Hermanto Tanoko, Sukses Merajut Kejayaan Grup Avian dan Tancorp

Hermanto Tanoko, CEO Tancorp.

Ada dua momen penting yang ekstrem mewarnai perjalanan hidup Hermanto Tanoko, CEO Tancorp. Pertama, ia lahir di rumah yang sangat sederhana, bahkan ia menyebutnya seperti kandang ayam. Kedua, pertengahan tahun lalu, bermitra dengan Tung Desem Waringin, Hermanto membangun hotel bintang 5, Vasa Hotel Surabaya, dengan nilai investasi Rp 1,8 triliun. Dan, lelaki kelahiran Malang tahun 1962 ini sekarang telah masuk dalam barisan “crazy rich” Surabaya, Jawa Timur.

Kehidupan masa kecil Hermanto memang dilalui dengan kesederhanaan. Dan, sejak kecil, ia telah dilibatkan untuk membantu usaha orang tuanya, termasuk menjaga apotek saat usianya masih 14 tahun. Namun, kini ia sukses membangun kerajaan bisnis di bawah bendera Tancorp.

Sebagai holding company, Tancorp menaungi delapan subholding, yakni Tanbiz (manufacturing), Tanobel (makanan dan minuman), Tanrise (properti), Tanly (hotel & hospitality), Tanworld (network & ritel), Tanlife (kecantikan & kesehatan), Tanlink (distribusi), dan Trancreasion (resto & kafe). “Yang berkontribusi besar itu bidang manufacturing, hingga 50%,” ujar Hermanto.

Ia juga berhasil melambungkan Grup Avian (PT Avia Avian) yang memproduksi cat tembok, cat besi, cat kayu, dan cat otomotif. Cikal bakal Avian adalah sebuah toko cat di Malang, Ja-Tim, yang didirikan oleh Soetikno Tanoko, ayahnya, pada 1962. Kemudian, tahun 1978 Soetikno mulai memproduksi cat dengan skala rumahan yang mempekerjakan 18 karyawan.

Hermanto adalah generasi kedua, dan merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Ia diminta ayahnya untuk membantu di Avian sejak 1982, ketika jumlah karyawan sudah ratusan orang.

Saat itu, ia pun harus melewati masa-masa prihatin. Supaya bisnis Avian bisa tumbuh dan sehat, salah satu cara yang ditempuh adalah melakukan pengiritan. Maka, perjalanan dari Kota Malang ke pabrik Avian ia jalani dengan menyetir mobil sendiri. Bahkan, ayahnya juga menggunakan bus umum.

Sebagai anak yang dipercaya untuk meneruskan bisnis keluarga, Hermanto punya mimpi: menjadikan Avian sebagai pabrik cat nasional terbesar di Indonesia. Maka, ia bersama sang ayah dan saudara-saudaranya harus memikirkan strategi untuk melebihi kemampuan kompetitor.

“Yang kami pikirkan, pertama adalah bagaimana memberikan value kepada customer. Kami memberikan kualitas yang jauh lebih bagus tapi dengan harga yang relatif murah. Maka, harus merampingkan biaya-biaya dalam proses, bahan baku diusahakan beli kontan supaya mendapatkan harga terbaik. Keunggulan ini kami terus promosikan, bahwa cat kami putihnya paling putih, keringnya paling cepat, dan lain-lain,” ia menjelaskan.

Hasilnya, pertumbuhan Avian selalu dua digit setiap tahunnya. Empat tahun setelah Hermanto bergabung dengan Avian, ayahnya kewalahan karena cepatnya pertumbuhan perusahaan ini. Maka, ia dan keluarganya pun membesarkan dan memperluas jaringan Avian. Toko terus ditambah. Begitu pun produknya, seperti cat mobil, cat besi, dan cat kayu. “Jadi, kami melakukan keduanya secara agresif, pembesaran wilayah dan penambahan produk baru,” ujarnya. Selama kurang-lebih 20 tahun pihaknya telah membuat pabrik Avian terintegrasi. Bahan baku hingga pengemasan dikelola sendiri.

Setelah 20 tahun ikut membesarkan Grup Avian, Hermanto mulai mendirikan bisnis sendiri di luar Grup. “Lalu, saya mendirikan perusahaan properti, beverage, kosmetik, dan lainnya. Tahun 2016 kami baru menyiapkan Tancorp sebagai holding dari semua bisnis tersebut agar lebih rapi,” ungkap Hermanto. Dengan delapan subholding di bawah Tancorp, ada 36 unit bisnis yang dikelolanya di berbagai bidang industri. Karyawannya kini berjumlah lebih dari 15 ribu orang.

Grup Avian maupun Tancorp adalah kelompok bisnis yang mampu melewati masa-masa krisis. Hermanto bercerita, ketika krisis 1997/1998, seluruh grup usahanya tidak terkena dampak. Artinya, tidak ada yang bermasalah dan tidak ada utang yang tidak bisa dibayar. “Jadi, semuanya lancar,” ujarnya tandas. Kuncinya, “Kami sangat konservatif dalam mengelola keuangan perusahaan, sehingga keuangan perusahaan kami dalam posisi yang aman,” Hermanto menjelaskan. Maka, di masa pandemi corona ini pun, Tancorp dan Grup Avian tidak mengurangi karyawan.

 Hermanto mengatakan, jika ingin memulai usaha baru, baik Grup Avian maupun Transcorp biasanya tidak mau meminjam uang dari bank, melainkan menggunakan modal sendiri. Nanti, ketika bisnisnya sudah tumbuh besar dan membutuhkan dana agar bisa tumbuh lebih cepat lagi, barulah memasukkan dana pinjaman dari bank.

Menurut Hermanto, ketika bisnis tersebut sudah tumbuh besar, investasinya tidak sebesar di awal, sehingga keuntungannya bisa untuk membayar utang di bank. Dan, ketika perusahaan makin besar, tidak lagi membutuhkan pinjaman bank. “Ini adalah siklus yang kami jalankan untuk mengelola perusahaan-perusahaan kami, sehingga semua perusahaan dalam posisi yang aman,” ia menegaskan.

Tentu saja, pencapaian Tancorp dan Grup Avian tersebut juga tak lepas dari strateginya di bidang sumber daya manusia (SDM). Bagi Hermanto, mengelola perusahaan adalah mengelola talenta-talenta di dalamnya. Tidak mudah menemukan orang-orang yang tepat untuk memimpin dan mengembangkan berbagai bisnis yang sudah ada.

“Karenanya, melalui holding company Tancorp, saya menaruh perhatian besar pada strategi pengembangan sumber daya manusia dan pengembangan budaya organisasi,” katanya. Tak mengherankan, Tancorp diengkapi dengan Departemen HRD yang memiliki banyak spesialis di berbagai bidang.

Meng-go public-kan perusahaan menjadi mimpi Hermanto yang lain. Seperti yang ia lakukan pada 2017, dengan menjual saham Cleo (PT Sariguna Primatirta Tbk.) ke masyarakat. “Tentu, yang skala bisnisnya bagus akan kami jadikan perusahaan terbuka. Saya hanya ingin berbagi saja karena kalau sudah menjadi perusahaan terbuka, otomatis perusahaan itu lebih transparan dan bisa menjalankan GCG (good corporate governance) lebih profesional. Pada akhirnya perusahaan bisa lebih langgeng, memiliki sustainability lebih panjang, serta masa depannya lebih cerah,” kelahiran Malang, September 1962 ini menuturkan. Tahun 2020 ini, tambahnya, sedang proses due dilligent beberapa perusahaan, walaupun di tengah kondisi pandemi Covid-19.

Kini, Hermanto tengah menyiapkan anak-anaknya untuk meneruskan bisnis keluarga. Empat anaknya, selulus kuliah, langsung bekerja di Tancorp. Anak pertama, Belinda Natalia Tanoko, membantu di holding Tancorp, juga bertanggung jawab di properti dan ikut terlibat dalam pengelolaan Cleo (air minum dalam kemasan). Anak kedua, Melisa Patricia Tanoko, selain di holding, juga membantu di Cleo dan perusahaan distribusinya. Anak ketiga, Robert Christian Tanoko, fokus di Grup Avian dan anak-anak perusahaannya. Sementara anak keempat, Caroline Novilia Tanoko, beserta suaminya aktif di bisnis herbal dan healthcare.

Sebelum anak-anaknya itu kuliah, Hermanto sudah berkomunikasi mengenai passion mereka di mana dan apa saja yang mereka ingin kembangkan. “Jadi, saya sudah menyiapkan leadership mereka sejak kuliah, sehingga ketika mereka lulus sudah siap untuk masuk ke perusahaan. Ssaat ini mereka sudah handle operasional dan dibantu oleh profesional,” tuturnya. (*)

Kusnan M. Djawahir; Reportase: Sri Niken Handayani dan Yosa Maulana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)