Hanung S. Talogo, Eksekutif Baru Topy Palingda

PT Pakoakuina memperluas bisnis pada subsektor velg untuk bus dan truk dengan mendirikan perusahaan baru, PT Topy Palingda Manufacturing Indonesia, bersama investor Jepang, yaitu Topy Industries Ltd.

Pada perusahaan joint venture tersebut, mantan Direktur Teknik Pakoakuina, Hanung S. Talogo, didapuk menjadi salah satu direktur. Sebelumnya, pria yang telah berkarier selama 10 tahun di Pakoakuina ini bertanggung jawab atas bidang engineering dan product development selama menjabat Direktur Teknik. Di Topy Palingda, lulusan Polman Bandung kelahiran Agustus 1961 ini akan bertanggung jawab atas bidang produksi dan human resources development.

Setelah acara penanda tanganan kesepakatan antara Topy Industries Ltd dan  Pakoakuina pada Jumat (15/2) lalu, Hanung menyempatkan diri untuk berbincang mengenai rencananya di Topy Palingda dan pandangannya terhadap industri manufaktur dengan SWA Online. Berikut petikan wawancara dengan reporter Rangga Wiraspati:

Di perusahaan baru ini, secara garis besar apa job desk Anda?

Tugas saya adalah mengepalai bagian produksi, di mana bagian ini paling banyak pekerjanya, dan mereka bekerja dalam shift sehingga pengaturannya cukup kompleks. Saya juga mengepalai bagian HRD, maka saya juga harus mencari cara agar karyawan dapat bekerja dengan efektif dan mereka bisa merasa happy di perusahaan.

Apa target Anda di posisi baru sekarang?

Karena ini joint venture pertama di grup Pakoakuina, target utamanya adalah memenuhi ekspetasi customer. Seperti Anda tahu klien Pakoakuina tidak hanya klien domestik tetapi juga klien dari luar negeri. Untuk  itu tantangannya lebih besar, sebab kami tidak mudah dalam bertemu dengan klien, ada masalah jarak dan communication barrier.

Target saya di bidang SDM sebenarnya adalah bagaimana teknologi yang banyak berasal dari Jepang bisa dijalankan oleh orang-orang Indonesia. Kalau bisa orang Jepang di perusahaan ini sesedikit mungkin, jadi lebih banyak orang Indonesia yang menjalankan pabrik.

 Apa strategi Anda untuk mencapai target tersebut?

Pertama, pengembangan SDM. Akan ada perbedaan budaya kerja di perusahaan baru ini, yaitu Jepang dan Indonesia. Untuk membangun jembatan komunikasi antar dua budaya tersebut tentu butuh waktu, kerja sama, dan kesabaran dari kedua belah pihak, namun karena sudah bersatu di bawah satu payung mau tidak mau hal tersebut perlu dilakukan.

Sudah banyak perusahaan joint venture antara Jepang dan Indonesia, seharusnya kami pun bisa. Kami perlu mensinergikan keunggulan SDM Jepang pada penguasaan teknologi dengan SDM kita, sehingga kami perlu meningkatkan kompetensi SDM lokal agar bisa mengimbangi SDM Jepang di bidang teknologi. Tentunya untuk mengembangkan kompetensi SDM bisa lewat training, namun dalam konteks teknologi dan teknik fokusnya adalah pengembangan skill pegawai di lapangan dan juga benchmarking, jadi kami mengirim pegawai untuk belajar di Jepang. Jadi pada intinya training yang diberikan adalah training skill.

Mengapa Anda terjun di industri manufaktur?

Menurut saya, ke depannya Indonesia akan kuat di bidang manufaktur, potensi ke sana besar sekali dan market pun ada. Sejak saya kuliah saya sudah berpikir bahwa industri ini adalah bidang saya.

Apa mimpi Anda  utuk Topy Palingda?

Perusahaan ini harus menjadi nomor satu di ASEAN, memiliki tekonologi untuk membuat produk yang kompetitif, serta kalau bisa itu dilakukan oleh putra bangsa kita. Saya berharap ketergantungan kita terhadap luar negeri bisa semakin berkurang.

Apa hobi Anda?

Saat ini saya hobi bermain kereta api mini dan membuat landscape-nya. (EVA)

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)