Bisnis Jamur Tiram Meraup Puluhan Juta Rupiah

Pertanian menjadi bisnis yang memiliki peluang tinggi untuk dikembangkan. Berbagai bisnis pertanian mulai dari sektor hulu ke hilir menjadi ladang pendapatan bagi para entrepreneur. Seperti Growbox. Usaha yang berbasis pertanian ini didirikan 2,5 tahun yang lalu oleh 4 orang dari latar belakang pendidikan yang berbeda.

Robbi Zidna Ilman,  CEO Growbox  (Photo by Tiffany) Robbi Zidna Ilman, CEO Growbox (Photo by Tiffany)

Dimulai dari memenangkan perlombaan wirausaha yang diadakan sebuah bank, mereka meneruskan keinginan untuk membuat Growbox semakin berkembang. Berikut wawancara SWA Online dengan Robbi Zidna Ilman, salah satu CEO Growbox.

Bisa dijelaskan, Growbox itu produk yang seperti apa?

Growbox itu media tanam untuk jamur tiram. Dengan slogan Grow Your Own Food, kami mencoba menghasilkan jamur tiram yang dapat tumbuh di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Berbagai jenis jamur tiram dapat dibudidayakan, seperti tiram putih, tiram kuning, tiram biru, tiram coklat, dan tiram pink. Per box jamur kami menjual dengan harga Rp75 ribu.

Bagaimana ide awal sehingga tercetus Growbox?

Ide awalnya tercetus ketika kami berempat berkumpul setelah masing-masing lulus kuliah. Munculnya bahasan bahwa Indonesia itu negara agraris. Tapi sayangnya sektor pertanian di sini kurang berkembang, sedangkan konsumsi masyarakat semakin tinggi. Agribisnis justru tumbuh di Thailand.

Fenomena yang ada sekarang, petani rata-rata berusia 40 tahun ke atas. Karena yang muda mayoritas tidak mau terjun ke pertanian. Hal ini karena mereka menganggap pertanian kurang keren, dan banyak alasan lainnya. Oleh karena itu, Growbox kami buat dengan tujuan bagaimana agar dapat meningkatkan produk pertanian menjadi lebih baik. Kami ingin mengajak orang-orang untuk dapat menanam dimana saja, karena saat ini lahan sudah semakin sempit, dan sekarang urban farming sedang gencar. Dengan Growbox menanam menjadi lebih mudah dan menyenangkan.

Growbox sendiri hanya media tanam, lalu dari mana bibit jamur tiram tersebut didapatkan?

Untuk bibit kami mendapatkan dari petani jamur di Cianjur, Cisarua, dan Yogyakarta. Kami menyasar hingga Yogyakarta karena mayoritas petani hanya memiliki bibit tiram putih. Sedangkan kami juga mencari bibit tiram yang berwarna. Selain itu, mereka merupakan petani yang concern di jamur dan mau diajak bekerja sama dengan kita. Petani banyak yang sudah bisa mengembangkan jenis jamur, tapi mereka belum punya pasar. Nah kami berusaha menyediakan pasar tersebut. Kami bekerja sama dengan petani-petani itu dengan sistem beli putus. Petani mendapat harga yang lebih tinggi daripada harga di pasaran. Untuk harga pastinya, kami tidak dapat memberi dalam data angka pasti.

Setelah awal berdiri hingga saat ini, kendala apa yang dialami dalam mengembangkan usaha?

Kendala di awal pasti ada. Yang paling sulit adalah meyakinkan diri sendiri dan keluarga. Karena image orang kalau setelah lulus bekerja di jalur yang sesuai latar pendidikan. Tapi kami yakin dari SDM yang ada dan kami juga sudah sering bekerja sama saat masih kuliah, maka kami berani ambil keputusan untuk membuka bisnis sendiri. Apalagi sekarang banyak kompetisi bisnis yang bisa membantu para wirausaha pemula untuk terjun ke dunia bisnis.

Selain itu, kami mengalam hambatan dalam hal pemasaran. Saat pertama kali produk diluncurkan, masih belum banyak orang yang tahu tentang budidaya jamur. Mereka hanya tahu jamur kuping, dan jamur-jamur lain yang sering dijual di pasar. Kendala dalam media promosi juga sempat membuat kami sulit memasarkan produk ini. Tetapi saat ini, alhamdulillah media sudah banyak yang meliput, sehingga pemasaran kami juga sedikit banyak terbantu.

Masalah lain muncul ketika pemasaran mulai meluas, yaitu kendala produksi. Kami masih kesulitan untuk memenuhi permintaan pasar. Pernah suatu kali setelah diliput oleh salah satu stasiun TV, banyak yang langsung memesan, tapi stok sedang kosong. Oleh karena itu, kami terus mencari petani ke berbagai daerah sehingga dapat memenuhi kuantitas.

Strategi pemasaran apa yang dipakai? Lalu sampai awal tahun 2015, sudah melakukan pemasaran ke mana saja?

Growbox melakukan penjualan melalui website (online) dan offline dengan menitip di beberapa toko di mall Jakarta, salah satunya Pondok Indah Mall. Kontribusi pendapatan dari online lebih besar dari penjualan offline. Kira-kira dalam persentase 80 persen dari online dan 20 persen dari offline.

Sampai awal tahun ini kami sudah berhasil memasarkan hampir ke seluruh Indonesia. Penjualan terbesar di Kota Jakarta, Bandung, Surabaya. Sedangkan pasar luar negeri, sudah ada permintaan barang dari Singapura, Thailand, dan AS. Mereka sudah tertarik tapi kami masih bingung untuk peraturan ekspor. Ekspor tidak langsung, Jepang, dan beberapa kota Eropa.

Apa strategi bisnis yang dijalankan hingga bertahan sampai saat ini?

Kami menyebutnya Zero Waste Management. Artinya, kami mengolah kembali limbah serbuk kayu menjadi baglog, yaitu media tanam berupa kayu gelondongan. Setelah growbox tumbuh, sisanya ditaburkan ke tanah jadi tanaman lebih subur. bata, panel, dll.

Inovasi apa yang akan dilakukan untuk terus mengembangkan bisnis ini?

Saat ini kami lsedang melakukan riset bisa atau tidak serbuk kayu tersebut jadi bahan bangunan. Sekarang lagi tahap awal pembangunan rumah percontohan di Bandung. Belum bisa dipublikasi karena rilis akhir tahun ini. Dari limbah serbuk kayu itu bisa membuat bata dan panel.

Apa target dari bisnis ini ke depannya?

Ke depannya kami ingin menyasar ke anak-anak SD. Kami akan membuat Growbox model edukasi. Omset kami saat ini Rp20 juta-40 juta/bulan, sehingga target lainnya adalah meningkatkan penjualan dari yang sekarang hampir 500-1000 box/bulan, serta menghasilkan jamur varietas lain. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)