Bisnis Spa Para Putri Keraton Yogya

 

Putri Keraton Yogyakarta Putri Keraton Yogyakarta

Khazanah budaya keraton ternyata bisa menjadi inspirasi bisnis yang menarik. Itulah yang dibuktikan oleh lima perempuan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat: GKR Hemas dan keempat putrinya, GKR Pembayun, GKR Condro Kirono, GKR Maduretno, dan GKR Bendoro. Perempuan-perempuan Keraton ini sukses mendirikan bisnis jasa perawatan tubuh untuk kalangan menengah- atas, yang dinamakan Nurkadhatyan Spa –yang berarti cahaya dari keraton.

Tentu saja, permaisuri dan para putri Sri Sultan Hamengku Buwono X tersebut tidak menangani operasional bisnis ini secara langsung. Mereka menggandeng Worro H. Astuti. master terapi terkenal, untuk menjabat sebagai Direktur R&D. Worro menjadi satu-satunya pemilik usaha yang bukan berasal dari internal keluarga Sultan HB X. Adapun operasional sehari-hari diserahkan kepada para profesional.

Lokasi pelayanan yang digunakan adalah bangunan berupa gandhok yang merupakan bagian dari Pesanggrahan Ambarrukmo. Bangunan ini didirikan di era Sri Sultan HB V (1823-1855) dan menjadi singgasana Sri Sultan HB VII (1877-1921).

Saat ini, pesanggarahan tersebut telah berubah menjadi Mal Ambarrukmo Plaza dan Hotel Royal Ambarrukmo. Gandhok yang diapit dua bangunan komersial tersebut merupakan bagian pesanggrahan yang masih dipertahankan keberadaannya hingga kini. Di kompleks bangunan bersejarah yang masih tampak alami itulah, layanan perawatan tubuh ala putri keraton dijalankan. “Perawatan apa saja yang selama ini dijalani para putri Ndalem, kami berikan di sini,” kata Worro, yang juga salah seorang pendiri spa ini.

Selama ini pelanggannya tidak hanya tamu Royal Ambarrukmo, tetapi juga mereka yang sengaja datang ke sana. Karena tempatnya terbatas, saat ini yang bisa diterima maksimum baru belasan pelanggan per hari. “Tempatnya memang terbatas,” ujar Worro.

Worro menceritakan, ide mendirikan bisnis perawatan tubuh tersebut memang berasal dari para putri Keraton Yogya, atau tepatnya setelah pernikahan putri bungsu, GKR Bendoro. Ia mengaku sudah lama menjadi salah satu master spa yang merawat para putri Sultan HB X. “Setelah saya pensiun dari perusahaan saya bekerja, saya diajak untuk membuka Nurkadhatyan.” ujar perempuan kelahiran Magelang ini.

Menurut Dani, Direktur operasional Nurkadhatyan Spa, spa besutan para putri Keraton itu sebenarnya sudah ada sejak lima tahun silam. Awalnya, bisnis tersebut hanya membuka layanan kamar di Royal Ambarrukmo untuk melayani tamu yang membutuhkan layanan spa. Namun, seiring waktu, ternyata banyak tamu yang memberi masukan agar Nurkadhatyan membuka pelayanan di luar hotel. Setelah berembuk, para putri Keraton akhirnya mewujudkan ide tersebut. “Selama tiga tahun, spa ini telah terbuka untuk umum,” ungkapnya.

Untuk sekali perawatan, pelanggan harus mengeluarkan Rp 2,5 juta-9,9 juta, tergantung pada jenis terapi spa yang dipilih. Perawatan yang termahal bila pelanggan menghendaki dirawat langsung oleh master spa, dengan tarif mencapai Rp 9 juta lebih. Selain itu, untuk mendapatlkan perawatan dari master spa, harus ada perjanjian terlebih dulu.

Dani menceritakan, sebenarnya sudah banyak permintaan untuk membuka cabang di kota lain dengan cara waralaba. Namun, para pemilik memutuskan tidak melayani pembukaan cabang. Hal ini sesuai dengan misi mereka untuk menjadikan pelayanan perawatan tubuh ala putri keraton tersebut hanya bisa didapatkan di Kota Yogyakarta. Mereka berharap Nurkaddhatyan Spa akan menjadi salah satu ikon Yogya di bidang perawatan tubuh. “Jadi, kalau ingin perawatan, monggo datang ke Jogja,” tutur Dani.

Meski secara bisnis menguntungkan, menurut Worro, pendirian Nurkadhatyan Spa tidak semata-mata melihat dari sisi bisnis. Ada idealismenya, yakni melestarikan budaya perawatan tubuh ala Jawa kuno. (*)

Reportase: Gigin W. Utomo

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)