Ultrabook Memanaskan Pasar Notebook

Model komputer jinjing atau notebook terus berevolusi. Sebelumnya yang sempat populer adalah netbook (dengan spesifikasi minimalis dan berharga murah), kini yang sedang naik daun adalah ultrabrook. Kategori notebook ini dipopulerkan vendor chipset Intel untuk menyebut komputer jinjing yang memiliki desain tipis, ringan dan stylish, tetapi tetap berkinerja powerful. Dengan spesifikasi seperti itu, tentu saja harganya jauh lebih mahal, sehingga dikategorikan sebagai notebook premium.

Riko Gunawan Riko Gunawan

Kini, hampir semua vendor komputer telah merilis jenis ultrabook. Acer, misalnya, pada September 2011 meluncurkan Aspire S3 di pasar Indonesia. Selanjutnya, menyusul varian ultrabook S5, S7, dan Aspire M5, dengan harga jual dari Rp 7 juta hingga Rp 17 juta. Selain tipis, stylish, dan instant-on, ultrabook tersebut juga hanya memiliki berat 1,3 kg. “Dari segi variannya, Acer paling lengkap. Jadi, konsumen bisa memilih sesuai dengan kebutuhan dan gaya mereka,” kata Riko Gunawan, Head of Product Management PT Acer Indonesia.

Diklaim Riko, pertumbuhan pasar ultrabook Acer dalam beberapa bulan terakhir sebesar 20%-30%. Di hampir semua pasar utama, menurutnya, produk ultrabook Acer menempati posisi pertama. Mengutip hasil survei GfK, Acer menempati posisi pertama di pasar ultrabook, dengan pangsa pasar 28%.

Menurut Riko, keberhasilan ultrabook Acer tidak lepas dari strategi pemasaran yang dilakukan. Seperti produk Acer lainnya, ultrabook pun menggunakan strategi digital marketing. Pihak Acer menggunakan blog, website dan media sosial untuk strategi pemasarannya. “Kami pikir pengguna produk ini dekat dengan dunia digital, maka promosi dan pemasarannya pun harus ke situ,” ujarnya.

Selain itu, ada beberapa kegiatan aktivasi merek. Misalnya, ketika meluncurkan ultrabook pertama, ada kampanye touch the screen. Acer juga melakukan road show sebagai bagian dari edukasi. “Kami membuat experience zone melalui road show ini bersama Intel dan Microsoft. Tujuannya agar konsumen merasakan produknya langsung,” kata Riko. “Kami terus lakukan road show dan pemasaran digital, agar pasar ini terus berkembang.”

Menyusul Acer, pada November 2011 Asus merilis kategori ultrabook: Zenbook dan VivoBook, yang diluncurkan tahun ini. Menurut Juliana Chen, Manajer Pemasaran Asus, dibandingkan merek lain, ultrabook Asus sudah menggunakan bahan alumunium sehingga sangat ringan. Beratnya hanya 1,1 kg dengan ketebalan maksimum 13,3 inci. “Zenbook adalah ultrabook pertama dengan hybrid storage,” kata Juliana.

Untuk Zenbook, sesuai dengan target pasar yang dibidik, yaitu para eksekutif, harga jualnya US$ 1.059-1.729. Adapun VivoBook yang sudah menggunakan layar sentuh ditujukan untuk kalangan muda dan mahasiswa. Harga jualnya US$ 489-929. “Kinerja penjualan Zenbook sudah bagus untuk portofolio kami, sudah mencapai ribuan. Ke depannya kami berharap pada VivoBook karena dari segi harga lebih terjangkau,” ujar Juliana.

Strateginya? “Kami tidak memiliki strategi yang spesial. Untuk kedua produk ini sekarang kami lebih fokus promosi kepada user melalui program free mouse, bundel harddisk eksternal, dan cashback.

Namun, meski dengan promosi biasa, Juliana mengklaim pihaknya mampu mengejar Acer. Tiga tahun lalu pangsa pasar notebook Asus secara keseluruhan hanya 3,5%, tetapi saat ini sudah 22%. “Sekarang kami menduduki peringkat dua, di belakang Acer untuk kategori notebook. Memang, ultrabook Asus saat ini pangsa pasarnya masih di bawah 10%,” katanya.

Pemain lainnya adalah Lenovo yang telah meluncurkan rangkaian ultrabook-nya, yaitu ultrabook seri Y, seri U, seri Z, IdeaPad dan ThinkPad. Rentang harganya Rp 7-10 juta. “Semua seri memiliki fungsi dan kelebihan masing-masing. Hal itu bergantung pada kebutuhan konsumen,” ujar Helmy Susanto, Manajer 4P & Distribusi -- Bisnis Konsumer PT Lenovo Indonesia.

Menurut Helmy, mengacu pada data GfK, proporsi segmen premium di Indonesia tidak besar. Maka, untuk menggarap segmen premium ini, pihaknya harus melakukan komunikasi yang tepat. “Tinggal tergantung pada how we communicate dan sejauh apa pasar Indonesia bisa teredukasi. Karena itu, kami berupaya dapat melakukan komunikasi yang tepat,” ujarnya.

Tak mau ketinggalan, Samsung pun pada kuartal II tahun ini telah merilis tiga seri produk ultrabook, yaitu Series 5, ultrathin AMD dan Series 9. Harga jualnya Rp 6-13 juta. “Series 9 adalah produk premium Samsung yang tertipis di dunia untuk kategori 13,3 inci dengan ketebalan hanya 12,9 mm, fast boot 9,8 detik, fast start 1,4 detik,” Sung Khiun, Direktur Bisnis TI PT Samsung Electronics Indonesia, mengklaim.

Support program yang memberikan keuntungan merupakan salah satu strategi Samsung membuat produk-produk premiumnya akan mampu memimpin pasar,” kata Sung. Menurutnya, penjualan notebook Samsung tahun ini naik dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. “Tahun ini pasar ultrabook tumbuh cukup pesat. Prediksinya, kami minimal bisa mengambil porsi 10% dari total pasar notebook yang tahun ini diperkirakan sebesar 3,8 juta unit,” ujarnya seraya menambahkan, di pasar notebook Samsung ada di posisi lima besar.

Ya, ke depan persaingan di kancah bisnis notebook masih akan seru. (*)

A.Mohammad B.S./Herning Banirestu, Rangga Wiraspati, Sigit A. Nugroho, Tika Widyaningtyas

Riset: Sarah Ratna

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)