Strategi Johannes Bangkitkan Surya Semesta Internusa

Krisis ekonomi 1997 meluluhlantakkan sendi-sendi perekonomian. Perusahaan harus berurusan dengan utang yang menggunung seiring melemahnya Rupiah. Tak sedikit perusahaan yang akhirnya harus gulung tikar. Tapi, Johannes Suriadjaja tak mau menyerah dan terus berusaha menyelamatkan PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSI) yang didirikan mendiang ayahnya, Benjamin Arman Suriadjaja.

Perjalanan SSI dimulai saat Benjamin mendirikan perusahaan konstruksi PT National Roadbuilder Construction Co. (NRC) pada 1967 selepas lulus dari Teknik Sipil, Institut Teknologi Bandung. Bersama dua kakaknya, William Soeryadjaya dan Tjia Kian Tie, Benjamin mendirikan perusahaan holding investasi yakni Multi Investments (MI) dan memasukkan NRC sebagai salah satu lini bisnisnya.

Selain membangun jalan raya, gedung bertingkat, bidang yang digeluti MI adalah suku cadang kendaraan bermotor, perkebunan, dan real estate. Proyek mereka yang paling ngehits adalah Kuningan Residential di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Lahan seluas 300 ha untuk proyek itu dibeli dari pengusaha Jan Darmadi, Sumendap, dan Pertamina. “Kami, developer kawasan Kuningan ini. Pertamina, Patra, dan lainnya, sampai ke ujung Menteng,” kata Johannes.

Johannes Suriadjaja,President Director Surya Internusa3

Proyek lain yang ngetop adalah Glodok Plaza, mal pertama di Indonesia, Hotel Melia di Bali, kemudian di Jakarta. Masuknya mereka ke real estate ditandai dengan pembangunan Kota Industri Suryacipta di Karawang, Jawa Barat seluas 1.400 ha. Kala itu, Direksi MI masih harus melaporkan kinerjanya ke Direksi Astra, perusahaan yang didirikan William Soeryadjaya. Hingga, tragedi Bank Summa meletus dan menyebabkan Om Willem terpaksa melepaskan sahamnya di Astra. “Kami pun berpisah dari Astra,” kata Johannes, lulusan Bachelor of Arts Manajemen Pemasaran dari The American College for The Applied Arts, Los Angeles, Amerika Serikat.

Nama MI pun berubah menjadi SSI. Mereka sempat limbung terpengaruh kepercayaan kreditor. Untungnya, Johannes punya koneksi banyak saat bekerja di Chase Manhattan Bank, Jakarta, selulus kuliah. Bank Internasional Indonesia (kini Maybank Indonesia) bersedia memberi pinjaman. “Dari sana, kami restrukturisasi dan jalan sendiri hingga SSI kemudian go public pada Maret 1997,” kata Johannes.

Tapi, SSI kembali dihajar krisis yang kali ini jauh lebih besar, yakni krisis moneter 1997, plus kerusuhan yang membumihanguskan Glodok Plaza. Pria yang sempat bekerja di Toyota AS itu tak mau menyerah. Utang yang menggunung, mencapai US$ 150 juta, terus direstrukturisasi. Berkat itikad baik dan lobi tingkat tinggi, bank bersedia memberi bunga yang rasional, 18% pertahun. Perusahaan juga menerima pembayaran klaim asuransi Glodok Plaza yang semula ditolak karena dianggap kondisi force majeur.

“Kami baru bisa lepas dari utang pada 2005. Untuk bayar utang, saham di berbagai perusahaan yang tak terkait bisnis inti dilepas. Kami mulai bangun lagi tahun 2007, yakni proyek Hotel Banyan Tree di Bali, yang mulai beroperasi 2010. Tahun 2008, kami right issue. Dari situ mulai berkembang. Akhir 2012, kami masuk jalan tol, yaitu Cipali. Lalu 2013, NRC go public,” katanya. (Reportase: Arie Liliyah)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)