Adikelana Adiwoso, dari Kantor Mentereng ke Kandang Sapi

 

Adikelana Adiwoso Adikelana Adiwoso, Pendiri PT Juang Jaya Abdi Alam

Dari seorang presiden direktur di perusahaan konglomerat Indonesia, Adikelana Adiwoso akhirnya harus membersihkan kandang dan menyekop kotoran sapi di kandang.  Toh dirinya ikhlas. Pria yang disapa Dicky itu paham, sebagai pendiri PT Juang Jaya Abadi Farm (JJAF), perusahaan penggemukan sapi di Lampung, dirinya harus memberi teladan etos kerja kepada para pekerjanya di lapangan. Hasilnya, bisnis berkembang pesat hingga kini JJAF memiliki kapasitas puluhan ribu ekor sapi saban tahun.

Dicky sendiri memang sosok pebisnis yang berkomitmen penuh dalam setiap gerak langkahnya. Ketika memutuskan pensiun dari perusahaan penggemukan sapi milik kelompok Bakrie 20 tahun silam, pria kelahiran Jakarta tahun 1955 itu lantas banting setir ke bisnis serupa. Bedanya, dirinya menjadi pengendali penuh di bisnis barunya karena menjadi investor sekaligus pengelolanya.

Pria yang kerap disapa Dicky oleh sejawatnya itu sendiri memiliki jejak karier yang tak cuma panjang, namun sekaligus mentereng. Betapa tidak, dirinya pernah bekerja di perusahaan milik keluarga konglomerat legendaris dunia asal Jerman, M. Rotschild & Company di New York, AS, sampai perusahaan milik keluarga konglomerat kenamaan Indonesia, PT Bakri & Brothers. Sejumlah perusahaan global seperti, Johnson & Johnson International dan International Finance Corporation yang notabene anak usaha Bank Dunia, pun sempat disinggahi dalam perjalanan karirnya.  

Alumnus S-1 administrasi bisnis dari The American University, Washington DC, AS dan master manajemen internasional dari American Graduate School of International Management (Thunderbird), Arizona, AS itu pun sempat bekerja di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dengan jabatan Wakil Presiden Senior divisi Forensik dan Pelacakan Aset dari tahun 1999-2003 di bawah komando Glen Yusuf.

Meski demikian, Dicky mengakui, ‘panggilan’ menjadi pengusaha penggemukan sapi terbit ketika dirinya memimpin PT Tipperary Indonesia dari tahun 1991-1997, perusahaan milik Bakrie yang bergerak dalam penggemukan sapi. “Saat itu salah satu rekan saya berkata, hidup saya tidak akan jauh dari sapi, eh tahunya benar, ha ha ha..,” Dicky pun tergelak mengenang ramalan kawannya ketika ditemui Majalah SWA di salah satu kafe di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, tak jauh dari rumahnya.

Dicky sendiri mengawali bisnisnya di bidang per-sapi-an pada tahun 1997, selepas menjabat Presiden Direktur di Tipperary. Saat itu ia  memilih untuk menjadi pedagang sapi impor, alias makelar. “Saya mengawali dengan modal seadanya. Saya harus mampu mengukur diri dan modal saya,” ujarnya blak-blakan.  

Untuk menambah modal, Dicky pun sampai harus melego mobil Toyota Land Cruiser kesayangannya dengan harga Rp 300 juta. Hasilnya pun tak seluruhnya digelontorkan ke bisnis barunya. Dana hasil penjualan dibagi tiga. Seratus juta pertama diberikannya ke istri tercinta agar ‘dapur’ tetap ngebul dan kebutuhan dasar empat anaknya yang sudah sekolah dapat terpenuhi. Seratus juta rupiah kedua dibelikannya mobil bekas untuk transportasi sehari-hari. Baru kemudian Rp 100 juta terakhir dikucurkan ke dalam bisnis perdagangan sapi yang dirintisnya. “Selain itu sejumlah teman juga memberikan tambahan modal, saya bersyukur teman-teman mempercayai saya,” urainya seraya tersenyum kecil.

Dari perdagangan sapi impor yang dibelinya dari Australia, lambat laun bisnisnya mulai berkembang. Hingga di bulan Oktober tahun 2000 Dicky mulai ‘naik kelas’ dengan memasuki bisnis penggemukan sapi di bawah bendera PT Juang Jaya Abdi Alam. Lokasi peternakannya sendiri berlokasi di Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, Lampung, sampai kini.

Untuk memacu bisnisnya, Dicky yang menjabat Presiden Direktur di perusahaannya itu membeli lahan seluas 20 hektar dan membangun kandang yang mampu menampung 6 ribu sapi dalam satu periode. Adapun dalam setahun terdapat tiga periode penggemukan sapi. “Saya pilih Lampung karena faktor ketersediaan bahan pangan, lahan, dan dekat pelabuhan internasional,” jelasnya.

Dicky memaparkan, model bisnis penggemukan sapi yang digelutinya sejatinya cukup sederhana. Sapi impor jenis brahman cross yang didatangkan dari Australia dengan berat sekitar 300-350 kg kemudian digemukkan selama 4 bulan hingga mencapai bobot 450-500 kg. Pasar produknya pun sudah jelas, yakni rumah potong hewan (RPH) yang akan menampung sapi hasil penggemukan. “Itu model bisnis kami,”  Dicky menandaskan.

Terlihat sederhana? Bisa jadi. Namun, perlu diketahui, prosesnya sungguh berbeda antara menggemukkan 1-2 ekor dengan ribuan ekor sapi. Pelaku industri penggemukan sapi harus memantau ketat nilai gizi pakan ternak dan kesehatannya. Karena faktor itu yang akan menentukan jarak antara biaya dengan nilai jualnya, alias rugi laba per ekor sapi. “Bisnis penggemukan sapi adalah bisnis yang sangat ilmiah. Kita harus mampu menghitung detil seluruh biaya dari pengiriman di luar negeri sampai kelak sapi memasuki RPH,” tutur Dicky.  

Jangan ditanya perjuangan Dicky dalam mewujudkan impiannya. Mantan petinggi di berbagai perusahaan terkemuka di dalam dan luar negeri itu tanpa kenal lelah berguru kepada siapapun di bidang penggemukan sapi. Dalam perjalanannya, Dicky sampai menghubungi teman-teman lamanya di departemen dalam negeri, AS. Kepada teman-temannya itu, Dicky meminta bantuan untuk mempelajari bisnis penggemukan sapi modern.

Berbagai ilmu yang diperoleh dari berbagai sumber lantas diterapkan secara disiplin ke 50 karyawannya di feedlot, lokasi penggemukan sapinya di Lampung. Tak jarang, Dicky sendiri yang harus turun mengontrol operasional perusahaan sampai ke lapangan. Termasuk di antaranya, mengurusi hewan ternak sampai menyekop kotoran sapi demi menjaga kebersihan kandang. Semua itu dilakukan demi memberikan teladan kepada para karyawannya. “Jangan dikira kalau sudah menjadi owner, presdir di bisnis ini lantas bisa ongkang-ongkang kaki, pasti ga jalan bisnisnya kalau begitu caranya. In this business you have to study and give examples with the grass root people,” ia menegaskan.

Proses belajar di bisnisnya pun terus dilakoni Dicky tanpa henti. Setiap tahun Dicky wajib mengunjungi pameran tentang hewan ternak dan nutrisinya di Amerika Serikat dan Eropa. Peningkatan skala produksi pun dilakukan secara berkala. Salah satunya di tahun 2010 ketika dirinya menggandakan kapasitas feedlot Juang Jaya hingga dua kali lipat.

Kini Juang Jaya memiliki dua lokasi penggemukan sapi. Yang pertama berlokasi di Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung dengan luas lahan 160 hektar, dan kapasitas 28 ribu ekor sapi. Yang kedua berlokasi di Desa Negara Beringin, Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara dengan kapasitas 6500 ekor sapi. Total luas feedlot Juang Jaya kini mencapai 250 hektar dan ditangani tak kurang dari 400 pegawai.

Meski kini Juang Jaya telah menjadi salah satu perusahaan penggemuka sapi terkemuka di Indonesia, namun Dicky mengaku masih jauh dari beristirahat. Salah satu passion-nya kini adalah membantu peternakan sapi rakyat. Salah satu daerah yang telah dibantunya adalah di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Melalui Pusat Koperasi Unit Desa Kupang, Nusa Tenggara Timur, Dicky membantu petani penggemukan sapi di sana melalui model pembiayaan mikro. ‘Proyek pribadi’ yang sudah berlangsung selama 7 tahun terakhir ini memberikan modal bergulir berupa dua ekor sapi untuk kelompok petani di sana.

Tak terasa, hingga kini tak kurang dari 1500 petani yang tergabung dalam kelompok tani maupun PUSKUD di Kupang yang telah merasakan bantuan bergulir. “Saya berhasrat untuk membantu peternak sapi di Indonesia untuk meningkatkan taraf hidupnya, jadi bisa dibilang ini baru obsesi saya, CSR (corporate social responsibility), hahaha,” ujarnya seraya tertawa lepas.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)