Toffin Indonesia, Tumbuh dengan Berorientasi pada Pelanggan | SWA.co.id

Toffin Indonesia, Tumbuh dengan Berorientasi pada Pelanggan

Tony Arifin, CEO PT Toffin Indonesia.
Tony Arifin, CEO PT Toffin Indonesia.

Bagi Tony Arifin, tidak ada cara yang lebih baik untuk membangun strategi tumbuh kecuali berorientasi pada kebutuhan pelanggan. Pengalaman lebih dari 13 tahun bergelut di bidang perkopian, dengan berada di balik nama-nama kedai kopi terkemuka di Indonesia, membuatnya yakin bahwa pelangganlah yang bisa menjadi kompas sekaligus barometer pertumbuhan bisnis yang dirintisnya.

Bagaimana tidak. PT Toffin Indonesia, usaha yang didirikan Tony tahun 2007, awalnya adalah importir dan distributor campuran bubuk frappe untuk sektor horeka (hotel-restoran-kafe). Namun, seiring dengan perkembangan industri kopi di Indonesia, Toffin --singkatan Tony Arifin-- berkembang membangun lini produk yang lengkap, dari mesin kopi, biji kopi, hingga  peralatan terkait kopi, antara lain coffee roaster.

Jadi, Toffin bukan lagi sekadar trader beberapa merek mesin kopi di dunia, melainkan bertransformasi menjadi satu solusi komprehensif bagi pelaku industri kopi di Tanah Air. Toffin membantu para mitranya, mulai dari penentuan pilihan produk, jangkauan distribusi, sampai dengan dukungan layanan pascajual yang tersebar di hampir semua kota besar di Indonesia.

Dikatakan Tony, berkat dinamika penikmat kopi di Tanah Air, lanskap bisnis kopi lima tahun terakhir bergejolak tajam. Kopi Nusantara kini benar-benar telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Hal itu ditandai dengan bermunculannya pengusaha lokal yang membangun kedai di berbagai kota di seluruh Indonesia, diikuti semakin menjamurnya bisnis kedai kopi atau coffee shop, serta semakin meningkatnya tren minum kopi, terutama di kalangan milenial, sehingga terjadi kenaikan konsumsi kopi di Tanah Air.

Di antara dinamika perayaan kopi Nusantara tersebut, bisnis kedai kopi atau coffee shop adalah yang paling menonjol sebagai bisnis yang sangat menjanjikan saat ini. Survei majalah MIX dan Toffin menunjukkan, pada tahun 2020 bisnis kedai kopi diperkirakan meningkat seiring dengan naiknya konsumsi domestik kopi Indonesia pada 2019-2020 sebesar 13,9% menjadi 294.000 ton. Adapun jumlah gerai kopi diperkirakan minimal 2.937 gerai di seluruh Indonesia dengan nilai pasar mencapai lebih dari Rp 4,8 triliun/tahun.

Nah, Toffin menangkap peluang itu dengan bekerjasama tidak hanya dengan para coffee master dari Indonesia, tetapi juga mendatangkan para juara barista (pemenang World Barista Champion) dari luar negeri untuk memberikan pelatihan atau transfer knowledge dan tren. Mereka, di antaranya, Andre Eierman, Colin Harmon, Pete Licata, Hidenori Izaki, dan James Hoffman. “Hingga saat ini, kami belum melihat ada perusahaan sejenis yang mampu menawarkan hal serupa,” ujar Tony bangga. Toffin memang telah dikenal sebagai coffee business platform yang membantu mengakselerasi bisnis dari beragam mitra.

Dengan langkah pionir dari bisnis yang dijalankan, tak mengherankan, Toffin memiliki pangsa pasar terbesar, memimpin 85% untuk kategori mesin kopi dan bahan-bahan pelengkapnya. Walaupun saat ini 50% penjualan masih berasal dari Jakarta dan sekitarnya, serta 15% permintaan datang dari Surabaya, ia optimistis Indonesia masih punya potensi pasar yang cukup besar untuk terus tumbuh. “Kami akan terus menggali potensi dari berbagai sisi untuk mendorong pertumbuhan,” demikian tekad Tony. Saat ini sebenarnya ia sudah punya kantor cabang hampir di seluruh Indonesia, tetapi belum semuanya dapat berkembang seperti yang direncanakan.

Terkait upaya pertumbuhan Toffin, Tony berpegang teguh, tidak ada cara yang lebih baik membangun strategi tumbuh kecuali berorientasi pada kebutuhan pelanggan. Pasalnya, dari waktu ke waktu kebutuhan pelanggan bergerak dinamis. Perilaku konsumen terus berubah. Dengan demikian, strategi pemasaran yang dijalankan juga harus bergerak dinamis; media promosi pun berubah. Semua kegiatan pemasaran harus mengikuti perkembangan konsumen, terutama perilakunya. “Jadi, tim pemasaran Toffin didorong untuk selalu belajar hal baru supaya tetap melek terhadap perubahan tersebut, dan selalu mencari strategi yang tepat,” ia menegaskan.

Maka, kuncinya adalah customer centric, terpusat pada pelanggan. “Kami selalu didorong untuk selalu memberikan service yang lebih baik lagi kepada mitra kami,” kata Tony. Untuk ide-ide produk baru, bisa dari survei internal atau riset. Misalnya, demi memberikan info terbaru tentang kedai kopi di Tanah Air, pada awal 2020 Toffin menerbitkan “2020 Brewing in Indonesia: Insights for Successful Coffee Shop Business”.

Saat ini Toffin mengembangkan edukasi berbasis digital, yaitu Toffin E-Learning Center. Sebuah platform digital yang menyediakan program pengembangan dan pelatihan di industri kopi, mulai dari kreasi menu, pengembangan bisnis, hingga pelatihan keterampilan, yang difasilitasi mentor berpengalaman di bidangnya melalui daring (online), baik video maupun workshop. Para mentor ini terdiri dari master kopi internasional, juara kopi Indonesia, ahli teh, pakar kafe dan restoran, konsultan, hingga praktisi di industri kreatif, yang akan bicara sesuai dengan kapasitasnya. Mereka tak hanya membahas soal kopi, tetapi juga aspek-aspek di sekeliling industri tersebut, seperti bagaimana memilih lokasi yang tepat dan cara berpromosi di media sosial.

Menurut Tony, Toffin E-Learning Center hadir sebagai jawaban atas kebutuhan para pebisnis kopi, barista, serta orang yang bergerak di industri kopi, yang membutuhkan media pembelajaran yang praktis. Pembelajaran jarak jauh ini akan menjadi number one coffee business platform in Indonesia. Toffin menyiapkan Toffin E-Learning Center sebagai masa depan dunia pendidikan agar siapa pun bisa berpartisipasi di dalamnya.

Ide tersebut muncul ketika Toffin tidak ingin hanya dikenal sebagai "penjual" barang, tetapi mau menjadi platform yang membantu mengakselerasi bisnis mitra pelanggan untuk mencapai tujuan mereka. Platform ini ditargetkan akan diakses oleh 5.000-7.500 pengunjung pada Oktober 2020.

Ke depan, Toffin terus akan mengeksplorasi layanan yang dapat mendukung bisnis mitra dengan berbasis teknologi digital yang dikembangkan. Contohnya, mengembangkan analitik yang dapat meminimalkan kehabisan stok bahan baku mitra. “Sistem yang kami kembangkan akan memberi reminder kepada mitra untuk stock up,” Tony menjelaskan.

Salah satu fitur menarik yang sedang dikembangkan dengan para pemasok adalah pemeliharaan preventif (preventive maintenance). Contohnya, Toffin bisa memberi peringatan kepada mitra jika mesin mereka akan mengalami kerusakan sebelum terjadi down. “Saya berharap fitur ini akan segera tersedia untuk beberapa model premium kami, sebelum pelan-pelan ke depannya diaplikasikan ke semua model,” kata Tony. (*)

Dyah Hasto Palupi/Andi Hana Mufidah Elmirasari

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)