XTrans, Jagoan Baru Angkutan Travel dari Bandung

Krisis yang meruntuhkan kinerja bisnis tak selalu merupakan bencana berkepanjangan. Siapa tahu di baliknya kita malah bisa menemukan peluang bisnis yang lebih potensial.  Itulah pengalaman yang dirasakan pebisnis asal Bandung, Erlangga Ibrahim.

Awal tahun 2000-an, Erlangga mengembangkan  perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi dengan bendera PT Infotel Apramana Jasa. Produk yang dijual waktu itu berbagai layanan telekomunikasi.  Antara lain, Fax Net yang berfungsi untuk komunikasi internasional. Dengan menggandeng mitra provider yang melayani jasa store and forward, pelanggan Infotel  bisa menghemat tarif komunikasi ke luar negeri.

Sayangnya, tahun 2004 ada krisis yang sangat berdampak pada industri tekstil. Kebetulan mayoritas pelanggan Infotel adalah perusahaan garmen.  Tak ayal, krisis tersebut ikut memukul bisnis Infotel.  “Dari situ,  manajemen mencari akal untuk menyelamatkan perusahaan dari kerugian besar,” ujar R. Ekowahju Sasongko,  orang kepercayaan Erlangga.

Eko Wahyu Sasongko, GM XTrans Eko Wahyu Sasongko, GM XTrans

Kebetulan waktu itu pembangunan  jalan tol Cipularang sebagai persiapan kunjungan delegasi Konferensi Asia Afrika yang ke-50 baru  rampung. Muncullah sebuah ide untuk membangun bisnis yang dapat mengakomodasi perjalanan darat Jakarta-Bandung dengan nyaman dan aman. Dari sinilah lahir jasa transportasi travel ini. Tepatnya pada 5 Mei 2005,  Erlangga resmi meluncurkan  nama XTrans ke publik.

Nama XTrans sendiri diambil dari nama lini bisnis mereka sebelumnya.  Di sektor telekomunikasi, mereka memang punya produk bernama XSeven. “Dalam rapat manajemen saya mengusulkan nama XTrans itu, sebagai kelanjutan dari bisnis sebelumnya,” ujar Eko yang kemudian dipercaya sebagai GM XTrans.

Toh, ada diferensiasi yang disodorkan XTrans, yakni sebagai pelopor layanan on time shuttle travel di Indonesia. Maklumlah, seperti diungkapkan Eko, sebelum ada XTrans, semua pemain transportasi travel menggunakan sistem door to door. Maksudnya, penumpang dijemput dari rumah mereka dan diantarkan hingga ke rumah mereka masing-masing. Hal ini tentu tidak efisien dari segi waktu.

Terinspirasi dari sistem layanan kereta api yang menggunakan model on time shuttle, manajemen XTrans memutuskan untuk menggunakan pola ini. “Jika ada penumpang yang ingin pergi naik kerta api, penumpang yang mendatangi sendiri stasiun kereta api, bukan kereta api yang mendatangi penumpang,” ujar Eko. Setelah berjalan sekian waktu, sistem yang dipakai XTrans ini akhirnya diikuti oleh pemain jasa travel lainnya. Namun, karena memelopori model seperti ini, manajemen XTrans yakin  pihaknya punya pengalaman yang lebih mantap.

Bisnis XTrans ternyata cukup berkembang.  Bila ditilik penyebabnya bisa macam-macam, di antaranya timing yang pas seiring pembukaan jalan tol Cipularang, sistem on time shuttle yang lebih efisien, hingga merosotnya bisnis raja travel Jakarta-Bandung sebelumnya,  Cipaganti.

Awalnya XTrans hanya melayani rute Jakarta-Bandung. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu dan perkembangan bisnis,  mulai tahun 2014 layanan XTrans sudah menjangkau wilayah Jawa Tengah, seperti  Semarang, Yogyakarta, Pekalongan dan Solo. “Rencananya dalam waktu dekat, kami juga akan buka di wilayah Cirebon, tinggal menunggu surat izinnya saja,” kata Eko.

Dari segi armada,  bila mulanya hanya diperkuat 6 unit mobil, sekarang jumlahnya sudah mencapai 120 armada yang tersebar di 14 titik/cabang XTrans di Jakarta dan 6 cabang di Bandung. “Jumlah karyawan kami juga terus bertambah,” ujar Eko. Untuk wilayah Jakarta dan Bandung jumlah karyawan XTrans sebanyak 550 orang, 240 orang di antaranya adalah sopir armada. Setiap armada punya dua sopir yang bertanggung jawab terhadap kelancaran armada XTrans.

Jumlah penumpang XTrans bergantung pada momennya. “Antara weekend  dan weekday jumlahnya berbeda. Tapi secara keseluruhan, rata-rata jumlah penumpang XTrans setiap hari mulai dari 900-1000 orang,” kata Eko. Sedangkan untuk member tetap yang belangganan XTrans untuk berbagai keperluan, jumlahnya mencapai 14 ribu orang.

Menurut Eko,  karena perusahaannya bergerak di sektor jasa, maka yang paling utama adalah kepercayaan pelanggan. “Itu yang kami jaga dengan baik, kepercayaan dari penumpang,” ujarnya. Untuk keamanan, pihaknya memberikan rambu-rambu kepada sopir, dan penjelasan berbagai hal yang perlu diketahui sebelum sopir bekerja di XTrans. “Kami lakukan pelatihan lebih dulu tata cara mengemudi dan melayani penumpang.”

Di antara rambu-rambu itu, misalnya tidak melewati bahu jalan di tol, tidak melebihi kecepatan 100 km dan selalu mengecek segala kebutuhan armada. “Agar terus terjaga rambu-rambunya, kami juga memantaunya lewat penumpang. Kami meminta kepada mereka agar bisa memberikan umpan balik tentang layanan XTrans. Setiap ada keluhan,  masukan dan kritikan akan segera kami evaluasi. Dengan begitu, layanan kami terus dipercaya oleh pelanggan dan terus berkembang,” Eko menuturkan. Di luar itu sebenarnya XTrans mengembangkan pula layanan inovatif seperti fasilitas online booking lewat situs webnya  (www.xtrans.co.id).

Apa rencana XTrans ke depan?  “Prinsipnya kami akan terus kembangkan bisnis transportasi dari hulu ke hilir,” kata Eko. Di luar bisnis transportasi travel, sekarang Grup XTrans juga mengembangkan layanan penginapan hotel bintang tiga bernama D'Batara di Bandung dan layanan bisnis wisata lewat bendera XTrans Holiday.  “Buat penumpang XTrans diberikan diskon menarik,” kata Eko setengah promosi.

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)