Megasurya Mas Kepakkan Sayap Ke 132 Negara

Sabun merupakan kebutuhan pokok yang digunakan setiap hari. Ini menjadi peluang bisnis yang digarap PT Megasurya Mas. Dengan mengikuti kemauan pasar dalam memproduksi sabun, PT Megasurya Mas mampu melebarkan sayapnya hingga ke lebih dari 100 negara.

Direktur Marketing Megasurya Mas, Hadi Sofian, mengatakan, perseroan baru memulai ekspor tahun 1997-98 sejak berdiri tahun 1993. Produknya, olahan sawit dan produk turunannya seperti minyak goreng, sabun dan lainnya. Untuk merek global, ada beberapa merek sabun yang yaitu sabun Harmoni, sabun Anita, sabun Lark dan sabun Popular.

Keunggulan produk, seperti sabun Harmoni yang merupakan sabun buah, benar-benar wangi buah. Kedua, sabun Popular diekspor ke beberapa negara yang memang mengunakan sabun untuk multifungsi, untuk keramas, cuci baju dan mandi dalam satu sabun yang sama dengan harga yang lebih rendah. Ketiga, sabun Lark, yang didalam ada bintik biru sebagai tambahan busa yang lembut.

“Kami telah mengekspor ke 132 negara seperti China, Mongolia, India, Pakistan, Brasil, Kolombia, dan lainnya. Untuk sukses, produk harus unik dan unggul serta didukung aktivitas marketing yang tepat,” katanya.

HadiHarmon2

Ekspor rata-rata tumbuh 15-20% hingga tahun 2014. Perlambatan ekonomi global memangkas kinerja ekspor. Tercatat ekspor stagnan hingga kuartal III-2015. Kontribusi ekspor mencapai 40% dari total omset sekitar Rp 4 triliun sepanjang tahun 2014. Meski demikian, perseroan tak henti melakukan inovasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.

Contohnya, warga di India dan Pakistan menyukai sabun yang wangi. Hal ini berbanding terbalik dengan masyarakat di Taiwan yang tidak suka dengan sabun yang harum baunya. Dari sanalah, perseroan merancang produk sesuai keinginan pembeli. Dari sanalah, perseroan membangun merek global.

“Berapa besar penggunaannya, terus kemauan pembeli seperti apa. Desain yang mereka inginkan apa, setelah itu saingan di pasar siapa saja. Harga di pasar berapa, dari harga jual bisa kami hitung dan bangun merek apa yang kita butuhkan,” katanya.

Hadi mengisahkan, perseroan sempat merilis produk sabun yang dikemas dengan kotak bagus untuk dipasarkan di Pakistan. Sayang, kotak kemasan produknya hancur sesampainya di toko. Dari sanalah perseroan belajar membuat kemasan yang lebih kuat dan tahan di segala medan dalam pendistribusiannya.

Selanjutnya, perseroan juga sempat kesulitan dengan maraknya peredaran produk palsu dari India dan China. Untuk mengatasinya, Kedutaan Besar RI dan pengacara perseroan sampai harus turun tangan. Upaya mendaftarkan mereka di setiap negara juga memakan waktu lama, hingga 2 tahun, serta menelan biaya cukup besar. (Reportase: Sri Niken Handayani)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)