Di Balik Keberhasilan Indoexim Raih Rekor MURI

PT Indoexim International merupakan produsen sekaligus eksportir teak outdoor dan indoor furniture untuk hotel, resorts, apartemen, rumah, restaurant, dan kafe yang sudah berdiri sejak tahun 2006. Bahan baku kayu jati di Indonesia melimpah. Kualitasnya juga tak diragukan lagi. Perusahaan yang berkantor pusat di Jakarta ini memiliki fasilitas produksi di Jepara dengan luas sekitar 2,5 hektar.

“Produk yang kami tawarkan adalah Teak Outdoor dan teak Indoor Furniture, seperti beraneka ragam model kursi dan meja yang diperuntukkan untuk Hotel, resorts, restaurant dan kafe yang berbahan dasar kayu jati asli Indonesia,” kata Founder dan CEO Indoexim Int’l, Basuki Kurniawan.

Menurut dia, perseroan memang sejak awal sudah fokus mengarap pasar ekspor. Sejak tahun 2006, ekspor sudah dilakukan ke berbagai negara. Dengan produk menggunakan bahan baku jati berkualitas tinggi dan sudah memiliki Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) serta ISO 9001: 2000 tahun 2008 dan ISO 9001: 2008 tahun 2011, produk Indoexim dengan mudah menembus banyak negara.

indoeximAda 3 resep sukses yaitu: produk berkualitas, harga yang kompetitif, dan desain yang inovatif. Tak heran, produk Indoexim sudah menembus lima benua dan 89 negara. Sukses ini membawa mereka meraih penghargaan rekor MURI, yakni perusahaan dengan negara tujuan ekspor terbanyak, yaitu 89 negara pada tahun 2014 lalu. Perseroan juga pernah memperoleh Primaniyarta Award pada tahun 2011 dan 2013. “Nilai ekspor juga terus meningkat rata-rata 10% setiap tahunnya,” kata dia.

Kinerja Indoexim Int’l
Tahun Ekspor Penjualan
2012 US$ 2,8 juta 143,5 kontainer
2013 US$ 3 juta 151 kontainer
2014 US$ 3,3 juta 167 kontainer

Dari total 89 negara, paling banyak terdapat di Benua Eropa yakni 34 negara, disusul Asia yaitu 22 negara, Amerika (19 negara), Afrika (11 negara), dan Australia (3 negara). Eropa menjadi tujuan utama ekspor terbesar dengan nilai US$ 1,77 juta pada tahun 2014, atau 53,95% dari total ekspor.

Basuki menjelaskan perseroan harus jeli menghadapi tantangan yang menghadang perkembangan bisnisnya. Seperti, krisis yang terjadi pada 2008 silam yang membuat permintaan merosot tajam. Pada tahun ini, penurunan harga minyak dunia serta perekonomian yang melemah di Eropa Timur juga membuat permintaan menurun tajam. Karakteristik setiap pasar juga berbeda-beda.

Ia mencontohkan Amerika yang sebenarnya pasarnya besar. Namun, tak banyak perusahaan yang mampu menembus Negeri Abang Sam karena persyaratannya berbeda dengan negara-negara lain, seperti di Eropa. Lewat beragam pameran, perusahaan menembus pasar dunia. “Kalau di Amerika harus ada yang mensponsori atau menjamin bahwa produk yang ditawarkan sudah terjamin kualitasnya bagus. Di Eropa dengan mengikuti pameran saja, kami sudah bisa menembus pasarnya,” ujarnya.

Adapun pameran yang diikuti adalah Trade Expo Indonesia di JIEXPO, Kemayoran Jakarta, IFFINA di JIEXPO Jakarta, IFFS di Singapura, Sponga Fair di Koln Jerman, WMCLV di Las Vegas USA, China International Furniture Fair di Guangzhou, Korea International Furniture and Interior Fair, China International Furniture Expo di Shanghai, Index Trade Mumbai di India, Imm Cologne di Jerman dan Canton Fair di Guangzho China.

Dengan mengikuti banyak pameran, link ekspor menjadi lebih luas. Perseroan juga menerapkan strategi penyebaran ekspor. Dengan melakukan ekspor ke banyak negara di dunia, jika ada negara yang permintaannya menurun atau berhenti memesan, perseroan masih bisa bertahan dengan permintaan dari negara lain. “Kami juga menjual kepada wholesaler di masing-masing negara. Mereka yang akan menjual ke retail-retail di negaranya,” katanya. (Reportase: Nerissa Arviana)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)