Cerita Andi Wijaya Merintis Prodia

Nama Prodia sangat lekat dengan sosok Andi Wijaya. Bagaimana tidak,p ria kelahiran 2 Juli 1963 ini merupakan orang yang berjasa meletakkan pondasi di Prodia hingga saat ini bisa menjadi sebuah laboratorium terbesar di Indonesia.

Singkat cerita, pada tahun 1973 ia dan bersama tiga temannya, Gunawan Prawiro, Hamdono Widjojo, dan Singgih Hidayat, bersepakat membuat sebuah labolatorium klinik di Solo. Inspirasi membuat laboratorium ini muncul lantaran pada tahun 1972, Hetty Lestari, isteri dari Gunawan hendak melahirkan dan membutuhkan penanganan khusus, karena mengalami plasenta previa yang mengharuskan Hetty melahirkan dengan operasi caesar.

Lucunya ketika itu belum ada Palang Merah Indonesia (PMI) dan Bank Darah di Solo. Sang dokter memberitahu Gunawan untuk menyiapkan pendonor darah, kalau-kalau nanti dibutuhkan. Saat itu diketahui Hetty bergolongan darah O. Dari hasil pemeriksaan laboratorium , rumah sakit menyatakan Andi, Gunawan, Hamdono bergolongan darah O sehingga cocok memberikan darahnya. “Ini aneh sekali, karena jelas jelas golongan darah saya B bukan O, begitu juga Hamdono yang golongan darahnya AB bukan O” cerita Andi.

Ia tak habis pikir bagaimana pemeriksaan darah yang sesederhana itu bisa terjadi kesalahan. Dengan kesal ia kemudian mendatangi dokter tersebut dan terkejut dengan jawaban yang diberikan sang dokter. Bukan malah meminta maaf, dokter tersebut malah menantang Andi dan kawan-kawan untuk membuka laboratorium klinik. “Kamu buka laboratorium klinik saja, kamu kan dosen kimia klinik, kamu ahlinya,” ungkap Andi menirukan ucapan sang dokter.

Perkataan dokter tersebutlah yang akhirnya memantik api di dalam diri Andi. Dia bersama ketiga sahabatnya bersepakat membuka laboratorium klinik, dan masing-masing mengumpulkan uang sebesar Rp 45.000 untuk menyewa sebuah paviliun kecil di jalan Pasar Nongko 83, Solo.

Kebetulan juga, kampus tempat di mana Andi dan Gunawan mengajar sedang dalam kebangkrutan, dan tidak bisa membayar gaji plus kompensasi yang selama ini tertunggak. Sebagai balasannya, Andi dan kawan-kawan diperbolehkan membawa pulang barang-barang milik kampus. “Saya memilih mikroskop sedangkan Gunawan memilih pipet dan tabung gelas,” ucapnya mengenang.

Sebagai Sarjana Teknik, Singgih kemudian membantu mengelas, membuatkan perkakas dan membetulkan Centrifuge hingga kembali bisa berfungsi, setelah beberapa bagiannya rusak. Maklum saja, Centrifuge itu, Andi ceritakan dibeli di pasar loak. “Katika itu semua yang dibutuhkan sudah siap, kecuali satu, yaitu Fotometer,” ungkapnya.

Fotometer sendiri dijelaskan oleh Andi, berfungsi untuk mengukur intensitas atau kekuatan cahaya dalam sebuah larutan. Laboratorium membutuhkan alat iniuntuk menentukan kadar suatu bahan di dalam cairan tubuh manusia seperti serum atau plasama.

“Tidak mudah menemukan alat ini,” ceritanya. Selain harganya mahal, belum adanya distributor alat kesehatan di Solo, menjadi tantangan tersendiri. “Dari iklan saya membaca ada perusahaan distributor di Jakarta yang jual seharga Rp 230.000,” ujarnya. Tanpa pikir panjang Andi kemudian mendatangi teman kuliahnya di ITB untuk meminjam uang.

Sejak saat itulah perjalanan Prodia sebagai laboratorium klinik dimulai dengan hanya dua orang karyawan Supinah dan Sri Hadiyanti. Supinah berprofesi sebagai perawat senior. Keahliannya dalam mengambil sample darah membuat Andi tertarik merekrutnya. “Kalau Sri Hadiyanti, atau titiek itu mahasiswa sekaligus asisten Gunawan di kampus,” ujarnya.

Dua orang karyawan itulah, yang menurut Andi menjadi dua ujung tombak pertama kali Prodia diluncurkan. Di bulan pertama, dari lima orang tetangga yang melakukan pemeriksaan didapatkan omset Rp 37.500. Angka ini tentunya belum mampu menutup biaya operasional dan gaji yang bisa menembus Rp 50.000. “Waktu itu saya bilang, omsetnya buat gaji Supinah dulu ya, karena kalau kami kan bujang-bujang, sedangkan dia sudah berkeluarga,” ungkapnya.

Keadaan yang masih serba kekurangan itu toh tak menyurutkan keempat sekawan tersebut. Mereka semua tetap gigih mengembangkan Prodia hingga bisa mencapai kesuksesannya. Mereka mendatangai satu per satu dokter di Solo dan meminta para dokter untuk merujuk pemeriksaan pasien, di laboratorium Prodia. “Dan ini membuahkan hasil, sebagian dokter mempercayakan kami, karena kualitas kami dalam memberikan diagnosis lebih baik,” ceritanya.

Dari rumah sederhana di Jalan Pasar Nongko 83 Solo, Prodia kini telah bertransformasi lebih jauh dalam empat dekade belakangan ini. Kini Prodia telah menjadi perusahaan yang berpenghasilan lebih dari Rp1 triliun per tahun dan menghidupi ribuan karyawan dengan 2.000.000 pelanggan di 30 provinsi.

Membesarkan Prodia dengan Filosofi Bebek

Bebek bisa jadi hanya binatang biasa bagi kebanyakan orang, sehingga jarang para tokoh sukes yang mengambil inspirasi hidup dari unggas yang memiliki kebiasaan berenang tersebut.Umumnya unggas yang dijadikan inpirasi adalah burung elang, rajawali atau ayam jantan karena kegagahan dan ketangguhannya, namun hal itu berbeda dengan seorang ilmuwan dan pengusaha sukses dalam industri laboratorium medis, Andi Wijaya yang menjadikan bebek sebagai filosofi kemimpinannya dalam menjalankan usaha.

Sejak usia 11 tahun, Andi sudah membantu orang tuanya dengan mengangon bebek hingga 1,5 tahun lamanya.Waktu kecil, setiap pukul 15.00 putra pertama dari delapan bersaudara itu mulai giring bebek ke sawah-sawah. Selama 1,5 tahun dia ngangon atau menggembala bebek. “Saya jadi memperhatikan tingkah laku bebek, dan ternyata mereka disiplin,” ujarnya.

Tanpa diperintah bebek-bebek akan bangun pagi dan baris untuk menuju sawah dan ketika pulang dia sudah paham di mana kandangnya. Demikian pula, bebek itu adalah binatang yang solidaritasnya tinggi. Jika satu kelompok temannya belum ada, mereka tidak akan pulang ke kandang. Yang menarik lagi, rombongan bebek itu selalu berganti pemimpin di depannya. Tidak bebek yang itu-itu saja yang memimpin rombongan baris.

Setiap Sabtu dan Minggu selama 1,5 tahun, Andi angon bebek di Kali Garang, Ungaran, Jawa Tengah. “Saya dapat pelajaran banyak dari falsafah bebek. Bebek itu rukun, produktif, saling melindungi, sabar, dan menjaga kepentingan bersama,” ujar Andi.

Wajar saja jika kemudian Prodia tumbuh menjadi sebuah perusahan yang kental dengan semangat kekeluargaan dan berhasi membuat profesional tidak canggung. Regenerasi kepemimpinan di Prodia dipegang oleh kalangan-kalangan profesional. Para pendiri sejak awal menganggap karyawan Prodia merupakan keluarga yang harus dilindungi. Budaya kekeluargaan ini mengikis jarak antara atasan dan bawahan. “Tidak ada putra mahkota di Prodia,” dia menegaskan.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Visi Bruno Zysman Mendirikan GoToMalls.com

Sejak tahun 1998, Bruno Zysman sudah merasakan berkarier di Indonesia. Pada saat itu ia bertindak sebagai CEO Datagram, sebuah perusahaan...

Close