Bumi Langit, Pengembaraan Rasa Iskandar Woworuntu

Pencarian bertahun-tahun Iskandar Woworuntu berujung di Bumi Langit.

Iskandar Woworuntu, pendiri Resto Bumi Langit Iskandar Woworuntu, pendiri Resto Bumi Langit

Sebuah tempat di kawasan Imogiri, tepatnya di lereng bukit Mangunan, Dlingo, Bantul, inilah pria keturunan Inggris pada mulanya mengembangkan metode permakultur. Yaitu kegiatan pertanian berkelanjutan dengan menggabungkan seluruh disiplin ilmu menjadi satu sistem terpadu. Bahasa sederhananya, Iskandar memaksimalkan fungsi alam tanpa merusak alam.

Tak hanya kegiatan pertanian yang dijalankan lewat Bumi Langit Institut. Tahun 2014 ia mengembangkan resto Bumi Langit yang beberapa bulan lalu heboh dibicarakan media karena sempat dikunjungi Barack Obama, mantan presiden Amerika yang sedang berlibur ke Yogyakarta awal Mei lalu

Sesungguhnya keterlibatan Iskandar di dunia pelestarian alam bukan baru kemarin sore. Ia telah menjadi aktivis lingkungan sejak lama, yaitu sejak masih aktif di Bengkel Theater tahun 70an. Iskandar mengaku mendapat gemblengan dari almarhum WS Rendra ini, termasuk salah satu yang memiliki konsep kemandirian bagi para pemain teater. “Kami tidak mau hanya tergantung job pentas, di luar kegiatan teater kami harus punya dasar ekonomi yang kuat,” tandas pria yang selalu tampil bersarung ini.

Itu sebabnya, dari dulu Iskandar sudah bergiat melakukan pemberdayaan masyarakat di bidang keadilan sosial dan lingkungan. Iskandar termasuk salah satu pelopor munculnya kerajinan tas kulit di Kasongan. Bisnis kulitnya berkembang cukup bagus, namun tahun 1980-an, ia memutuskan untuk transmigrasi ke Bengkulu. Ia tidak sendirian, tapi ramai-ramai dengan rekan artis Bengkel teater dan warga Kasongan untuk mengeluti dunia pertanian. Di Bengkulu inilah ia menemukan jodoh pendamping hidupnya.

Selama di Bengkulu, Iskandar bersama komunitasnya masuk ke hutan yang dibilang masih perawan untuk disulap menjadi lahan pertanian. Mereka juga menyiapkan aliran irigasi untuk menjamin pasokan air. Namun tidak semua anggota komunitasnya bisa bertahan. Satu-satu teman dari Bengkel Theater mengeluh tidak tahan dan akhirnya pulang kampung ke Jogja.

Area yang dikembangkan Iskandar dan kawan-kawan berkembang cukup bagus. Namun, karena sesuatu hal yang berkaitan dengan benturan budaya, Iskandar akhirnya juga memutuskan untuk pindah dari Bengkulu. Ia memutuskan ke Bali, tepatnya di kawasan Tabanan. Ia membeli lahan di pegunungan dan mulai menekuni pertanian organik. “Kami mulai mengembangkan vermaculture di Bali,” ungkapnya.

Pencarian Iskandar belum usai. Dari Bali, Iskandar memutuskan pindah ke Jogja, dan akhirnya menemukan tempat di Mangunan yang kini di tempatinya. Ia menemukan lokasi itu secara tidak sengaja. Ia memilih karena lingkungannya yang masih mirip dengan suasana pedesaan di Gunungkidul, dan tidak jauh dari kota Jogja untuk akses pendidikan bagi anak-anaknya.

Kini, dengan bendera Bumi Langit, Iskandar mengelola lahan seluas 3 hektar. Di tempat inilah, pengembaraan itu ia wujudkan dengan mempraktekan permakultur. Sebuah konsep pertanian terpadu yang memadukan, pertanian, peternakan, dan perikanan. Dalam mengolah sawah ia tidak menggunakan bahan-bahan kimia, tapi hanya memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan.

Sebagai sumber air, ia menggali sumur sedalam 150 meter. Untuk mengangkat air dari kedalaman tersebut, pada mulanya, ia menggunakan listrik pasokan dari PLN, tapi beberapa tahun belakangan ini, mulai memanfaatkan tenaga surya. “Kami ganti dengan tenaga surya karena tidak merusak lingkungan,” tandasnya.

Pendeknya, Iskandar lama-lama menjadi kampiun dalam konsep permakultur. Kemampuannya diakui sangat luas. Bentuk pengakuan itu, bisa dilihat dari banyaknya tamu dari berbagai kota di Indonesia yang ingin belajar langsung kepadanya. Melalui Bumi Langit Institut, Iskandar mengajarkan tentang konsep permakultur tak hanya teori tapi juga praktek.

Menurut Iskandar, untuk mengenal seluk beluk tentang permakultur, dibutuhkan waktu minimal selama seminggu. Para peserta kurus harus life in karena semua fasilitas dari makan hingga tidur sudah tersedia lengkap. Untuk mendapatkan ilmu lengkap dengan sertifikatnya, setidaknya harus membayar Rp 9 jutaan. Tapi tidak semua diwajibkan membayar karena ada sebagian yang diberi fasilitas gratis. “Kami memberikan kuota untuk pesantren belajar gratis di sini,” ungkapnya.

Nah, resto Bumi Langit sebenarnya lahir tanpa disengaja. Restoran ini hadir dari gagasan para tamu yang sering datang berkunjung dan belajar permakultur. Karena sering disiapkan makanan, lama-lama mereka merasa tidak enak makan gratis. “Jadilah kami buat rumah makan agar tamu-tamu bebas datang dan makan,” cerita Iskandar yang menunjuk sang istri menjadi kokinya. Dan dengan adanya resto, hasil pertanian dan peternakan permakultur Bumi Langit Institut pun dapat dikonsumsi masyarakat luas.

Bagi Iskandar Woworuntu, kehadiran Barack Oebama dan rombongan merupakan berkah tersendiri. Paska kunjungan yang mendapat liputan luas di berbagai media tersebut membuat Bumi Langit Rsto sempat menjadi trending topic. Dan tentu saja, makin banyak yang penasaran untuk datang ke sana. Mereka umumnya penasaran dengan suasana restoran dan menu yang disajikan. “Alhamdulillah makin ramai, terutama saat liburan atau akhir pekan,” ujar bapak lima anak tersebut.

Iskandar juga bersyukur, resto yang didirikannnya 3 tahun lalu kini telah menjadi resto favorit. Walau lokasinya jauh dari kota, tapi nyaris tidak pernah sepi. “Alhamdulliah sejak dirikan tiga tahun lalu terus berkembang, makin banyak orang mengenal dan menjadi pelanggan setia,” ungkap mantan pemain bengkel Theater asuhan almarhum WS Rendra ini.

Iskandar mengakui, yang menjadikan restoran ini menarik dikunjungi adalah bahan-bahan organik yang digunakan. Meski tidak semua produk yang dijual merupakan produk sendiri, tapi Iskandar menjamin semuanya berasal dari bahan organik yang bebas pestisida dan obat kimia. Ia menegaskan, meski menu yang ditawarkan, sebenarnya bisa dibilang biasa, mulai dari Nasi Campur, Nasi Goreng Kecombrang dengan Petai dan Teri, juga aneka camilan seperti Roti Desa Panggang dan Pisang Goreng, tapi karena bahan bakunya organik, terasa berbeda nilainya. Dan untuk mensuplai kebutuhan restonya, Iskandar bekerja sama dengan kelompok tani di Jogja dan Malang. “ Terus terang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan apalagi musim kemarau seperti ini,” tandasnya.

Selain mengelola Bumi Langit di Bantul, Iskandar juga memiliki usaha pertanian dan kafe di Bali yang dikelola anak sulungnya. Pertanian organikmya yang di Bali lebih besar dibandingkan dengan yang di Jogja. “Kami mensuplai untuk kebutuhan sendiri, kalau berlebih baru disuplai untuk restoran lain,” kata Iskandar. (Reportase: Gigin W. Utomo)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)