Bisnis Dupa Perempuan Muda Bali

Direktur utama Kaori Group, Ni Kadek Winnie Kaori Intan Mahkota.

Belajar kewirausahaan dilakukan secara otodidak oleh Ni Kadek Winnie Kaori Intan Mahkota dengan menjual aneka aksesoris saat SMA. Momen itulah yang menjadi awal dirinya belajar berbisnis. 

Kegemarannya berbisnispun berkembang dan saat itu ia memiliki anak buah dan membuka toko kado bernama Cinta yang memiliki empat cabang di Bali. Sembari berkuliah, perempuan lulusan Akutansi & Bisnis, Universitas Udayana ini berusaha mengembangkan bisnisnya lebih luas lagi dengan memproduksi dupa. Di tahun 2010. 

“Hampir 80% penduduk Bali beragama Hindu, kebutuhan utama akan dupa sebagai alat sembahyang diperlukan. Selain itu, dupa dapat dipakai sebagai meditasi, relaksasi, dan souvenir,” ujarnya. Ide mejual dupa ini menjadi sarana bisnis di bawah perusahaannya yang bernama Kaori Group. 

Kebutuhan akan konsumsi dupa di Bali justru banyak didatangkan oleh pengusaha luar dan berasal dari luar Bali. Peluang yang sangat tinggi ini dilirik perempuan muda ini untuk menjadi pionir dupa lokal yang asli Bali. Bisnis yang ia jalankan sekaligus memberikan kesempatan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar, bahkan untuk disabilitas. Kaori Group berusaha menjalankan bisnisnya yang tak hanya mengejar profit semata, sesuai tagline-nya, love-trust-care.

Sebagai punggawa pada Kaori Group, Winnie berusaha menanamkan kejujuran dan tanggung jawab pada setiap karyawannya. Semangat dan kerja keras harus dimiliki oleh para karyawannya dan ia berusaha untuk senantiasa menggali potensi mereka. “Ada seorang tuna rungu yang kami pekerjakan untuk mengikat dupa. Dalam membuat dupa, energi postif harus dimiliki saat bekerja. Biasa kami awali dengan doa, meditasi untuk menyebarkan energi positif,” ungkapnya. 

Kaori Group mampu memproduksi 1-1,5 ton dupa kering yang dikirimkan ke supplier di Bali dan luar Bali. Hampir 30% produksinya diekspor ke China, Laos, Vietnam, dan India. “Kami juga mengekspor dupa herbal ke Eropa. Bahan-bahan yang digunakan adalah cendana, madu, dan serbuk kayu gaharu dengan cara handmade. Biasanya, produk ini dipakai untuk relaksasi,” jelas Duta Wisata Bali (Jegeg Bali) 2005 ini. 

Selain memproduksi dupa, ia juga memproduksi sovenir Bali sebagai perpanjangan usaha dupa. Untuk usaha sovenir, Kaori Group bekerjasama dengan oleh-oleh wisata di Bali untuk memasarkan produk lokal ciri khas Bali. Tahun 2012, juga dikembangkan usaha beras sehat tanpa pemutih dan pengawet. Edukasi juga dilakukan untuk menggalakan konsumsi beras sehat. “Kami tidak punya satu pabrik, tapi komunitas subak. Binaan kami di petani membuat kami jadi supplier beras yang menjaga kualitas,” tambahnya.  

Tak hanya itu, usaha air minum juga digarap Kaori Group dengan memilih sumber air di ketinggian 1200 Mdpl dan usaha fashion untuk kerajinan songket, udak, rangrang yang menjadi ciri khas Bali. Omzet Kaori Group terdiri dari 70% dari bisnis dupa, 20% beras sehat, dan 10% air minum. Untuk fashion, Kaori Group masih merintisnya. “Kami juga melakukan economic sharing di usaha vila, Kaori Group bergerak untuk bagian pemasaran,” ia menerangkan.

Tantangan yang dihadapinya dalam membangun Kaori Group adalah kesulitan mencari bahan baku. Hadirnya kompetitor dengan harga lebih murah juga menjadi tantangan, namun entrepreneur muda ini meyakinkan bahwa produksinya memliki kualitas yang jauh lebih baik dan sehat. “Tantangan harus dapat menjadi peluang, harus berpikir optimis dari tantangan yang ada. Kami mencari beberapa alternatif dan melakukan kerja sama untuk mengembangkan bisnis ini,” tutur  peraih Wirausaha Kreatif JCI 2016 ini. 

Kaori Group ingin produk lokal yang menjadi core bisnisnya dapat go international dengan kualitas yang bagus melalui wadah yang valid. Membentuk komunitas dan pelaku bisnis wanita di Bali diwujudkan untuk memperkuat bisnisnya. Kerja sama dengan Alibaba dilakukan untuk memberikan kesempatan produk pengajin lokal dijual pada skala internasional. 

“Membina hubungan baik dengan konsumen, meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi adalah cara bisnis ini bertahan. Kami juga memberikan pelayanan yang prima dan penuh cinta kasih serta meningkatkan kinerja SDM dan kesejahteraan karyawan sebagai bagian dari bisnis perusahaan,” ujar Winnie tentang budaya kerja Kaori Group.

 

Reportase: Nisrina Salma
www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!