Bisnis Bali Honey Sang Mantan Direktur TMII

Ande F. Meyliala, CEO PT Karya Gemilang Nara Swara (Bali Honey)

 

Banting setir profesi dari seorang profesional menjadi pengusaha dilakoni Ade F. Meyliala. Kini, mantan Direktur Operasional Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ini menjadi CEO PT Karya Nara Cipta, perusahaan yang didirikannya yang memproduksi madu murni bermerek Bali Honey.

Ade menceritakan perjalanannya menjadi pebisnis madu murni. Tiga tahun lalu, saat masih menjabat sebagai Direktur Operasional TMII, ia sempat jalan-jalan di Bali. Saat itu banyak yang menulis di media sosial bahwa madu lokal itu palsu. Tak mengherankan kalau banyak restoran dan kafe, termasuk di Bali, yang menggunakan madu impor. Bahkan di kota besar pun, banyak yang lebih percaya pada madu impor. Hal ini akibat banyaknya produsen madu lokal yang lebih mengejar kuantitas dengan cara mencampur madu dengan bahan lain. Ini menyebabkan kualitas madu lokal dianggap rendah.

Ade pun akhirnya tertarik untuk belajar tentang madu berkualitas ke Selandia Baru. “Saya lihat di sana musim bunganya hanya satu kali, tapi kok bisa mereka mendapatkan madu yang bagus. Sementara kita di Indonesia yang musim bunganya satu tahun dan punya banyak hutan malah tidak memiliki madu yang berkualitas,” katanya membandingkan.

Ia pun melakukan riset dan mendapatkan fakta bahwa kebutuhan madu nasional mencapai 300 ton per tahun. “Ini adalah peluang bagi saya. Saya membuat roadmap dan tanya-tanya soal lebah serta hutan mana yang cocok dijadikan peternakan lebah,” katanya mengenang. Menurutnya, ada banyak jenis lebah, salah satunya apis dorsata, lebah hutan yang liar. Lebah ini sangat jarang dan tidak bisa tinggal dalam boks, tetapi membangun sarangnya tidak tetap di pohon-pohon tinggi di hutan. Nah, hutan di Indonesia juga sudah mulai langka. Maka, sulit memberdayakan lebah jenis ini.

Ada pula lebah apis millifera, lebah asal Eropa yang digunakan untuk Bali Honey saat ini. Apis millifera adalah lebah sosial, penghasil madu yang disebut honeybees. Dia punya bentuk yang cantik dan harus diberi boks berisi papan. Lebah ini semuanya betina dan memiliki satu ratu per boks yang hidup maksimal selama tiga tahun dan hanya kawin satu kali. Ratu lebah ini bertelur setiap hari selama tiga tahun sebanyak 2.000 telur per hari dan dalam 21 hari sudah jadi lebah.

Untuk modal membangun bisnis dan melakukan riset, Ade merogoh kocek Rp 5 miliar.Saya melakukan riset selama satu tahun. Dana tersebut dipakai untuk membeli lahan dan alat produksi. Lahan di Bedugul, Bali, kami beli seluas 2.000 m2,” katanya.

Ade mengaku awalnya tidak tahu-menahu soal peternakan lebah, tetapi beruntung ia punya relasi yang merupakan ahli di bidang tersebut. Dan, ia pun belajar padanya soal peternakan lebah. “Jadi, saya merintis bisnis ini dari awal, dimulai dengan riset selama satu tahun,” ucapnya. Ia mempekerjakan para petani lebah sambil terus mengedukasi mereka tentang cara mengelola kebun sesuai dengan standar Bali Honey.

Ade juga merasakan pengalaman pahit. Saat melakukan riset pada 2017, ia mencoba beternak lebah di lima lokasi di Bali. Ternyata, lebah yang berhasil hidup hanya di satu lokasi. “Saat itu, kurang-lebih dana Rp 1,5 miliar habis,” ujarnya.

Bagaimana cara Ade menghasilkan madu berkualitas? “Kami punya mesin pemeras yang tidak menggunakan listrik. Kalau pakai listrik, takutnya kalau ada larva di dalam akan mati. Kami sangat memperhatikan hal ini karena tempatnya ini akan dipakai lagi. Kami hanya memeras cairan madunya. Pembentukan tempat madu oleh lebah mencapai 2,5 bulan, kurang-lebih dua generasi lebah pembangun. Satu ekor lebah hanya berumur 45 hari,” katanya panjang lebar.

Ade pun tidak menyarankan orang makan madu dalam sarangnya karena itu sama saja dengan menyiksa lebah.Vitamin dari madu akan ada setelah diperas. “Kami mengukur kandungan mineral, enzim, dan gula. Gula yang terkandung di dalam madu pun bukan gula jahat, tapi glukosa dan fruktosa buah,” katanya. Gula jahat dalam Bali Honey nilainya nol karena tidak dicampur apa pun alias murni madu.

Kelebihan Bali Honey lainnya adalah selain proses pemanenan madunya menggunakan mesin tanpa listrik, pihaknya juga mendiamkan nektar (sari bunga) selama 20 hari setelah ditutup, jadi lebih lama diproses lebah. Selain itu, pihaknya pun tidak memanen semua madu, hanya 60%. “Dalam satu boks ada delapan papan dan ada dua lantai per papan. Jadi, total ada 16 lantai. Kami hanya memanen 10. Sisanya digunakan untuk makanan lebah. Kami tidak pernah mau memberikan sirup sebagai makanan lebah. Produk lain terkadang memakai metode tersebut, makanya madu yang dihasilkan mengandung sukrosa,” paparnya.

Salah satu bukti bahwa madunya asli adalah rasa dan tampilanya yang beragam pada setiap musim panen. Karena, lebah tidak bisa menentukan bunga yang diambil di lapangan. “Kalau ada produk madu yang rasanya selalu sama, itu adalah produk olahan,” ucap Ade membandingkan. Produksi Bali Honey pun tidak banyak, karena pihaknya hanya memanen madunya 60%. Pola ini membuat kualitas madu jadi tinggi, meskipun kuantitasnya tidak banyak.

Berapa produksi Bali Honey per bulan? “Saat ini kami memiliki total 1.500 boks. Panen kami tidak setiap saat, jadi ada musim berbunga Juni. Juli, Agustus, September, dan Oktober. Kami tidak panen setiap bulan, lebah kami istirahat dulu selama tiga bulan. Saat itu kami memberikan vitamin lebah, memperbaiki papan, dan lain-lain,” ungkapnya.

Saat ini ada tiga lokasi tempat produksi madu Bali Honey. Di antaranya, ada di Bedugul, Bali, seluas 2.000 m2 dan di Jember, Jawa Timur. “Kami menghasilkan 3-4 ton per bulan dan akan terus meningkat setiap masa panen. Target kami akan mencapai 30 ton per bulan pada akhir tahun ini. Kami menempatkan peternakan di tengah hutan agar bisa leluasa mencari nektar dari bunga-bunga di hutan,” katanya.

Saat ini Bali Honey dibanderol Rp 275 ribu per 600 gram botol dan Rp 150 ribu per 290 gram. Target pasarnya adalah orang dan komunitas yang peduli kesehatan. “Setiap produksi, produk kami selalu terjual habis,” ujar Ade bangga.

Untuk memasarkan madu murninya, pihaknya lebih banyak menggunakan media sosial dan website. Selain itu, juga rajin mengedukasi komunitas-komunitas kesehatan. Pihaknya pun tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga kesempatan bagi mereka menjadi reseller Bali Honey. “Kami menjual kepada orang yang sudah kami edukasi sehingga kami tidak jual di toko-toko,” kata Ade menegaskan.

Apa rencana Bali Honey ke depan? “Kami ingin mencoba memanfaatkan Bee Pollen  (serbuk sari) menjadi produk lain. Bee Pollen  ini punya banyak manfaat untuk kesehatan,” ujarnya. Selain itu, pihaknya juga sedang membangun kebun di Kalimantan. Bicara soal ekspor, pihaknya sedang proses untuk mengirimkan produknya ke Timur Tengah dan China.

Kirez Effendi, pelanggan Bali Honey, mengaku puas dengan produk buatan Ade. “Saya dan keluarga sudah mengonsumsi Bali Honey sejak enam bulan lalu, November 2017,” ungkapnya. Kirez memilih Bali Honey karena produk ini produksi lokal, mempunyai lahan produksi yang jelas dan bisa kita tinjau, memiliki sertifikat dari Sucofindo, tidak mengandung gula tambahan, teksturnya tidak kental seperti gula yang di masak, 100% organik, rasanya enak, dan punya khasiat menyehatkan juga.

Saya juga punya klinik hewan. Madu bukan hanya bisa dikonsumsi oleh manusia saja tapi juga hewan,” kata Kirez. Hal yang membuat Bali Honey berbeda dari produk lain, salah satunya tidak ada efek samping pada hewan dan membuat bugar. “Sementara bila saya berikan madu lain pada hewan, efeknya bisa jadi diare,” ujarnya membandingkan.

Dede Suryadi dan Nisrina Salma

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)