Passion Rini Soemarno di Bisnis Roti

Mereka yang belum mengenal dekat Rini Soemarno mungkin lebih melihatnya sebagai sosok yang tegas, keras dan disiplin. Maklumlah, sederet jabatan kepemimpinan prestisius pernah diembannya, di antaranya sebagai CFO dan kemudian CEO Grup Astra, juga Menteri Perindustrian di masa Presiden Megawati. Mungkin tak banyak yang tahu bahwa mantan eksekutif top ini ternyata hobi masak.

Dengan bekal hobi inilah, Rini mengembangkan bisnis roti dengan label sendiri, Pain de France. Kini Pain de France memiliki delapan gerai di Jakarta dan tercatat sebagai pemasok roti terbesar bagi sebuah jaringan gerai kopi terkenal asal Amerika Serikat, yang juga cukup populer di Tanah Air. Menurut Rini, pasokan roti ke jaringan gerai kopi tersebut merupakan kontributor terbesar pendapatannya di bisnis roti tersebut sejak 2003.

Rini mengaku kegemarannya memasak menurun dari ibunya. Perempuan yang kini berusia 59 tahun ini sudah terbiasa memasak sejak usia 12 tahun. Kepiawaiannya membuat kue semakin terasah ketika ia melanjutkan SMA di AS pada 1973. Saat itu setiap siswa di sekolahnya diwajibkan meluangkan waktu 1-1,5 jam sehari untuk ikut mengurus asrama. Salah satu tugas Rini adalah membantu koki di dapur. Pekerjaannya sederhana, memotong-motong bahan. Ia makin suka cita karena ia juga mendapatkan uang karena kerap menggantikan jam giliran temannya yang enggan melakukan tugas ini.

Rupanya hobi ini bukan sekadar iseng bagi wanita kelahiran Maryland, AS, 9 Juni 1958 ini. Ketika menjabat sebagai Direktur Keuangan PT Astra International Tbk., pada 1995 anak mantan Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan di zaman Soekarno ini mengambil hak franchise Au Bon Pain, kafe bakery asal Boston, Massachussetts, AS. Kafe yang didirikan oleh Louis Rapuano dan Louis Kane tersebut merupakan tempat ia nongkrong semasa kuliah di Wellesley College, Massachussetts, AS. “Aku memang kepingin punya bisnis yang menyenangkan. Karena aku tahu, rotinya enak,” ujarnya mengenang. Au Bon Pain akhirnya berhasil diboyong masuk ke Indonesia.
Sayang, bisnis roti ini hanya bertahan empat tahun di Jakarta, dan akhirnya terhenti. Krisis moneter 1998-99 memperparah keadaan. Di sisi lain, Au Bon Pain sendiri merestrukturisasi manajemen internalnya di AS. Namun, Rini tak putus asa. “Aku pikir, biar kita sendiri saja deh yang membuatnya. Akhirnya, kami pelan-pelan belajar,” katanya. Alhasil, lahirlah produk dan label buatan Rini sendiri: Pain de France.

Dalam perjalanannya, Rini mengutamakan produksi untuk memenuhi permintaan BtoB, terutama untuk jaringan kafe asal AS tadi. Kerja samanya dilakukan sejak 2005. Namun, produksi untuk ritel tetap dipertahankan dengan membuka gerai Pain de France di beberapa lokasi di pusat Kota Jakarta.

Menurut Rini, awalnya kue dan roti yang dijual di gerai kopi asal AS itu bukan hanya dari pabrik Rini, tetapi juga mengambil dari pemasok lain. Namun, kualitas produk milik Rini yang terus ditingkatkan membuat gerai kopi itu memesan lebih banyak lagi. Kami harus kreatif menawarkan produk baru dan memenuhi permintaan mereka. Di bisnis seperti ini, kita memang harus mengetahui masyarakat maunya apa,” ujarnya.

Harga jual produk bakery Delicorner – merek baru yang akan diusungnya dan akan disingkat menjadi Delico -- berkisar Rp 10-18 ribu. Khusus sandwich Rp 25-50 ribu. Adapun target pasarnya B+ sampai A+. Sampai sekarang ada sekitar lima mitra yang bekerja sama. Namun, hanya ada satu lagi klien besar – di luar jaringan kafe asal AS tadi -- yang bekerja sama dengan pihaknya. Yang jelas, tiap hari Delico memproduksi 60 jenis bakery dan 300 ribu item/bulan, baik untuk kebutuhan mitra maupun mereknya sendiri.

Sejak awal, Rini memercayakan manajemen dan operasional pada Ade Tobing, sahabat baiknya sejak SMP di Belanda. Ia mengaku hanya turun untuk kebijakan besar, seperti investasi baru. “Aku review hanya untuk hal-hal besar. Kalau operasional, Ade yang menjalankan.”

Saat ini Pain de France dalam proses perubahan nama menjadi Delico, setelah sebelumnya sempat bernama Delicorner. Ketika wawancara berlangsung, kami bertemu di gerai Delicorner. Gerai tersebut menurut Ade masih dalam proses pengubahan nama menjadi lebih singkat, yaitu Delico. Pengubahan nama tersebut seiring dengan rencana manajemen untuk meningkatkan penjualan ritel. “Orang Indonesia masih suka susah menyebut Pain de France. Jadi, nanti akan kami ubah dengan yang lebih mudah dan tidak lebih dari tiga suku kata,” papar Ade soal penggantian nama itu.

Rini mengaku investasi di bisnis ini tidak besar. Di antara sejumlah bisnis milik Rini, bisnis bakery tumbuh 15%-20%; menyumbang 20%-30% pendapatannya. Ia memperkirakan total aset bisnis rotinya saat ini mencapai US$ 3 juta dengan nilai terbesarnya berasal dari aset pabrik. Adapun gerai, hampir semuanya sewa. “Ini sekarang menjadi aktivitas yang menyenangkan,” Rini mengaku dengan nada semringah. (*)

 

Yuyun Manopol & Rias Andriati

 

Leave a Reply

1 thought on “Passion Rini Soemarno di Bisnis Roti”

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)