indonesia Timur, tetapi sekarang menjadi asing di negeri sendiri.

Menurut Istini T. Siddharta, Presdir PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJ), dulu di Asia Tenggara sagu dianggap sebagai sumber pangan untuk dikonsumsi manusia modern. Namun, karena lebih banyak tenaga yang dikeluarkan untuk mendapatkan sagu, akhirnya masyarakat beralih ke beras.

Dalam buku Sagu Papua untuk Dunia (2019), disebutkan bahwa menurunnya peran sagu sebagai bahan makanan utama di Indonesia Timur secara umum karena adanya perubahan pola konsumsi masyarakat serta kebijakan pemerintah yang cenderung memarginalkan nilai penting sagu. Padahal, dalam buku itu juga dijelaskan, sagu sebagai bahan pangan memiliki sejumlah keunggulan, yakni bebas gluten, tinggi kandungan resistant starch (hingga 4-5 kali dibandingkan gandum) yang pada gilirannya bisa menghasilkan probiotik dalam usus besar; berfungsi sebagai nutrasetikal (mengandung senyawa kimia bioaktif alami), dan yang tak kalah penting mempunyai indeks glikemik (IG) rendah dibandingkan dengan karbohidrat lainnya.

Dari sisi vegetasinya, hutan sagu memang tumbuh liar. Karena itu, spesiesnya berbeda-beda (dalam satu lahan bisa lebih dari 100 spesies) dan jarak tanamnya tak teratur. Selama ini pun sebagian besar hutan sagu belum dimanfaatkan masyarakat. Menurut Nelda Hermawan, Head of Commercial Sago & Edamame ANJ, masyarakat Papua masih memandang sagu sebagai tanaman milik nenek moyang. Pemanenan sagu yang optimal pada usia 9-10 tahun, tetapi tanaman sagu akan mati sendiri pada kisaran usia 10-12 tahun. “Bayangkan saja berapa banyak sagu yang terbuang karena tidak dipanen,” kata Nelda.

Di mata George S. Tahija, sejatinya hutan sagu adalah potensi luar biasa yang menunggu didayagunakan. Komisaris ANJ ini pun menegaskan bahwa pati sagu merupakan sumber pangan dari alam yang dapat diperbarui (renewable) dan berkelanjutan (sustainable).

Pernyataan itu bukan basa-basi. Menurut George, masa depan yang menjanjikan dari potensi sagu itulah yang mendorong ANJ membangun bisnis pati sagu. Realisasinya adalah membangun pabrik pengolahan sagu di Papua Barat, dengan bendera PT Austindo Nusantara Jaya Agri Papua (ANJAP). Kapasitas produksi pabrik itu yang tercatat pada 2018 sebesar 1.894 ton per bulan.

Kelahiran ANJAP memang bermula dari gagasan George. Diceritakan oleh Istini, ide awal mendirikan ANJAP muncul sebelum tahun 2007, yang bermula dari aktivitas George yang pernah menjelajahi hutan Papua. Ia melihat banyak pohon sagu yang mati dan terbuang sia-sia. Penokokan (pengambilan) sagu dari batang sagu hanya dilakukan masyarakat Papua untuk makan sehar-hari. “Pak George bilang,’Di Papua kok banyak karbohidrat terbuang percuma. Kenapa kita tidak bisa memanfaatkan sagu ini?’” kata Istini. Setelah menemukan potensi sagu, tim ANJ kemudian melakukan riset dan studi untuk membuka bisnis pengolahan sagu.

ANJAP mendapatkan konsesi pengelolaan hutan sagu dari pemerintah seluas 40.000 ha di Sorong Selatan, Papua Barat. Bukan cuma ANJAP yang mendapatkan konsesi ini, tetapi juga sejumlah perusahaan lain, termasuk Perhutani yang pabrik sagunya diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2016 (dan juga beroleh konsesi di Papua Barat). “Bagi kami, menjadi perintis industri sagu modern adalah kehormatan dan perwujudan kepercayaan dari pemerintah dan masyarakat,” kata George.

Istini mengungkapkan, dari hak konsesi seluas 40.000 ha hutan sagu, yang dikembangkan ANJAP baru 6.000 ha. “Yang lain belum kami sentuh, karena harus bertahap,” ujarnya. Dengan usia pohon sagu yang berbeda-beda di hutan dan adanya pola tebang pilih demi kelangsungan hutan sagu, ia mengaku sulit memastikan berapa tingkat produktivitas per hektare lahan hutan. Yang pasti, karena menerapkan konsep responsible development, ANJAP telah menyisihkan sebagian lahan konsesinya, tepatnya 8.150 ha hutan sagu, untuk kepentingan konservasi dan restorasi habitat.

Pabrik yang dibangun ANJAP mempunyai kapasitas produksi 1.894 ton per bulan. Dana yang diinvestasikan untuk pengadaan mesin-mesin sekitar US$ 10 juta. Namun, menurut Istini, sampai sekarang produksi ANJAP baru sekitar 500 ton per bulan. “Masih banyak potensi yang bisa dikembangkan,” ujarnya.

Namun, itu juga lantaran upaya mengelola industri sagu di Papua menghadapi sejumlah tantangan yang tak mudah. Pertama, yang dikelola merupakan hutan sagu, bukan sagu budidaya, sehingga spesiesnya beragam, usia pohonnya berbeda-beda, dan jarak tanamnya berantakan.

Kedua, tidak ada risetnya sehingga harus bertanya kepada masyarakat lokal tentang jenis-jenis pohon sagu yang ada. “Padahal, riset tentang kelapa sawit dan tepung terigu sudah ada ratusan tahun,” katanya.

Ketiga, karena merupakan hutan adat, harus dipetakan dulu batas-batas kepemilikan hutan adat itu secara jelas dan ditentukan berapa biaya yang harus dibayar ANJAP untuk setiap pohon sagu yang ditebang.

Selain itu, aliran listrik dari PLN juga tidak masuk, sehingga ANJAP mengoperasikan pembangkit listrik sendiri. Tantangan lainnya adalah soal harga. Istini mengungkapkan, biaya untuk memproduksi sagu dan harga yang diberikan pasar masih belum menguntungkan. “Harga sagu masih murah karena ditarik ke bawah, mengikuti harga tepung terigu dan tapioka yang murah,” katanya. “Food industry kita belum menghargai kelebihan sagu,” tambahnya

Menurut Istini, masalah utama di tahun 2015 itu adalah belum jelasnya proses produksi dan pasar yang akan digarap. “Kami juga tidak menemukan benchmark,” ujarnya. Maklumlah, sejauh ini dari sejumlah pemegang konsesi hutan sagu di Papua, yang berjalan baru ANJAP. Bahkan, pabrik sagu milik Perhutani saja sekarang sudah berhenti beroperasi. “Itu sebagai contoh sulitnya mengelola (industri) sagu di Papua,” katanya.

Namun, untuk menghadapi aneka tantangan tersebut, Istini mengaku pihaknya sudah memiliki semacam roadmap dan perencanaan, hingga di ujungnya dapat mencapai tingkat profitable –tetapi ia enggan menguraikannya. Kunci pentingnya, menurut dia, volume harus ditingkatkan. Kalau volume produksi tidak bisa naik, berarti ada ketidakoptimalan pada penggunaan mesin, yang berarti kerugian.

Istini mengklaim, sepanjang 2018 pihaknya telah mencatat pencapaian penting. Setelah menyelesaikan sebagian besar masalah ekstraksi sagu di lapangan yang mengganggu produksi pada 2017, kini ANJAP fokus pada optimalisasi operasi di pabrik. Di saat ini pula, ANJAP mengganti bahan bakar fosil ke energi biomassa sebagai sumber energi untuk operasi dan pabrik, sehingga bisa mengurangi biaya produksi hampir 50%.

ANJAP, seperti disebutkan George, memang berupaya menerapkan konsep Responsible Development, yakni pembangunan yang memperhatikan keseimbangan antara kesejahteraan perusahaan, masyarakat, dan terjaganya lingkungan. Karena itu, selain soal penggunaan energi hijau, dari total sekitar 200 karyawan perusahaan ini, sebanyak 70% merupakan orang asal Papua. ANJAP juga menggelar program Community Involvement Development, yang melibatkan masyarakat sekitar pabrik. Misalnya, ada program Warung Mama, yang mengajari para ibu mengolah produk sagu secara bersih, higienis, dan bernilai jual tinggi.

Di samping mengembangkan industri sagu di Papua, ANJAP juga membuka Bueno Nasio, restoran yang berperan menjadi show case produk olahan dari bahan pati sagu, sebagai pengganti tepung terigu. Di antaranya, ada nachos, mi ayam, brownies, dan puding.. Resto ini berada di Menara BTPN, Jakarta (satu lokasi dengan Kantor Pusat ANJ Group). Supaya terus berinovasi, Bueno Nasio juga merekrut karyawan yang punya keahlian di bidang teknologi pangan.

Ke depan, ANJAP yang tergabung dalam Masyarakat Sagu Indonesia masih akan terus berupaya memberikan pengertian kepada pemerintah untuk menjadikan sagu sebagai pangan alternatif potensial. “Kami juga telah berkoordinasi beberapa kali dengan Bappenas untuk membuat perencanaan menjadikan sagu sebagai pangan alternatif, terutama untuk wilayah Papua,” kata Istini.

ANJAP juga sudah memikirkan soal perbaikan infrastruktur untuk transportasi dan distribusi sagu. Istini menyebut, pihaknya telah mengajukan permintaan pelabuhan untuk pengangkutan sagu, yang diharapkan bisa dibuat di dekat muara sungai agar kapal besar bisa masuk. “Kami mengharapkan dukungan dari pemerintah, agar pengembangan industri sagu bisa terintegrasi,” katanya. (*)

 Joko Sugiarsono & Andi Hana Mufidah Elmirasari

www..swa..co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)