Baru 2 Tahun, Penjualan Plastik Ecoplas Menjanjikan

Penggunaan kantong plastik yang ramah lingkungan kini gencar dilakukan oleh sejumlah perusahaan ritel modern. Kondisi ini pun menguntungkan bisnis perusahaan yang memproduksi produk tersebut. Salah satunya adalah produk kantong plastik dari tepung singkong, ecoplas, yang dibuat oleh PT Tirta Marta.

Sugianto Tandio, Presiden Direktur PT Tirta Marta

“Baru dalam dua tahun ini kita mulai pemasaran (ecoplas). Dan, hasilnya cukup menggembirakan,” sebut Sugianto Tandio, Presiden Direktur PT Tirta Marta, di sela-sela ajang Ernst&Young Entrepreneur of The Year Awards 2012, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut dia, pembuatan produk kantong plastik dengan bahan baku tumbuh-tumbuhan bukan hal yang baru. Pembuatan dengan bahan alami ini sudah berlangsung di Amerika Serikat maupun Eropa. Hanya pembuatan plastik di negara-negara itu menggunakan tanaman jagung. Sementara, produk kantong plastik ecoplas dibuat dari singkong. “Nah, kita yang pertama kembangkan dari singkong. Karena kita daerah tropis, lebih banyak singkong dari jagung,” tambah Sugianto yang baru saja memenangkan penghargaan dalam hal inovasi dari Ernst&Young.

Lantas, seperti apa kondisi awal hingga kini dari bisnis plastik ecoplas ini. Berikut petikan wawancara dengan pria yang pernah menjalankan studinya di Amerika Serikat ini.

Kenapa mengambil bahan baku dari singkong?

Singkong itu lebih mahal dan merakyat. Bukan cuma ada dampak lingkungannya, tetapi juga ada dampak sosialnya. Singkong itu gampang ditanam, di mana-mana bisa. Sementara dari jagung itu harganya sangat mahal. Kita (singkong) harganya sangat reasonable. Jadi, kita cari sumber yang paling economical.

Bagaimana riset awal perusahaan sebelum akhirnya memproduksi ecoplas?

Risetnya lama ya, kita penelitian sudah 10 tahun. Baru dalam 2 tahun ini kita mulai pemasaran. Dan cukup menggembirakan. Kita kan ada dua teknologi, satu lebih mahal, satu lebih murah. Cost-nya banyak sekali.

Berapa produksi ecoplas per tahunnya?

Setahun itu kurang lebih ada 10.000 ton. Itu masih kecil banget. Penjualan, ada ekspor sama penjualan dalam negeri. Porsinya mungkin 50-50. Ekspor ke Amerika Serikat, Vietnam, Kolombia, dan China.  Dari 10.000 ton, pemakaian singkong kurang lebih 60 persennya.

Apakah ada kesulitan mendapatkan bahan baku, yakni singkong?

Sampai sekarang sih nggak ya. Singkong kan tanamnya nggak perlu biji, jadi tanamnya gampang. Dan di tanah yang marjinal bisa ditanam. Jadi, kalau sampai titik itu (kesulitan bahan baku) malah good problem, karena orang bisa tambah kerja dengan lahan-lahan yang tidak terpakai bisa dipakai.

Sugianto Tandio, Presiden Direktur PT Tirta Marta Sugianto Tandio, Presiden Direktur PT Tirta Marta

Bagaimana tanggapan pasar luar negeri dan dalam negeri terhadap produk ramah lingkungan ini?

Tanggapan luar negeri bagus, dalam negeri pun bagus. Dua tahun ini, pemasaran cukup bisa diterima. Dua tahun lalu ketika kita mulai ke pasar modern seperti Indomart, Alfa, Hero, itu dalam satu tahun sudah 90 persen pakai. Jadi, itu suatu prestasi Indonesia. Karena kalau di negara lain, nggak ada tuh pasar modern-nya yang sudah pakai plastik ramah lingkungan begitu besar. Dua tahun ini  ke pasar modern, tapi ini juga sudah mulai masuk ke pasar tradisional.

Bagaimana kontribusi penjualan ecoplas terhadap pendapatan perusahaan?

Baru dua tahun pemasaran, kita sudah mencapai 30-40 persen. itu dari nol. Growth-nya cukup besar ya. Dan ini istilahnya masih baru memperkenalkan, jadi masih banyak area yang belum kita sentuh.

Ke depan, apakah harga plastik ecoplas mungkin untuk terus turun?

Ecoplas yang dari singkong itu memang sekitar 20-50 persen lebih mahal. Tapi kalau produk plastik dari jagung yang di luar negeri itu 300-400 persen lebih mahal. Ke depan, pasti bisa turun dengan pengembangan teknologi. Segala inovasi itu memang ada critical mass, yakni semakin banyak kita produksi pasti harganya semakin menarik. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)