Pedas Manis Bisnis Keripik Balado Christine Hakim

Di Kota Padang, Keripik Christine Hakim telah menjadi ikon oleh-oleh khas ibu kota Provinsi Sumatera Barat itu. Setiap Idul Fitri, juga masa liburan lainnya, orang-orang sampai antre untuk membeli keripik balado tersebut.

Adalah Christine Hakim, perempuan yang bernama Tionghoa Cheng Kim Loei, yang membesut bisnis keripik pedas legendaris itu pada 1990. Christine mengawali bisnisnya hanya dengan modal Rp 150 ribu. Saat diwawancarai SWA melalui sambungan telepon, ia masih ingat, uang tersebut digunakannya untuk membeli dua karung singkong dan satu drum minyak. Setelah 26 tahun berlalu, tak dinyana omset Keripik Christine Hakim telah menyentuh angka miliar rupiah saban bulan.

Gerai Keripik Christine Hakim Gerai Keripik Christine Hakim

Christine merupakan putri pasangan perantau dari Negeri Tirai Bambu yang menjejakkan kaki di tanah Sumatera. Sejak kecil, ia membantu ibunya berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Pernikahannya pada 1990 membuat Christine memutuskan memulai bisnis sendiri. Ia membangun bisnis keripik balado, Christine Hakim. “Pada 1994 saya memulai bisnis saya sendiri bersama suami. Karena bingung namanya apa, saya gunakan nama Christine Hakim biar mudah aja,” ujarnya.

Dengan dana seadanya, Rp 150 ribu, Christine memulai usahanya. Modal perdananya itu ditukar dengan dua karung singkong dan satu drum yang bisa menghasilkan 300 kilogram keripik.

Dulu, pusat penjualan keripiknya berlokasi di gang sempit. Namun, kini semua proses produksi difokuskan di Jalan Nipah, Padang. “Kami fokus menjadi oleh-oleh khas Kota Padang. Jadi, setiap orang yang datang ke Kota Padang harus mampir ke toko kami untuk membeli makanan yang menjadi ikon tersebut. Itu target utama kami, yakni wisatawan ataupun orang yang sedang pulang ke kampung halaman mereka,” Christine memaparkan salah satu rahasia suksesnya.

Yang menarik, hingga kini Christine mempertahankan standar pembuatannya. Singkong yang digunakan terbatas dari Padang yang menurutnya lebih gurih dan kering setelah digoreng. Begitu pula penggunaan minyak kelapa, dipertahankannya hingga kini. “Hal ini bertujuan menghasilkan kesempurnaan keripik yang digoreng. Dengan menggunakan minyak kelapa, biasanya saya tidak perlu pengering untuk mengeringkan keripik lagi,” ujar peraih UKM Pangan Award 2011 itu.

Selain itu, Christine mengklaim produknya yang kini terdiri dari varian rasa balado, udang, durian dan keju itu bebas dari penggunaan bahan pewarna. Dalam membuat keripik rasa durian, misalnya, dia tidak mau menggunakan perasa atau pewarna durian karena akan membuat keripiknya jadi lengket usai dibumbui dan tidak enak dikonsumsi. “Jadi, saya gunakan bahan-bahan yang alami dan berasal dari lokal,” ungkapnya.

Selain standar pembuatan produk, praktik bisnis lawas pun terus diterapkannya hingga kini, yakni tumbuh tanpa utang. “Keluarga menanamkan pada saya, tidak boleh ngutang. Jadi, saya pakai uang yang saya punya tanpa harus utang. Dengan modal kecil itu, saya kerja keras untuk terus berkembang tanpa ada beban,” Christine menjelaskan.

Berkat konsistensinya dalam menjaga kualitas, kini dengan dibantu 40 karyawan, ia mampu menghasilkan 25 ton keripik sebulan dengan harga Rp 84 ribu/kg. Yang menarik, meski dilirik jaringan ritel besar, dia masih pikir-pikir untuk memasukkan produknya ke sana. Pasalnya, dia khawatir eksklusivitas keripiknya akan memudar lantaran bisa dijumpai di berbagai gerai peritel besar.

Kini Christine berencana membangun bisnis di luar keahlian intinya. Ya, dia sedang mengembangkan taman bermain air untuk anak-anak, juga berencana merilis produk batik khas Sum-Bar. “Dalam beberapa waktu ke depan saya akan membuat mal yang menjadi sentra batik di Sumatera Barat. Selain batik, tempat itu akan menjadi sentra toko keripik dan tempat bermain bagi anak-anak. Saat ini saya sedang merancang bisnis batik untuk diproduksi menggunakan merek yang sama dengan keripik,” Christine menjelaskan. (Hana Bilqisthi)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)