Hawker Pacific Jajah Langit Indonesia dengan Jet Pribadi

Pernah membayangkan terbang naik jet pribadi? Hanya Anda, pilot, dan awan. Betapa nyaman dan fleksibel ketimbang harus berbagi tempat dengan banyak penumpang lain. Tapi syaratnya, Anda harus merogoh kocek minimal US$ 5 juta untuk membeli sebuah personal jet.

Sebagai barang mewah, fasilitas jet mulai makin sering digunakan di Indonesia, baik untuk keperluan bisnis maupun kenyamanan pribadi. Tercatat jumlah jutawan Indonesia mencapai 112.000 orang dan miliuner 25 orang. Dan ada sekitar 60 maskapai pribadi yang terasosiasi dengan pemilik Indonesia.

Bagaimana situasi bisnis maskapai pribadi ini di mata pelakunya? Cari tahu lebih banyak dari kedua sumber SWA Online kali ini dari Hawker Pacific, yaitu Joachim Hartmann, Direktur Penjualan Maskapai, dan Paul van der Blom, Direktur Penjualan Maskapai dan Layanan Akuisisi. Keduanya dari perusahaan Hawker Pacific Private Jets.

Paul van der Blom (tengah, kiri) dan Joachim Hartmann (tengah, kanan) didampingi pengusaha dari sektor industri barang mewah lainnya.

Bagaimana situasi bisnis jet pribadi di Indonesia menurut Anda?

(Hartmann) Berdasarkan publikasi riset Jetnet, keseluruhan pangsa pasar untuk maskapai pribadi yang terasosiasi dengan pemilik asal Indonesia mencakup 60-an maskapai. Dari angka ini, tidak semua maskapai harus terdaftar di Indonesia.

(Paul) Walaupun 60 ini baru jumlah kasar, menunjukkan potensi bagus bagi kami untuk berbuat lebih banyak di Indonesia. Sebab Indonesia lebih luas ketimbang AS. Populasinya makin banyak. Ekonominya sedang bangkit pula sehingga banyak peluang.

Apakah tren positif ini akan bertahan sampai 5-10 tahun ke depan?

(Hartmann) Ini ditentukan kembali oleh pertumbuhan ekonomi. Tidak mudah membuat prakiraan. Sebuah jet merupakan sarana buat wirausahawan dan profesional agar lebih efisien. Selain sisi eksekutif, ada juga sisi privat dalam fasilitas maskapai pribadi. Lebih dari itu, jet pribadi sesungguhnya saling melengkapi dengan maskapai komersial.

(Paul) Dibandingkan dengan AS, Eropa, Australia, Asia merupakan kawasan yang paling berpeluang untuk pertumbuhan maskapai swasta macam jet pribadi. Tentu saja, China adalah salah satu pasar yang besar. Malaysia, Thailand, dan Singapura merupakan pasar yang kian bertumbuh, termasuk Indonesia.

Apakah bisnis ini akan mudah terpengaruh iklim politik Indonesia menjelang Pemilu?

(Paul) Pemilik perorangan dan perusahaan swasta tak akan banyak terpengaruh. Namun, maskapai pemerintah tentu terpengaruh. Pada dasarnya, pemerintah juga menggunakan business jet—ini hal biasa. Dan sama halnya dengan industri manufaktur pesawat, siklus pembelian jet lebih berkaitan dengan faktor ekonomi semacam Product Domestic Brutto (PDB) dan pemasukan negara.

(Hartmann) Selain meninjau PDB, perusahaan distributor jet juga memperhatikan peningkatan kekayaan di negara tempatnya beroperasi. Soalnya, bisnis ini mempunyai segmen yang sangat kecil. Di masa depan, kelas menengah, terutama lapisan eksekutif, juga akan mampu menjangkau fasilitas ini.

Sebesar apa pangsa pasar Hawker Pacific di Indonesia?

(Hartmann) Dari keseluruhan produksi Hawker Beechcraft  adalah prinsipal utama kami. Pangsa pasar Hawker Pacific di Indonesia tahun lalu berkisar 24%. Memang terjadi perubahan di perusahaan. Dan kini Hawker Beechcraft tidak memanufaktur jet lagi. Saya sendiri bekerja di Hawker Pacific sejak 2008. Hingga kini, penjualan saya melebihi 10 maskapai dan jumlahnya berfluktuasi.

Adakah perbedaan karakter antara pembeli di Indonesia dengan negara lainnya?

(Hartmann) Pembeli di Indonesia lebih suka merahasiakan jika mereka membeli jet. Mereka tak ingin publik tahu,  jet apa yang mereka beli, kapan membelinya, berapa harganya, bahkan bagaimana mereka menerbangkannya. Selalu ada perbedaan budaya di tiap negara. Kalau dibanding dengan AS, misalnya, terbang dengan jet dianggap biasa saja dalam kegiatan sehari-hari.

Pasang target untuk jadi pemain utama di Indonesia?

(Paul) Pasti bagus kalau itu terjadi. Ha... ha... ha. Tentu saja, semua ingin memperbesar pangsa pasar. Bagaimanapun, kami harus menyadari adanya persaingan. Dan persaingan baik buat pasar. So, we have to stay on our toes. Paling penting, mesti berorientasi jangka panjang. Kami tidak hanya peduli soal menjual. Tetapi, menjual produk yang betul-betul bisa dipakai oleh orang dan perusahaan terkait. Kami mesti bisa membantu pemeliharaan barang itu  dan punya hubungan jangka panjang dengan pembeli. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)