Urbane Tetap Moncer Tanpa Kang Emil

Sebelum menjadi Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil lebih dikenal sebagai seorang arsitek ternama. Segudang prestasi internasional dan karya desain fenomenal, baik di dalam maupun di luar negeri, telah ditorehkannya lewat biro konsultan perencanaan, arsitektur dan desain yang didirikannya pada 2004, Urbane Indonesia. Lantas, bagaimana nasib firma konsultan arsitektur dan desain ini setelah ditinggal Kang Emil --panggilan akrabnya-- pada 2013 karena terpilih sebagai Wali Kota Bandung?

Ternyata tanpa kehadiran Emil, Urbane tetap eksis. Bahkan, di bawah kendali Reza A. Nurtjahja, yang kini berperan sebagai principal atau direktur pengelola, pada 2016 ini Urbane kembali masuk dalam daftar Top Ten Architecture Firms versi BCI Asia. Perlu diketahui, daftar ini memuat firma-firma arsitektur yang paling aktif atau mengerjakan proyek-proyek dengan nilai agregat terbesar dalam setahun. “Penghargaan BCI Asia ini dianugerahkan kepada konsultan arsitektur dan desain yang paling banyak mendapat proyek. Jadi, bukan dari segi desain, tetapi volume,” Reza menjelaskan. Penghargaan serupa pernah diraih Urbane pada 2007.

Urbane Reza A. Nurtjahja, Direktur Pengelola Urbane

Reza menyebutkan, sepanjang 2015-16, Urbane memang mengerjakan beberapa proyek. Total proyek yang berjalan mencapai 30. Menurutnya, untuk proyek-proyek tersebut, perencanaannya sudah dimulai pada 2013-14, dan masih berjalan sampai sekarang. Pasalnya, ada yang masih menunggu perizinan, atau baru dilanjutkan setelah sempat terhenti. Proyek yang dikerjakan Urbane antara lain apartemen di Alam Sutera dan apartemen Ciputraland Surabaya.

Adapun proyek terbesar yang sedang dikerjakan adalah Kirana Commercial Avenue di Kelapa Gading, dengan luas bangunan mixed use sekitar 250 ribu m2. Ada tiga menara yang dibangun: office tower 40 lantai, hotel 20 lantai untuk Hotel Swiss Bell yang sebentar lagi akan dibuka, dan juga office tower lagi sekitar 20 lantai.

Reza mengklaim, salah satu keunggulan Urbane yang paling menonjol adalah kemampuan membuat formula desain. Menurutnya, formula desain ini senantiasa mengacu pada beberapa hal, antara lain metafora. Maksudnya, suatu desain harus bisa bercerita dan ide bisa datang dari berbagai bentuk di alam.

“Contohnya, kami pernah mendesain kolam renang. Kami mengambil inspirasi dari butiran tetesan air. Kami transformasikan ke dalam bentuk arsitektural,” ungkap Reza. “Jadi, berangkat dari ide abstrak kemudian menjadi sebuah bentuk arsitektural yang visual. Ada yang terlihat langsung, namun ada juga yang harus dipahami,” ia menambahkan.

Karena itu, menurut Reza, di Urbane setiap orang dituntut tetap kreatif sehingga bisa menghasilkan ide dan desain unik dan berkualitas. “Maka, kami menjaga suasana karyawan dalam bekerja,” katanya. Hal lain adalah berinvestasi dalam pengetahuan. Reza menyebutkan, setahun sekali tiap karyawannya dikirim traveling ke kota lain, baik di dalam negeri maupun di Asia Tenggara. Sementara arsitek senior biasanya dikirim ke negara-negara Eropa, Jepang, atau ke kota-kota besar dunia di negara-negara lain. “Kami merekrut orang arsitek, namun bukan berarti kami meninggalkan begitu saja. Kami harus bisa mengajak jalan-jalan dan brainstorming tentang proyek baru. Ini yang menjadi nilai lebih di Urbane,” ujar Reza.

Total karyawan Urbane kini sekitar 60 orang. Arsiteknya sendiri hanya lima orang, sisanya tenaga penunjang seperti administrasi. “Lebih mudah mengatur kelompok kecil, dan kami ini sudah masuk ukuran mid-size firm,” ucap Reza. Manajemen Urbane juga membatasi banyaknya proyek yang diikuti.

Menurut Reza, dari sejumlah karya arsitektural yang sudah dibuat Urbane, ada dua proyek yang paling membanggakan dan menjadi masterpiece, yakni Museum Tsunami Aceh dan Masjid Agung Sumatera Barat. Menariknya, kedua proyek itu lahir dari hasil sayembara. “Kenapa kebanggaan? Sebab, Museum Tsunami Aceh itu bersifat internasional. Tsunami menjadi perhatian internasional dan terkenal peristiwanya. Sedangkan Masjid Agung Sumatera Barat menjadi kebanggaan karena kami menjadi juara satu,” ungkap Reza.

Ya, nama Urbane mulai menasional setelah memenangi sejumlah sayembara perencanaan dan arsitektur yang diselenggarakan berbagai lembaga, seperti The Learning Gateway, Kampus I Universitas Tarumanagara; The Skyscape Gateway di Kemayoran; hingga Museum Tsunami di Aceh. Ratusan karya Urbane tidak hanya di berbagai kota di Indonesia, tetapi juga di sejumlah negara, antara lain China, Singapura, Arab Saudi (Jeddah), dan Amerika Serikat (San Francisco).

Dengan membatasi proyek yang diikutinya, manajemen Urbane mengaku cukup puas dengan pertumbuhan bisnis rata-rata 15%-20% per tahun. “Ke depan, kami ingin Urbane tidak hanya sebagai konsultan arsitek tetapi sebagai konsultan yang bisa memberikan nilai tambah. Idealisme kami membantu masyarakat, dengan membuat kawasan kota menjadi lebih baik,” kata Reza.

Kiprah Urbane sebagai salah satu pemain bisnis jasa arsitektur ini diapresiasi Dr. Ir Woerjanatari K. Soedarsono MT, Dosen Arsitektur dan Rancang Kota Institut Teknologi Bandung. “Urbane merupakan salah satu konsultan yang relatif baru, namun cepat berkembang dan sangat kreatif dalam desain,” katanya. “Saya juga melihat Urbane selalu mencoba melahirkan pendekatan dan konsep baru dalam menyelesaikan masalah,” anggota Tim Ahli Bangunan Gedung di Bandung dan Jakarta ini menambahkan.

Menurut Woerjanatari, umumnya konsultan arsitek Indonesia memiliki tiga keunggulan dibandingkan dengan konsultan asing. Pertama, lebih mengetahui kearifan lokal dalam mendesain dan memahami perilaku pengguna bangunan. Kedua, lebih menguasai standar dan peraturan tata ruang dan bangunan setempat yang perlu dipenuhi. Ketiga, biaya operasional yang dibutuhkan biasanya lebih rendah dibandingkan konsultan luar. “Semoga saja Urbane bisa menjadi biro arsitek yang tidak hanya kreatif secara visual, tetapi juga mampu memberikan terobosan baru solusi berkehidupan dan mampu bersaing di pasar dunia,” ujar Woerjanatari mendoakan. (*)

Ridwan Kamil: Menebar Karya ke Mancanegara

Ridwan Kamil: Bandung Makin Probisnis

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)