Lewat TOM, Christian Sudibyo Pindah Kuadran

Setelah lebih dari 23 tahun malang melintang di dunia profesional, khususnya di industri elektronik, Christian Sudibyo akhirnya memutuskan pindah kuadran. Industri ponsel pilihannya. Maklum, industri inilah yang terakhir digelutinya saat menjabat sebagai Chief Sales Officer Nexian. Sejak pertengahan tahun 2011, pria kelahiran tahun 1966 ini meluncurkan ponsel lokal bermerek TOM di bawah bendera PT Wahana Jaya Seluler. “Industri ponsel punya potensi yang luar biasa besarnya,” ujarnya.

Untuk mengembangkan bisnis ini, Christian merangkul beberapa mitra, yaitu para dealer elektronik. Investasi yang dikucurkan mencapai US$ 6 juta. Dana tersebut digunakan untuk membeli lima ruko lima lantai di Pantai Indah Kapuk yang digunakan sebagai kantor, gudang dan sarana penunjang. Selain itu, investasi tersebut juga digunakan untuk membangun jaringan pascajual di 26 kota dan pengembangan produk.

Bersama Nexian, Christian jadi lebih paham akan karakter pasar ponsel di Indonesia. Dia menyebutkan, daur hidup produk ponsel konsumen di Indonesia tergolong sangat pendek, yakni di bawah 6 bulan. Karena itu, ia pun tertantang untuk mengeluarkan ponsel tipe terbaru tiap dua minggu sekali. Tak heran, setelah 9 bulan berjalan, sudah lebih dari 50 model ponsel TOM yang diluncurkan. “Minimum dalam sebulan kami merilis 3-4 model baru,” ujar pria yang sukses mengantarkan Samsung menjadi pemain utama di pasar elektronik Indonesia ini.

Menurut Christian, strategi tersebut hanya bisa diterapkan oleh perusahaan dengan organisasi yang slim, sehingga perencanaan siklusnya lebih pendek. Pasalnya, ini berhubungan dengan perencanaan desain, spesifikasi, kampanye dsb. yang dirancang setiap dua mingguan, sedangkan di perusahaan lain perlu waktu sekitar dua bulan.

Dia menyebutkan, dengan strategi ini, persediaan barang tidak boleh banyak dan pengiriman harus dilakukan secara bertahap. Bahkan setelah sebulan sebuah model diluncurkan harus dihentikan dan diganti dengan model yang baru. Dengan cara seperti itu, menurutnya, biaya invenstorinya menjadi sangat minim. “Banyak ponsel lokal yang gagal karena masalah inventori, terutama di gudang dan channel distribusi,” alumni Jurusan Teknik Elektro Universitas Satya Wacana Salatiga ini menjelaskan.

Selain itu, lanjut Christian, kegagalan ponsel lokal juga karena sebagian besar menggunakan konsep me too. “Pesan barang ke Cina butuh waktu 60 hari. Barang datang, trennya sudah berubah,” kata Christian lagi. Karena alasan itu, TOM tidak menggunakan konsep me too, tetapi menciptakan model baru sesuai dengan keinginan pasar. Salah satu terobosan yang dilakukan adalah mendobrak dengan model PDA dengan screen 3,6 inci, bukan 2,8 inci seperti kebanyakan pemain lain.

Diakuinya, agar bisa survive, TOM harus bisa membuat tren yang disukai pasar. Namun, karena ia menyadari bahwa umur ponsel lokal relatif pendek, setiap memperkenalkan produk baru ia pun merasa tidak efektif untuk beriklan. Promosi dari mulut ke mulut jauh lebih efektif. Maka, TOM memanfaatkan Facebook dan website sebagai sarana promosi. Ia tidak menggunakan Twitter karena menganggap media sosial ini untuk segmen menengah-atas.

Pasar ponsel lokal di Indonesia, menurutnya, tergolong cukup besar, yaitu mencapai 3,5 juta unit/bulan atau sekitar 40 juta unit/tahun. Pasar tersebut diperebutkan oleh sekitar 150 merek (tahun lalu bahkan sampai 200 merek). Ia mengklaim, saat ini TOM berada di urutan 6-7 di segmen ponsel lokal. “Akhir tahun kami targetkan masuk ke peringkat lima besar,” ujarnya optimistis.

Namun, Handito Hadi Joewono, Chief Strategy Consultant dan President Arrbey, mengingatkan, pemain yang masuk ke bisnis ponsel lokal sangat banyak dan tidak sedikit yang kehabisan napas di tengah jalan. “Sebagai pebisnis, Christian harus benar-benar mengetahui pasar, produk, dan peta persaingan. Apalagi perusahaannya sendiri sebagai perusahaan baru pasti memiliki keterbatasan modal, sehingga dituntut kreativitas yang tinggi,” ujarnya.

Meski demikian, Handito mengatakan bahwa Christian punya nilai lebih karena memiliki pengalaman, jaringan, dan sangat mengenal pasar. Pasalnya, sebelumnya ia sudah berkecimpung di bidang yang sama.

Menurut Handito, agar sukses, TOM harus punya terobosan, sehingga tidak terjebak dengan produk yang sudah ada. Intinya, untuk bisa eksis dan bertahan di pasar, harus kreatif dan inovatif, yang artinya membuat sesuatu yang baru dan punya cara pemasaran tersendiri untuk memenangi persaingan. “Sebagai pendatang baru harus bisa membangun ciri khas agar produknya bisa diterima pasar,” Handito menegaskan.

Christian sependapat dengan Handito. Dia mengatakan, ke depan ia akan meng-upgrade ponsel di Indonesia, bahkan ingin menggiring ke tablet yang harganya Rp 1 jutaan. Malah tidak menutup kemungkinan akan masuk ke notebook yang murah. Konsep seperti ini sudah mulai digodok termasuk aplikasi yang cocok untuk harga itu. “Saya hanya membayangkan, kalau notebook harganya bisa Rp 1 juta, pasti ramainya seperti apa,” kata Christian.

Reportase: Darandono

Riset: Adinda Khalil Arrahman

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)